Rabu, 29 Oktober 2014

Aura ’45 di Museum Perjuangan Yogyakarta



Sejauh kita melangkah pasti akan kembali ke ujung semula. Pepatah itulah yang hinggap di otakku belakangan ini. Aku senang bisa kembali demgan hobi lamaku menginjakkan kaki di tempat-tempat baru yang belum pernah kusambangi sebelumnya. Hobi jalan-jalan sudah melekat sedemikian erat. Tentu saja hobi ini hampir disukai semua orang. Hanya saja, aku selalu menyempatkan untuk membawa pulang oleh-oleh sehabis jalan-jalan meski hanya sekedar foto dan cerita. Nah, inilah yang ingin aku bagi kali ini.
Biasanya, setiap pulang dari tempat baru ada ide-ide segar mengalir, merasa menemukan hal-hal baru yang tidak dipublis di daratan luas. Hal ini seperti yang aku rasakan ketika beberapa waktu yang lalu mengunjungi Museum Perjuangan Yogyakarta. Hanya dengan Rp 2.000 pengunjung dapat melihat berbagai barang peninggalan pahlawan bangsa Indonesia. Meski untuk ukuran museum termasuk mini tetapi museum ini menurutku mampu menghadirkan warna tersendiri. Museum ini menjadi bukti otentik bagian dari dokumentasi perjalanan sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia yang kita cintai.
Museum ini terdiri dari dua ruang utama, yaitu lantai atas dan lantai bawah tanah.  Lantai atas berisi berbagai koleksi seperti tempat duduk yang digunakan presiden Soekarno ketika diculik di Rengasdengklok, pakaian pejuang, meriam yang digunakan ketika berperang, replika wajah beberapa pejuang, game bambu runcing, foto-foto zaman dahulu, dan lain sebagainya.
Ruang yang kedua, yaitu lantai bawah tanah yang terletak di bawah ruangan utama dan dihubungkan dengan tangga kecil. Di lantai bawah ini dipamerkan satu stel pakaian adat Yogyakarta dan pakaian yang digunakan oleh pejuang zaman dahulu. Selain itu, di semua sisi dindingnya yang berbentuk lingkaran dipajang foto-foto tentang perjuangan. Foto-foto tersebut seolah ingin mengingatkan bahwa perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia tidaklah mudah. Terdapat satu hal yang membuatku berkesan di ruangan ini adalah adanya kursi panjang yang digunakan pengunjung duduk-duduk setelah mengelilingi museum. Aku menamainya kursi perenungan karena tempat ini cocok untuk merenungkan jasa-jasa para pahlawan lewat media gambar yang tersebar di seluruh dinding ruangan. Apalagi, tata letak gambar dipadu dengan pencahayaan temaram sehingga membuat perenungan/kontemplasi berlanjut semakin dalam.
Selain kursi perenungan, ada satu hal lagi yang membuatku kagum, yaitu relief yang terpahat di sisi luar gedung. Relief ini menceritakan fase demi fase perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Ini sesuatu yang unik, museum semi candi.  Ketika berkeliling mengamati relief kita seperti dipandu membaca sejarah lewat relief.  Pengunjungpun dapat meraba dan merasakan getaran semangat juang pahlawan. Ketika berada di museum ini, seolah pengunjung diajak berdialog, meresapi, membayangkan segala hal yang terjadi pada masa lalu secara nyata. Hal ini membuatku layak menyebutkan satu premis “kita diajak untuk berdamai” dengan sejarah bangsa yang tidak dapat disebut manis.
Itulah refleksi perjalananku mengunjungi Museum Perjuangan yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan musper. Kalimat terakhir yang terpatri ketika keluar dari museum adalah “ inilah caraku menghargai warisan bangsa dan upayaku mewarisi semangat juang para pahlawan”.  Harapan kedepan museum dapat menjalankan fungsinya bukan hanya sebagi simbol sejarah tetapi dapat mengorbitkan semangat juang pada generasi penerus sekaligus memberikan edukasi bahwa perjuangan itu selalu dibutuhkan dalam segala hal. (23102014)
Nb: Terima kasih Sdr Muhammad Solichin Tofa atas foto-fotonya

Menilik Kembali Tujuan Saleh Publik di Kolom Kedaulatan Rakyat



Tulisan ini terinspirasi dari rubrik opini yang ditulis oleh Prof. Dr. Khoiruddin Nasution, M. A
(Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Hari ini mataku dibuka oleh sebuh tulisan yang cukup menarik di rubrik Kedaulatan Rakyat (23 Oktober 2014) yang mengangkat judul “Revolusi Mental Lahirkan SDM Saleh Publik”.  Setidaknya terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian lebih seperti di bawah ini.
1.      Pendidikan holistik sudah muncul di Amerika sejak 1980 yang intinya menekankan perlunya penguatan aspek emosional dan spiritual.
2.      Predikat saleh bukanlah pemberian (by given) tetapi predikat itu bisa diusahakan dengan pembiasaan kerja keras, serius, dan berkelanjutan.
3.      Pendidikan di Indonesia menekankan pendidikan integratif yang tidak lain bertujuan untuk menciptakan SDM yang handal dan saleh publik.
4.      Predikat saleh memiliki beberapa turunan, yaitu saleh emosional yang berarti mampu meningkatkan kualitas karakter positif dan mengendalikan karakter negatif. Saleh spiritual/individu, yaitu mampu melakukan kegiatan spiritual secara individu. Saleh sosial berhubungan dengan sifat kedermawanan.
5.      Saleh publik masih dipecah dalam beberapa kelompok, yaitu publik umum yang menyangkut kegiatan positif untuk kebaikan bersama dalam masyarakat, publik di tempat kerja yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab sebagai pekerja, publik tetangga yang berkaitan dengan membina hubungan baik dengan tetangga, dan publik di rumah yang berkaitan dengan usaha menjaga hubungan baik antaranggota keluarga.

Berdasarkan uraian di atas, sangat tepat kiranya  jika revolusi mental  dilakukan untuk membentuk SDM yang saleh publik sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bukan hanya besar tetapi memiliki pondasi SDM yang kokoh.

Dialog Tanpa Jeda (Bagian 2)




(Meski hari berangsur senja, ternyata mereka tidak menyerah dan mengaku kalah). Mereka melanjutkannya dengan jantung berdetak lebih dari biasanya).

Dimana hatimu? Tahukah kau untuk siapa aku bekedip tiap menit?

Kau tak lebih dari cagak mati tak berarti. Dan aku tak peduli.

Jangankan menatap. Melongospun tidak.

Tak perlu bicara layaknya roh kudus.

Kaupun hanya diam laksana bunda maria. Kau terlalu terpaku mengejar bayangan yang entah sampai kapan akan terus meninggalkanmu.  Ah kau tak beda dengan Rayya dan sayangnya aku tak penah bisa mengimbangimu seperi Arya.  Aku hanya Kemal yang dengan mudah kau campakkan.

Rayya itu milik dunia dan dunia terlalu luas disinggahi banyak suku kata. Dunia perlu ditutup mungkin? Ide bagus bukan?

Dunia tidak harus ditutup justru otak sempitmu yang harus dibuka. Otakmu terlalu cerdas untuk dikurung di tempurung kepala. Ingin sekali kupecahkan kepalamu yng congkak itu.

Tak usah mengguruiku layaknya Siwa. Kau bukan dewa yang tahu segalanya.

Dan kau tak perlu memohon laksana guru besar. Ingat! Kau juga bukan dewi yang leluasa menggoda para dewa.

Kau menyindirku? Aku tak pernah mohon padamu (kecuali tentu saja kalau aku butuh) hahahaha… Aku benci kata dewi. Sok suci!

Untuk apa aku menyindir orang yang tak punya hati?

Tepat! Hatiku sudah kugadaikan di loakan dan tukang koran biar jadi buruan berita wisatawan.

Saat kau terluka kau datang padaku. Saat lukamu mongering kau asik bersamanya. Kamu kira aku betadine?

Tidak usah sok baik menyangkut pemberitaan absurd.

Kau bahkan tak meluluskan satupun permintanku padahal mungkin itu permintaan terakhirku. 

Kau bukan Tuhan yang tahu kapan akan dideadlinekan menghadap.

Kau juga bukan setan yang selalu menyakitkan bukan?

Apa pedulimu? mau setan, iblis, malaikat, psikopat.

Kau tak pernah berubah. Selalu merasa aneh melihatku.

Aku makin muak dengan lelucon ini.

Jadi selama ini kau anggap aku sedang melucu? Akting? Kau sering bertanya kenapa aku selalu baik denganmu.

Jawabnya, karena kamu bukan orang baik jadi kau berpura-pura baik. Itu jawaban paling diplomatis sepanjang masa bukan.

Kelak kau akan tahu jawabnya ketika aku tak lagi baik. Itu akan mengerikan.

Jadilah setan sekarang, biar wujudmu kelihatan. 

Aku memang setan. Aku pemuja nafsu.

Biar orang tak hanya melihatmu dalam bingkai kesopanan yang dibalut sutera. Biar orang tahu kau durjana pengoleksi dosa.

Dan sesungguhnya itulah yang kulihat pada dirimu. Bukankah sudah kukatakan padamu semua hal tentang hidupku. Di depanmu aku berasa tidur telanjang dan kau dengan mudahnya membedah semua otak, jantung, dan hatiku tanpa aku berdaya untuk menolak.

Aku muak, muak, muak. Kita tutup epilog ini.

Hehe… (tertawa kecut) jangan kau kira aku tak tahu, obrolan ini terjadi hanya karena kau gagal membunuh sepi.

Terima kasih nasehatnya.

(Demikianlah mereka akhirnya sama-sama diam kelelahan saling menuding).

Dialog Tanpa Jeda (Bagian 1)




(Kali ini aku ingin menuliskan perdebatan dua orang konyol yang saling berimajinasi seolah menjadi makhluk paling pandai bernegosiasi. Berikut petikan emosionalnya yang kuperoleh dari catatan menjelang pukul 9).

Hei kamu lelaki yang menggadai harga diri laiknya eksistensi. Tahukah kau sama brengseknya dengan zaman anarki yang dihias tasbih sana-sini.

Hei kamu wanita pecandu pemujaan, kau laksana bintang di siang bolong. Indah tapi tak tampak.

Memang kamu siapa? filsuf Yunani? Aristokrat betawi? Kamu makhluk yang hanya paham sejarah. Sudahlah, tak perlu omong kosong belaka. Kau berjanji tapi bah!!! Hanya monyet penari di perempatan menunggu segel polisi.

Dan kau? Hanya wanita pemuja privasi. Privasi tereleganmu hanya 2x1 (nanti)

Tak perlu kau olok-olok aku. Kamu gila. Penggila kebobrokan dunia.

Kau tak pernah berjanji tapi apa? Kau menebar ekspektasi di hati para lelaki hinga satu persatu patah hati.

Aku marah. Aku benci. Janganlah menggurui layaknya merpati sok suci.

Dan kau hanya seekor  bangau tolol.

Tak perlu kau memberi label. Aku sudah terlanjur hidup di hati belantara yang terlalu mewah ini.

Cerewetmu tak lebih berharga dari ocehan burung camar tolol.

Diam! Lagi pula sejak kapan camar tolol? Hanya orang bodoh yang bilang camar tolol. Kamu gila? Iya

Hah? Aku memberi label? Bukankah label itu sudah tercetak di kulit eksotismu yang sempurna sejak kau melihat dunia? W= wild

Betapa buruknya katamu. Apa perlu kugadai sekolah elit agar kau tahu bagaimana menulis surga?

Kau tak pernah tahu Bang Iwan Fals punya celoteh camar tolol.

Kau tak lebih dari robot pencetak kata-kata eror.

Dan kamu mesin tua yang sok  modern.

Kau bahkan tak lebih dari lampu perempatan yang berkedip sepanjang menit.

Jika aku setia berkedip setiap menit kenapa kamu hanya berlalu bagai badai?

Kamu tak lebih dari plastik yang meleleh disiram kobaran api. Kamu gila. Mesin zaman edan. Sudahlah aku muak bicara denganmu yang tak lebih dari obralan kata-kata liar.
Apa bedanya dengan mulutmu yang beraroma raflesia?

Raflesia itu indah, langka, dan tak beraroma.

 (Mereka masih melanjutkan perdebatan tersebut meski nafas mulai tersengal. Lanjut di bagian 2 ya)