Selasa, 26 Agustus 2014

Reuni Pada Rentang Tiga Puluh




Hari ini aku ingin bercerita tentang tema yang sederhana, yaitu reuni. Beberapa hari yang lalu, seorang bapak datang ke tempatku bekerja. Dilihat dari pakaiannya, beliau tentu bukan orang sembarangan. Setelah deal harga selesai, beliau menitipkan pesan lewat secarik kertas kecil bertuliskan KB 70 ex SPMA Jogja. Demi menjaga privasi, akupun tidak menanyakan lebih lanjut tentang arti tulisan tersebut.
Selang beberapa hari, Si Bapak ini datang lagi dan melunasi seluruh tagihan dengan pesan “tolong jangan ditagihkan ke tamu. Saya yang akan membayarnya.” Perkiraanku cuma satu, Si Bapak ini yang membayari seluruh tagihan karena bertindak sebagai tuan rumah.
Katika hari H itu datang, tepatnya hari ini 23 Agustus 2014, satu per satu tamu bapak itu datang. Tentu tidak berbarengan karena menurut data memang mereka datang dari berbagai pulau. Satu hal lagi, ternyata mereka sudah sepuh-sepuh. Dalam usianya yang tak lagi muda, semangat untuk bertemu begitu kentara. Dengan senyum yang mengembang dan tangan yang terbuka mereka saling bersapa.
Ketika bertemu mereka berpelukan sambil bertanya, “piye kabarmu?” dalam jeda peluk yang sedikit lama. Mereka berpeluk dalam haru. Saling menatap dan aku melihat begitu hebat mereka memendam kerinduan yang mendalam satu sama lain. Dan sekali lagi momen ini lagi-lagi meluluhkan hatiku ikut larut dalam haru.
Bagi kita, ungkapan “piye kabarmu?” mungkin lazim diperdengarkan tetapi bagi mereka yang sudah 30-40 tahun tidak bertemu ungkapan itu memiliki pengaruh yang luar biasa bagi mereka. Tidak hanya sekedar bagaimana kabar tetapi di dalamnya menyiratkan pula pertanyaan “apa yang kau lakukan 30 tahun ini? Apa yang terjadi pada hidupmu selama ini? Siapa istrimu? Berapa anakmu? Tinggal dimana sekarang? Apakah kau bahagia? Apakah kau merasakan kangen yang sama sepertiku?”. Aku sendiri semacam ikut merasakan gelora rindu yang sama meski tentu saja aku tak pernah ikut ambil bagian dalam kehidupan mereka yang sudah memutih rambutnya.
Belakangan aku baru tahu, Si Bapak yang datang kemarinlah yang mensponsori terlaksananya reuni ini. Beliau menghubungi teman-teman kuliahnya tahun 1970 dan mengajaknya bertemu di Jogja. Beliau menanggung akomodasi teman-teman seperjuangannya demi sebuah kata nostalgia. Bahkan, ketika hari H Si Bapak malah tidak bisa datang karena ada tugas di Jakarta. Keikhlasan, kesadaran, dan tekad Si Bapak mengumpulkan rekan seperjuangan di berbagai penjuru tanah air tentu bukan hal yang mudah. Apalagi setiap orang memiliki parameter kesibukan yang berbeda. Keberhasilan Si Bapak untuk meyakinkan rekan-rekan ini pun patut diacungi jempol. Dengan kemampuan persuasinya yang luar biasa 15 orang pun bersedia menuju kota ini di jelang usia pensiunan yang telah kelewat masanya.
Satu hal yang dapat kupetik dari hal ini adalah kekuatan dan keyakinan akan rasa kebersamaan mampu mengatasi segala hal termasuk materi dan masalah geografi. Hal ini menginspirasiku untuk melakukan hal yang sama, suatu ketika. Semoga.