Rabu, 12 April 2017

Beberapa Hari Sebelum

Anakku,
Engkau yang bertumbuh dalam rahim ibu dalam keterbatasan (maaf ya) sudah harus merasakan kerasnya ikut bekerja tanpa mengenal jam. Engkau yang seharusnya selalu mendapat waktu yang cukup untuk sekedar bermanja-manja terjeda oleh kesibukan ibumu yang menyita dari pagi  buta hingga gelap merayap. Tapi Engkau tak terlalu banyak menuntut.

Anakku Si Rasi Bintang,
ketika nanti Engkau lahir, Engkau akan tahu bahwa dunia tidak selalu hangat seperti ketika di perut ibu. Engkau akan belajar bermacam-macam rasa mulai dari dingin, panas, kecewa, senang, bangga, dan bahagia. Engkaupun akan dikenalkan dengan berbagai tuntutan dan harapan yang kadang tak berimbang.  Dan kaupun harus pandai memilah mana yang kau sukai dan yang kau inginkan. Dan ayah maupun ibu tak akan pernah memaksa dimanapun kau akan melabuhkan mimpimu.

Nak,
orang tuamu bukan orang kaya yang memiliki banyak cadangan harta. Ibu juga tidak terlalu cantik untuk kau sebut sebagai bidadari. Ibu masih banyak belajar ini dan itu untuk menyambut kehadiranmu. Ayahmu juga bukan seorang yang memiliki banyak jabatan seperti kebanyakan tapi kamu tak boleh lupa tak pernah sekalipun dia absen untuk mengantarmu sejak pertama kali Tuhan menitipkanmu di perut ibu. Dan ibupun masih memegang janji untuk mendidikmu dengan segala hal terbaik yang ibu miliki seperti janji ibu sebelum menikah dengan ayahmu.

Tahukah Engkau sudah sejak lama ibu menantikan kehadiranmu. Tumbuhlah Engkau jadi anak yang kuat dan tegar dalam banyak keadaan. Jangan gampang cengeng saat merasa kekurangan. Jangan mudah sombong ketika memiliki kelebihan. Jangan pula Engkau lemah saat lingkungan kurang mendukung upayamu. Perlakukanlah sekitarmu dengan penuh kasih, jangan mudah marah, jangan mudah putus asa, dan tetap peluklah mereka-mereka yang mengabaikanmu dengan ramah.

Salam sayang,
Ibu



Selasa, 04 April 2017

Seikat Cerita dari Bukit Amaris


Sebagai salah satu destinasi yang terbilang baru sejak kemunculannya tahun 2015 di Gunungkidul, Kosa Kosa (Bukit Amaris) semakin diminati masyarakat. Hal ini terbukti dari tingginya animo masyarakat yang berkunjung ke bukit ini, terutama kaum pelancong muda. Sebenarnya Kosa Kora itu letaknya dimana? dan mengapa begitu diminati? Mari kita simak ulasan berikut.

Kosa kora merupakan salah satu bukit yang terletak di Pantai Drini. Di sekitar pantai kalian akan menemukan petunjuk arah yang menunjukkan lokasi Kosa Kora. Sebenarnya jalur menuju bukit ini dapat ditempuh dari berbagai arah, baik melalui Pantai Drini naik ke timur maupun melewati jalur khusus menuju Kosa Kora.

Untuk menikmati keindahan pemandangan alam dari atas Bukit Kosa Kora setiap pengunjung harus membayar Rp. 2.000/orang sebagai tanda retribusi kebersihan. Hati-hati ya, tangga naik menuju bukit ini cukup tinggi. Selain itu, medan yang dilalui cukup terjal sehingga pengunjung perlu ekstra hati-hati. Bongkahan batu dan kemiringan medan yang cukup ekstrim menjadikan rute menuju Bukit Kosa Kora semakin menantang. Akan tetapi, trek alam semacam inilah yang saat ini digilai oleh anak muda. Sebagai generasi millenia sebagian besar dari mereka adalah penyuka tantangan dan pencari sesuatu yang baru dan bukit yang masih perawan ini merupakan salah satu jawabannya.

Di kiri-kanan jalan menuju Bukit Kosa Kora, pengunjung akan melihat tulisan Amarie hill/private hill. Tulisan inipun memiliki sejarah tersendiri. Bukit Kosa Kora sebenarnya merupakan tanah Sultan Ground (SG). Bukit yang memiliki luas tidak lebih dari seperempat lapangan sepak bola ini terbagi dalam 2 kepemilikan. Selain Sultan Ground di bagian selatan, bukit ini sudah dibeli oleh insvestor yang bernama Nyonya Amarie. Bahkan, jalan menuju tepian Kosa Kora melewati lahan Nyonya Amarie. Bukit Kosa Kora awalnya dimiliki oleh keluarga Mbah Jiyem. Kemudian, lahan yang terdiri dari 3 gunung ini dijual kepada Nyonya Amarie sebesar Rp 50.000.000 pada tahun 2005. Sejak saat itu kepemilikan lahan inipun berpindah dari keluarga Mbah Jiyem ke Nyonya Amarie. Akan tetapi, hingga saat ini Mbah Jiyem diberi kepercayaan oleh pemilik lahan untuk mengelola lokasi tersebut. Seiring berjalannya waktu dan banyaknya pengunjung yang berminat berwisata ke tempat ini membuat Mbah Jiyem terdorong untuk berjualan makanan dan minuman di atas bukit tersebut. Konflikpun muncul. Masyarakat setempat yang melihat frekuensi pengunjung yang meningkat dari waktu ke waktu tidak mau berpangku tangan. Merekapun membentuk Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) untuk meng-handle pengunjung yang menikmati keindahan Bukit Kosa Kora. Kelompok inipun sering kali beradu argumen dengan Mbah Jiyem. Apalagi alasannya kalau bukan kepentingan perut/ekonomi. Kelompok ini merasa memiliki hak atas wilayah Kosa Kora sebagai lahan Sultan Ground yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

Sementara di sisi lain Mbah Jiyem yang diberi kepercayaan untuk mengelola lahan tersebut tetap keukeuh untuk berjualan di bukit tersebut. Bahkan, jika malam minggu/hari libur Mbah Jiyem beserta suami dan anaknya akan menginap di atas bukit tersebut karena banyak pengunung yang melakukan camping. Seringkali Mbah Jiyem dan anaknya diisengi oleh oknum-oknum warga yang tidak menyukai keberadaan Mbah Jiyem di Kosa Kora. Beberapa cara yang dilakukan oleh warga seperti mendiskriminasikan Mbah Jiyem dengan tidak mengundang saat rapat Pokdarwis, mencuri dagangan Mbah Jiyem, merusak tempat dagangan, mengotori lingkungan tempat jualan maupun mempengaruhi pengunjung agar tidak membeli makanan/minuman ke Mbah Jiyem. Teror ini sudah berlangsung hampir 2 tahun akan tetapi Mbah Jiyem tetap konsisten untuk berjualan di lokasi tersebut.


Fenomena pemenuhan kebutuhan perut dengan menggasak ruang lingkup/hak orang lain sudah biasa terjadi dalam kehidupan masyarakat saat ini. Konflik yang hampir serupa juga pernah terjadi di Goa Pindul yang menghebohkan publik beberapa waktu yang lalu. Pemerintah dan masyarakat selayaknya dapat membangun sinergi yang positif guna menjaga alur destinasi agar tetap ramah publik tetapi tidak mengurangi eksistensi masyarakat dalam memperoleh pendapatan (diskriminasi ekonomi). Sikap egosentris masyarakat pun perlu disoroti lebih mendalam agar tidak menimbulkan gontokan-gontokan yang dapat memecah-belah masyarakat itu sendiri. Selain itu, sebagai masyarakat baru yang saat ini ibaratnya digojlok secara instan untuk menyapa para pecinta wisata memang memerlukan kesiapan ekstra. Lagi-lagi masyarakat dan pemerintah ditantang untuk selalu berubah dan berbenah menghadapi perubahan yang semakin cepat dari waktu ke waktu. Gunungkidul yang saat ini menjadi primadona pariwisata di Yogyakarta memang sedang menjadi soroton publik (hits) sehingga perlu disikapi secara lebih arif dengan konsep perencaan dan pengembangan yang lebih matang terutama dari segi SDM-nya. Itulah sekelumit reportase yang tertunda sejak 2015 yang lalu. Harapannya, pariwisata Gunungkidul ke depan dapat dijadikan sebagai salah satu ajang destinasi wisata ramah publik yang berequivalensi dengan pendapatan masyarakat sehingga kesejahteraan masyarakat pun meningkat.

Minggu, 02 April 2017

Awal Mula Kegiatan BnS (Bali nang Sekolah)

Menjadi pengangguran bukan pilihan yang baik. Terlebih bagi orang-orang yang terbiasa aktif dalam berbagai kegiatan. Rasa bosan, khawatir, dan takut menjadi momok bagi para jobless dan inipun yang hinggap padaku di akhir tahun 2015. Hampir 3 bulan aku menvakumkan diri dari dunia kerja. Bukan hal yang mudah memang karena akupun belum memiliki cadangan pekerjaan. Di sisi lain, ego dan geliat hati lebih mendominasi hingga kata resign menjadi pilihan.

Pada awal status baruku banyak hal yang terjadi. Aku merasakan gelora alam dan pengalaman-pengalaman yang tidak aku dapatkan sebelumnya. Jaringan pertemanan yang semakin kompleks, waktu berkumpul denagn keluarga dan teman-teman yang begitu panjang, trip kecil-kecilan yang tidak terpaut waktu dan masih banyak lagi. Ibarat burung, baru merasa benar-benar mengepakkan sayap di udara bebas. Lega... luar biasa!!! Hal ini tidak terlepas dari tuntutan empat tahun berturut-turut harus bekerja ekstra keras dan full time agar kuliahku selesai. Terima kasih Tuhan, semuanya kini telah selesai sesuai target.

Setelah menikmati masa-masa pembebasan (menurutku), kekhawatiran baru sebagai orang vakumpun muncul. Aku mulai merasakan bosan menyandang gelar pengangguran meski bukan pengangguran murni karena tetap banyak agenda yang menuntut kesiapan fisikku hadir disitu. Bagiku, tetap saja sangat pelik berdiam diri tanpa kegiatan. Akhirnya terlintas, "Bagaimana caranya agar proses pengangguranku bermanfaat bagi orang lain?". Tekadpun muncul. Harus berbuat sesuatu yang minim dana dan tetap bernilai guna. Akhirnya muncullah ide untuk mengumpulkan baju pantas pakai yang dapat disumbangkan ke berbagai panti asuhan atau masyarakat yang membutuhkan. Teman-temanpun kuhubungi via perspersonal message dan tidak disangka dalam waktu 1 jam gayungpun bersambut. Banyak teman-teman yang bersedia ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Dari sini aku menemukan sebuah kenyataan bahwa rasa kepedulian itu sebenarnya tersemai di banyak pihak hanya belum bertemu pada wadah yang tepat. 

Harapanku sih sederhana kegiatan donasi bersama ini selain meningkatkan rasa empati juga dapat memberikan kontribusi positif bagi para penerimanya. Selain baju-baju pantas pakai, beberapa teman berkontribusi dalam rupiah. Hal inilah yang akhirnya mendorong untuk melakukan kegiatan tambahan dalam bentuk bazar untuk masyarakat dan PAUS (Pendidikan Anak Usia sekolah) yang diwadahi dalam komunitas BnS (Bali nang Sekolah) yang bertendensi pada pendidikan karakter anak dan pemberdayaan perempuan. Alhamdulillahnya lagi kegiatan BnS sudah berjalan hampir 2 tahun. Sekali lagi ini membuktikan bahwa persaudaraan tidak harus selalu dibangun dari kata "sedarah".

Akhir kata bagi semua pihak yang telah berpartisipasi dalam event sosial ini terimakasih banyaaaaaaaaaaaaaakkkkk karena kalian telah peduli dan berempati. Tak ada kata lain selain semoga semangat berbagi ini dapat semakin mengeratkan kekeluargaan dalam bentuk tali kasih yang nyata kepada sesama.

Jumat, 10 Maret 2017

Fungsi Iman Dalam Hak Asasi Manusia (Bagian 4)

Pada zaman dahulu pelanggaran hak-hak kemanusiaan dilakukan berkisar pada perbudakan atau diskriminasi rasial sedangkan saat ini pelanggaran hak asasi manusia lebih bersifat sistemik dan terstruktur.Banyaknya kasus pelanggaran ini mengindikasikan terdapat sistem yang tersumbat yang mengakibatkan sistem tersebut tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya dalam pelaksanaan kewajiban kepada masyarakat.Oleh karena itu, setiap eleman bangsa wajib memiliki kesadaran diri dan benteng iman yang kuat guna mengatasi berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan hak hidup yang paling hakiki tersebut.

Pergolakan berkaitan dengan hak asasi manusia hanya dapat diatasi apabila terdapat sinergi yang jelas dan berkesinambungan dari berbagai sektor baik itu dari pihak pemerintah, masyarakat secara umum, dan kesadaran individu sendiri secara khusus.Meskipun begitu, perlu diingat bahwa terlaksananya pengakuan hak-hak kemanusiaan (kebebasan) yang baik harus diimbangi dengan pelaksanaan kewajiban yang termaktub dalam ketaatan terhadap peraturan yang berlaku. Hal ini nantinya akan melahirkan sebuah komitmen yang dinamakan tanggung jawab. Oleh karena itu, penting adanya sebuah wadah atau jaringan yang luas dan dikoordinasikan sebaik mungkin agar perwujudan cita-cita hak asasi manusia di muka bumi ini memiliki pijakan dan arah yang jelas.

Pengoptimalan peran tokoh intelektual seperti kalangan akademisi baik dosen maupun mahasiswa menjadi tonggak penting bagi lahirnya penyadaran hak asasi manusia yang mantap di lingkungan kampus.Hal ini didasari kenyataan bahwa kampus merupakan salah satu wadah yang representatif dalam menyemaikan nilai-nilai kebaikan dan perspektif yang luas berkaitan dengan hak-hak kemanusiaan.Oleh karena itu, sudah selayaknya kampus-kampus baik negeri maupun swasta dapat menjadi agen of change bagi perubahan peradaban bangsa yang lebih memanusiakan manusia.Langit universitas bukan sekedar sarana untuk menyemai teori-teori tanpa aplikasi.

Implikasinya, universitas harus menjadi laboratorium kemanusiaan yang nantinya akan membidani lahirnya generasi-generasi yang lebih menyadari makna pentingnya hak asasi. Seluruh komponen civitas akademika harus dapat mendorong dan mengakomodasi kepentingan hak asasi manusia sebagai jembatan untuk menuju masyarakat Indonesia pada khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya menjadi komunitas yang berkeadilan secara utuh dan menyeluruh.

Langkah solutif pertama yang dapat dilakukan guna mendukung pengoptimalan peran tersebut adalah penyadaran akan arti penting hak asasi yang dapat dilakukan secara intern maupun ekstern. Penyadaran secara intern dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas iman dan memperkaya pengetahuan tentang hak asasi manusia.Tindakan ekstern dapat dilakukan dengan mendukung upaya pihak-pihak yang berwenang dalam penegakan hak asasi manusia dalam lingkup skala kecil maupun skala yang lebih luas.

Selain itu, basis-basis kekuatan yang bersumber dari agama, seni, kebudayaan, dan sosial dapat digunakan sebagai sarana untuk merekatkan sekaligus meningkatkan penghargaan terhadap hak asasi manusia.Selain beberapa langkah di atas, saya kira sangat perlu adanya pengawasan pihak-pihak yang memiliki kewenangan untuk mengatur sirkulasi tentang paham kemanusiaan.Dalam hal ini, setiap warga negara harus mendukung upaya pemerintah yang disokong oleh kekuatan pertahanan dan ketahanan (polisi dan TNI) negara demi bergulirnya tindakan advokasi yang positif dan konstruktif.Upaya-upaya responsif ini tentu harus disertai juga oleh tegaknyapayung lembaga negara yang bersih dan berkuatan hukum tetap dalam membela hak-hak masyarakat. Berkaitan dengan kewenangan negara, dapat ditarik sebuah benang merah bahwa hak asasi manusia harus dijamin oleh negara.Dalam pelaksanaannya, iman menjadi modal terkuat dan terpenting bagi penghargaan atas hak-hak kemanusiaan.

Dengan menyublimnya iman yang kuat pada diri manusia maka hubungan vertikal akan berjalan dengan baik. Hubungan ini juga akan mendukung pada upaya penjaminan hubungan horizontal yang pada akhirnya berkenaan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga fungsi kemanusiaan berjalan dengan baik pula. Berbagai hal tersebut dilakukan agar segala upaya dalam berbagai aspek yang berkenaan dengan hak asasi manusia tidak hilang dari panggung sejarah bangsa-bangsa di dunia.

Kemudian, apabila timbul pertanyaan: apakah hak asasi manusia sudah terjamin di abad yang ke-21 ini? Tampaknya pertanyaan ini hanya akan menjadi angin lalu tanpa adanya sinergi yang nyata dari berbagai pihak untuk mewujudkannya. Lalu siapa yang wajib menggawangi pelaksanaan hak asasi manusia tersebut? Siapa yang harus memulai untuk mendukung upaya penegakan hak asasi manusia di bumi ini? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah kita sendiri! Sebuah generasi yang kelak akan menggenggam tongkat estafet kepemimpinan dunia. Kitalah yang nantinya akanmengarahkan dan memanifestasikan penghargaan terhadap hak dasar kemanusiaan tersebutmelalui peletakan pondasi iman yang kuat sehingga dapat membangun sebuah dermaga humanistik yang lebih beriman, lebih bernurani, dan lebih memanusiakan manusia. Semoga.

Legitimasi Iman Dalam Hak Asasi Manusia (Bagian 1)

Legitimasi Iman Dalam Hak Asasi Manusia
Hak asasi manusia atau yang sering disingkat HAM sampai saat ini masih merupakan isu yang serius dan hangat di berbagai media. Bahkan, konsep hak asasi manusia yang menyentil sisi paling dasar kemanusiaan yang sering digembor-gemborkan seakan terlupakan esensinya oleh zaman. Sejarah telah mencatat berbagai kasus pelanggaran hak asasi dalam skala negara maupun tingkat dunia yang hampir tidak memiliki penyelesaian yang memuaskan. Hal ini dilatarbelakangi oleh kepentingan atau motif banyak pihak yang bercokol di dalamnya. Maraknya berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia memunculkan pertanyaan: Sampai dimana sebenarnya batas hak asasi manusia? Apakah hak asasi manusia masih dianggap penting untuk diperjuangkan?

Pengertian Hak Asasi Manusia
Berkaitan dengan pengertian hak asasi manusia, para ahli memiliki banyak penafsiran. John Locke mengungkapkan bahwa hak asasi manusia adalah hak-hak yang langsung diberikan Tuhan kepada manusia sebagai hak yang kodrati dan tidak ada kekuatan apapun di dunia yang dapat mencabutnya. Hak asasi manusia bersifat fundamental bagi kehidupan manusia dan pada hakikatnya sangatsuci. Senada dengan pendapat di atas, dapat ditarik pernyataan bahwa hak dapat disebut sebagai kekuasaan untuk melakukan sesuatu atau kepunyaan (milik) dan asasi adalah hal yang utama, dasar atau pokok. Oleh karena itu, hak asasi manusia dapat ditafsirkan sebagai seperangkat kepunyaan atau milik yang sifatnya pokok dan melekat pada diri setiap manusia sebagai anugerah yang diberikan olehTuhan sejak lahir ke dunia.

Pengertian hak asasi manusia di atas merujuk pada keyakinan bahwa manusia memiliki harkat, derajat, dan martabat yang wajib dijunjung tinggi. Persamaan ini memunculkan konsekuensi bahwa manusia harus diperlakukan dengan adil dan beradab tanpa memandang atribut yang melekat pada jenis kelamin, suku, budaya, agama, dan lain sebagainya. Akan tetapi, dalam praktik pelaksanaannya tidak sedikit yang mengatasnamakan kepentingan golongan dengan menginvasi hak-hak orang lain. Hal ini tentu menimbulkan adanya kesenjangan yang berakibat pada adanya pelanggaran hak asasi manusia. Meskipun hak-hak tersebut dapat dilanggar tetapi tidak akan pernah dapat dihapuskan. Hak asasi manusia tersebut bersifat abadi dan universal yang harus dijunjung tinggi, dilindungi, dan dihormati oleh setiap orang, negara, pemerintah, maupun hukum yang berlaku.

Jenis-Jenis Hak Asasi Manusia
Secara garis besar, hak asasi manusia dibedakan dalam enam kategori. Hak-hak tersebut antara lain:
1) hak asasi pribadi (personal rights) yang di dalamnya termasuk kebebasan beragama, mengeluarkan pendapat, dan kebebasan untuk bergerak.
2) hak asasi berpolitik (political rights) yaitu hak untuk ikut serta dalam pemerintahan baik dipilih dan memilih dalam pemilu maupun hak untuk mendirikan partai politik.
3) hak asasi ekonomi (property rights) yang terdiri dari hak untuk memiliki, memanfaatkan, dan menjual sesuatu.
4) hak asasi di bidang sosial dan kebudayaan (social and culture rights) yang di dalamnya mencakup kegiatan memilih pendidikan dan mengembangkan kebudayaan.
5) hak dalam kesetaraan di depan hukum dan pemerintahan (rights of legal equality).
6) hak asasi dalam tata cara peradilan dan perlindungan (procedural rights) bagi seluruh warga negara.