Selasa, 01 April 2014

Awal Kehadiranku…Ridan Umi Darojah




Mendengar namaku sebagian besar orang pasti berpikir bahwa aku adalah laki-laki. Memang nama yang disematkan oleh orang tuaku sedikit tidak biasa dan ada semacam sifat prianya.  Sangat mungkin ini mengilhami pula sifat tomboy yang ada pada diriku.  Baiklah, aku akan sedikit menceritakan tentang hidupku. Aku terlahir dengan nama Ridan. Nama yang konon berisi harapan tinggi. Mereka juga menyematkan Darojah sebagai nama belakangku. Agar terlihat sisi wanitanya, orang tuaku memberi label Umi ditengah namaku sehingga nama lengkapku adalah Ridan Umi Darojah. Menurut bapakku namaku ada banyak unsur arabnya. Ridan berasal dari kata ridho yang artinya ikhlas/rela. Huruf /n/ yang nyempil di belakangnya adalah inisial dari bulan kelahiranku yaitu November. Umi artinya ibu dan Darojah artinya derajad. Jadi, jika digabungkan namaku memiliki arti sebuah harapan agar aku menjadi seorang perempuan yang memiliki jiwa ikhlas dan senantiasa menjaga derajad, kehormatan, dan harga dirinya. Sungguh doa yng luar biasa telah tersemat  dinamaku sejak aku menatap indahnya dunia. Subkhanallah, terima kasih ayah-ibu yang telah menyisipkan doa yang hebat untuk menemani perjalanan putri kecilnya yang sampai saat ini sedang berjuang mengenal dunia.
Menurut ibuku, aku dilahirkan cukup lama dan selama hampir 24 jam ibuku menahan sakitnya. Hingga pada akhirnya pada saat fajar terbit lahirlah aku di tanggal yang cantik 221188. Meskipun angka kelahiranku terlihat runtut ternyata dalam perhitungan orang jawa kurang baik karena hari lahirku sama pasarannya dengan hari lahir ayahku. Berdasarkan adat setempat, akupun harus dibuang di tempat sampah. Alhasil aku menemui beberapa episode diriku yang dibuang dan ditemukan oleh seorang Mbah Dukun Beranak ynag dikenal dengan nama Mbah Sumi. Sudah menjadi kelumrahan siapapun ynag menemukan bayi yang dibuang harus  menggangkat bayi tersebut sebagai anaknya. Aku yang tentunya saat itu tak tahu apapun selain hanya menyerahkan keputusan kepada orang-orang besar yang ada di sekelilingku. Tentu setelah dewasa sekarang ini aku berjanji bahwa aku harus menjadi orang yang hebat sehingga aku pastikan tak akan ada seorangpun yang akan membuangku.
Dengan Mbah Sumi ini akhirnya terbangun kedekatan yang tak diketahui dari mana asalnya. Kami akrab dengan sangat dan bahkan aku bebas bermanja-manja dengannya. Hal ini aku akui sebagai satu keuntungan tersendiri untuk meluapkan ego manjaku. Dan tentunya setiap orang di sekelilingku selalu mengingatkan bahwa Mbah ini adalah ibuku. Kejadian ini nantinya akan memberikan warna tersendiri karena selama aku belum ditebus oleh ibuku dengan memberikan bahu, jarit, dan kembang beraneka warna aku masih dianggap anak oleh Mbah Sumi. Tepatnya, proses penebusan ibuku yang cukup dramatik ini dilakukan ketika aku berusia 22 tahun. Dengan seperangkat barang yang sudah disiapkan aku mengikuti ibuku menuju rumahnya. Dengan beberapa doa akhirnya aku dilepas oleh Mbah Dukun dan menjadi anak ibukku yang sebenarnya dan seutuhnya. Ini adalah salah satu nilai kejawen yang aku temui.