Senin, 29 Desember 2014

Naskah Kesedihan (Repertoar IV)



“Kamu yakin dengan rencana itu?,” tanyaku ke Nias saat dia menyeruput es buahnya. Kami sedang duduk menikmati senja di bawah pohon waru. Akhir minggu ini kami memang menikmati akhir pekan dengan sedikit kerjaan. Sup buah ini adalah tujuan terakhir setelah kunjungan ke penerbit majalah selesai.

“Mungkin,” jawabnya singkat. Aku memperhatikan caranya makan. Lucu juga. Buah dan kuah dimakan secara terpisah. Macam obral saja pikirku geli. Sadar diperhatikan, dia menatapku sambil mengernyitkan kening. Tapi tak lama senyumnya mengembang menampakkan barisan giginya yang tersusun rapi seperti biji mentimun.

“Mau aku suapin?” katanya langsung menyodorkan sendok berisi rambutan. Seperti anak bayi aku membuka mulut dengan rona sedikit mengejek. Dia tertawa. Aku tertawa. Kami tertawa (meski kami sama-sama menyadari tawa ini sumbang).

“Kamu gak papakan kalau memang begitu?” tanyanya pelan.

“Ya nggak papa. Aku hanya ingin memastikan. Tahu sendiri akhir tahun biasanya harga diobral sampai 70%,” gurauku menyembunyikan sengau. Nias menepuk tanganku. Hal yang biasa dia lakukan saat berusaha menenangkan.

“Bagaimana denganmu?” tanyanya lembut.

“Masih seperti yang dulu. Mimpiku masih sama. Aku suka dengan yang aku geluti saat ini. Di sini aku belajar dan di sini misi terakhir akan menjadi landasan bagi kisah-kisah selanjutnya. Masih ingatkan tentang kisah para penabung akhirat? Mereka memberi hal yang bisa dipendarkan oleh berjuta-juta komuni di bawahnya. Dan selama itu, neraca pahalanya akan terus menanjak tanpa disadari. Jadi, kalau aku bilang inilah yang namanya berbisnis dengan malaikat. Untuk hal yang satu itu, (aku mengambil tisu) kita bertemu di dermaga dan saling bertanya masihkah rindu mungkin juga bagian dari perjalanan ini,” jawabku sedikit tersendat.

“Tidak terlalu jauh, Tan?”

“Kita masih menganut prinsip yang sama bukan? Di dunia ini tidak ada yang mudah tetapi tidak ada yang tidak mungkin. Kalau kita punya keyakinan pasti bisa mewujudkannya. Entah siapa yang memanjatkan doa di seberang semenanjung. Semoga…”

“Semoga Tuhan merestui, Aamiin,” Nias mendahului dan mengusapkan telapak tangan ke wajahnya. Tanpa sadar aku mengikutinya.

“Aamiin,” jawabku. Kamipun menutup pertemuan itu dengan keyakinan bahwa mimpi kami adalah bagian dari perayaan akhir tahun.
-------------------------&----------------------
“Hati-hati, Tuhan akan memberikan perhatian kepada orang-orang yang selalu bersyukur akan nasib baiknya,” kataku ketika Nias menyelipkan lembaran artikel terakhir ke dalam tasku. Kalau artikel sudah di tangan biasanya akan sulit menemuinya lagi. Kalau bisa episode yang seperti ini harusnya tak pernah terjadi.

“Kalau aku ketemu dengan nasip yang tak baik, tak apa karena selanjutnya aku akan memastikan takdir yang terjadi jauh lebih baik. Kalau aku jadi ilalang di kemudian hari, tak apa karena aku akan memastikan bunganya berharga mahal. Jika aku menjadi anggrek sekalipun, aku pastikan anggreknya tidak dijual di pasaran.”

“Semoga berhasil Nias. Aku akan selalu merindukan saat-saat bersamamu seperti sebelumnya.”

“Terlebih aku, Tan. Jaga diri baik-baik. Tuhan akan selalu mendengar doa orang yang senantiasa bersabar.”

“Segala yang…”

“Segala yang pernah adalah keajaiban,” katanya mendahului sambil mengusap kepala dan mengecup keningku.

Kami tersenyum dan melepaskan tangan. Saat itu pukul 17.22 waktu senja. Dan sejak itu aku tak melihatnya lagi.

Jumat, 26 Desember 2014

Di Kedai Kubertemu (Repertoar III)



Aku duduk di salah satu kedai saat gadis itu memarkir sepeda motornya. Dari bajunya, tampak dia masih anak tingkat tiga. Gadis yang masih doyan dolan dan makan hehe... Stilenya tidak terlalu rapi tapi gaya sportynya pasti membuat orang setuju bahwa dia gadis yang menarik. Kemeja kotak-kotak digulung setengah lengan. Jeans dan sepatu kets dengan warna senada. Belum lagi wajahnya yang sumringah. Poin 80 dapat pikirku.

“Kak, pesan yang kayak itu dong.” sapanya hangat.

Aku menengok ke belakang. Kosong. Jadi gadis ini berbicara padaku. Aku menggeleng dan menunjuk pintu di samping meja.

“Oh, maaf” katanya sambil tersenyum dan mengambil tempat duduk di sebarangku. Kelihatannya diapun paham aku senasip dengannya. Kalau dilihat dari dekat, gadis ini manis juga. Sesekali dia melihat jam di tangan kirinya. Mungkin dia tidak bisa lama-lama menunggu.

“Masih lama gak ya, Kak?” tanyanya memecah kekakuan diantara kami. Aku mengangkat bahu tapi aku barengi senyuman agar dia tidak terlalu kecewa. Meskipun begitu aku melihat bibirnya sedikit manyun dan turun. Dia mirip banget dengan Nias kalau begini. Ah...

Tak berselang lama, Mas penjaga kedai datang dan Si Gadis langsung berbicara panjang lebar tanpa memedulikanku yang sedari tadi menunggu. Sebenarnya agak dongkol juga tapi tak apalah. Toh, gadis ini harus mengejar waktu. Kurang lebih 10 menit aku menunggu sambil mendengar celoteh riangnya. Setelah permisi si Gadis mengerling kepadaku. Aku menafsirkannya sebagai isyarat dia berhasil dengan misinya. Akupun tersenyum. Dia keluar kedai dan bersiap meluncur dengan motornya. Ketika tukang parkir datang dia menyodorkan uang ratusan ribu. Si Tukang parkir menggeleng dan Si Gadis pun pergi. Sempat kudengar Si Gadis berteriak, ”Nanti lagi ya, Pak kalau saya lewat sini.” Bapak tukang parkir mengangguk. Berarti gadis ini sudah terbiasa ke sini pikirku.

Setelah Mas penjaga menyelesaikan pencatatan, akupun menghampirinya dan mengobrol sebentar. Tak selang berapa lama Nias datang menjemputku.

“Berangkat Tan?” tanyanya.

Aku mengangguk dan kamipun pergi. Beberapa waktu kemudian aku baru sadar dalam lipatan kuitansi ada secarik pesan.

Kak, aku cewek yang tadi. Aku kenal kamu lho.

Aku tersenyum membaca pesannya. O, ya? pikirku GR. Mungkin adik kelas, aku harus ke sana lagi lain waktu. Tapi tunggu ada pesan selanjutnya,

dan aku suka Mas Nias.

Kamis, 25 Desember 2014

Suatu Hari di Sebuah Pementasan (Part II)



Hari ini kami berencana untuk mengunjungi pameran patung dan lukisan. Sejak awal kami memiliki hobi yang sama, yaitu melihat dan mencermati hal-hal yang unik. Pemikiran kami sedehana. Pameran pasti diselenggarakan karena ada misi  yang ingin disampaikan. Dan misi tersebut pasti memiliki falsafah tersendiri yang dirancang untuk mengesankan pengunjung. Begitu pula kami yang sepakat bahwa banyak hari yang dilalui harus diisi dengan kesan-kesan yang indah. Setibanya di sana, dia berkata,” apakah kamu akan mengukir namaku di hatimu?”

Aku tersenyum. “Memangnya kamu mau mengeram di hatiku? Banyak sih ruang kosong tapi banyak bulu-bulunya” balasku.

“Aku kadang berpikir bahwa kita bisa saja ditakdirkan bersama. Kalau begitu kata Tuhan, kamu mau jawab apa?” tanyanya penuh semangat. Dia memandangkan dengan mata yang begitu indah.

“Aku senang-senang saja, nanti kalau kamu jahat tinggal aku ngadu sama Tuhan. Aku bakal bilang, Tuhan ini salah satu makhluk-Mu jahat kepadaku. Terus kamu dimarahin Tuhan. Terus nanti kamu ganti berdoa…”

“Aku cuma bilang kadang. Dan itu cuma dalam satu kalimat. Kamu jawabnya banyak kalimat. Wis to jangan cerewet!” potongnya. Kalau sudah dibilang cerewet aku jadi mati kutu. Akupun diam seolah aku lagi ngadepin Pak Guru. Sayangnya Pak Guru yang ini killer-killer tapi menarik.

Nias menulis nama kami di buku tamu. Dua brosurpun diselipkan ke dalam tasku. Biasanya kami menyebut brosur sebagai oleh-oleh. Kami senang membaca deretan deskripsinya. Setiap sampai rumah, brosur itu aku susun di rak buku dengan gumaman “ini bagian dari episode indah”.

“Ayo,” katanya sambil menggamit tanganku. Hal yang sederhana tapi aku menyukainya. Akupun membiarkan Nias memilih tempat duduk kami. Biasanya kami suka memilih di sudut yang dalam kondisi normal dapat diartikan kami memilih untuk tidak ubek mengganggu yang lain. Kalau temanku bilang ini bagian modus hihihi… tapi siapa peduli.

“Apa tema malam ini?” tanyanya.

“Sedikit menarik. Ini tentang percintaan antarmanusia . Mungkin kamu mau jadi salah satu ikon di sini,” kataku sambil menunjuk salah satu foto pemain.

“Bagaimana kalau kita saja yang main, mereka yang nonton?”

“Emang kita punya kisah cinta?”, cerocosku langsung,” punyapun emang punya nilai jual?” imbuhku lagi sambil mengerlingkan mata manja.

“Menurutmu tidak? Hebat ya kalau difilmkan,” bantahnya tak mau kalah.

“Iya hebat soalnya filmnya tanpa narasi? Hahhaha…”

“Nanti kamu yang nulis aku yang cerita, Tan. Lihat yang itu (katanya sambil menunjuk seorang yang memainkan biola). Keren ya?” tanyanya.

“Ah, itu bukan pertanyaan, itu pernyataan. Bilang aja ngefans,” kataku pura-pura cemberut.

“Egak, egak… bercanda, Tan”.

Semoga kaupun tak bercanda menyukaiku batinku dalam hati. Kami menikmati malam itu dengan iringan biola yang gesekannya masih kurasakan sampai sekarang. Lembut dan syahdu.


Rabu, 24 Desember 2014

Pengertian Patah Hati (Part 1)



Sebelum tahun ini berakhir, aku ingin menuntaskan beberapa cerita yang sekali lagi sempat tertunda. Kurangkum dalam 5 repertoar. Tapi kau perlu tahu bahwa ini bukanlah zaman penghakiman rasa. Jadi, semua  mengalir begitu saja. Nikmati dalam suasana yang biasa dan kalau perlu harus dalam suasana bahagia karena ini bukan cerita yang heroik. Kalau sedikit melankolis mungkin iya.

Pengertian Patah Hati (Part 1)
Namanya Nias. Semacam nama pulau di salah satu sudut negeri ini. Suatu waktu, dia berkata padaku. Masih lekat dalam ingatanku setiap kata yang terucap. Bahkan, cara dia berbicara, caranya mengeja, dan helaan nafasnyapun aku perhatikan betul.
“Aku ingin mengobrol”, katanya memulai pembicaraan.
“Tentang apa? Kurasa kita tak perlu lagi berbicara banyak hal yang hanya menguras energi dan waktu,” jawabku langsung.
“Bukan, ini bukan tentang kita. Ini tentang seseorang”.
“Oh, tentu. Tentu. (aku bersemangat mendengarnya memulai cerita). Bagaimana seseorang itu? Apakah ini sesuatu yang spesial?” tanyaku tak sabar.
“Dia lembut seperti bahasa ibunya. Dia merelakan banyak waktunya untuk membuat orang-orang di sekitarnya bahagia. Lama kami tak jumpa, dan kemarin aku menemuinya masih dengan cara yang sama. Tau tidak? dia menatapku dengan cara yang sama saat aku ketemu dia 10 tahun yang lalu.”
“Kisah orang lama, ya? Sepertinya ini mengesankan. Aku akan senang mendengarnya. Lanjutkan”.
“Dia bilang kalau aku manis dan manja. Dia bilang aku masih kaya anak mama. Padahal diakan tahu, aku terlahir tanpa orang tua”.
“Maksudmu, kamu amnesia? Kan gak mungkin orang lahir tanpa orang tua?” potongku cepat.
“Sssttttt... (Dia menempelkan telunjuknya di bibirku, berdesir dan kalau bisa aku mau pingsan saja J ). Orang tuaku adalah bagian yang tak akan pernah dilupakan, maksudku dalam episode ini aku meng-crop-nya agar kau tahu dimana fokus-fokus yang harus kau dengar.”
“Baiklah, kita mulai. Singkat kata apakah kau jatuh hati lagi padanya?” tanyaku tak sabar.
“Dasar bawel!!! Kenapa kamu selalu berpikir 3 langkah di depanku? Tapi mungkin begitu juga. Dia membuatku berpikir bahwa kami memang dipertemukan Tuhan untuk bersatu.”
“Ya baguslah kalau begitu. Setidaknya Tuhan mendengar doamu tiap hari bahwa kamu tak lagi jadi makhluk akutkan?” godaku sambil membuang ilalang yang sedari tadi kugigit. 
“Kamu tidak cemburu?”
“Cemburu itu hanya milik orang-orang yang tidak percaya diri. Sama halnya dengan gengsi. Orang yang gengsinya tinggi biasanya rasa percaya dirinya akan tinggi jika ditunjang dengan banyak hal. Kalau hal-hal yang menunjang tidak ada maka kau akan tahu bahwa mereka tidak punya rasa percaya yang kuat.”
“Benar kamu tidak apa-apa?”tanyanya meyakinkan.
“Semua orang punya pilihan maka pilihlah yang terbaik yang kamu yakini,” saranku mantap.
“Ya, aku mencintainya. Tak dapat kupungkiri, aku senang bercerita denganmu. Aku percaya karena kamu asik dan kamu teman yang baik”.
“Semoga beruntung,” kataku sambil beringsut mengambil syal yang sedari tadi kugosok-gosok di tangan meski tak ada gatal.
Akupun berjalan menyusuri tanah yang mulai basah oleh hujan. Aku sempat tersanjung menjadi orang yang dipercayai. Namun, mendengar kata “karena kita teman” tak pelak membuatku sukses patah hati. Karena aku menjadikanmu tujuan tapi kau hanya menjadikanku pilihan. Tapi tidak apa-apa cintaku kau abaikan sekarang yang penting studiku sukses. Studi yang sukses akan mendatangkan cinta yang lebih berkelas hiburku dalam hati. (23122014)