Rabu, 09 Desember 2015

Permintaanku Malam Ini



Tuhan, aku tak tahu sampai kapan akan bertahan menghadapi kuasa-Mu ini. Sungguh aku bangga pernah menjadi ibu dan aku bangga saat ini bisa tetap bersimpuh di tempat yang sama. Nyeri ini semakin sering menghampiri dan tak kenal kata kompromi. Sesuatu yang Engkau kirim untuk selalu mengingatkanku bahwa aku juga manusia yang punya lelah dan berhak bersandar meski sejenak.

Tuhan, jikalau saat itu tiba, aku ingin memeluk-Mu dengan senyuman termanis untuk orang-orang di sekitarku. Mereka yang telah membuatku kuat dan merasa hidup. Mereka yang senantiasa mendukung dan mendoakanku dari dekat dan jauh. Yang tetap menyelimutiku dengan harapan baik meski sebagai manusia tak luput dari khilaf dan naïf. Untuk mereka yang setiap saat kutitipkan salam, mohon maafkan atas kurangku yang sering pongah menatap rawa-rawa sinis yang teruntai dari bibir dan lakuku. Mungkin di banyak saat aku banyak menderma kesal hati pada kalian. Maafkanlah.

Ibu dan bapakku yang tak henti-hentinya melakukan banyak hal untukku. Sungguh anakmu ini kurang berbakti. Kasih sayang sering kalian tebar tapi aku lebih menyukai kesibukan yang memenjarakan. Menghalau waktu kebersamaan kita sebagai sebuah keluarga. Aku mencintai kalian sepasang malaikat yang mulai memutih rambutnya, mulai kabur matanya, dan berkeriput kulitnya. Terlalu banyak kenangan akan masa-masa kecilku yang terlalu bahagia bersama kalian. Saat menerima kado pertama bonekaku, naik sepeda bertiga, masuk jaket, nonton pasar malam, dan sejuta kejadian yang masih begitu rapi tersimpan di otakku. Kapan masa-masa seperti itu akan terulang? Aku kangen saat kita main ular tangga dan bersempit-sempit minta dikelonin Ibu. Mungkin sekarang aku sudah terlalu besar untuk bisa tidur bertiga. Khusus buat ibu. Aku kangen didongengin sama ibu. Cerita binatang kancil, kucing, dan harimau. Ibu, itu dongeng favoritku dan aku masih menghafal dengan jelas. Maaf, kali ini izinkan aku menetes.

Untuk kamu juga, seseorang yang entah sejak kapan mulai menertawai kelolaanku, kealzaimeranku, kecerobohanku, dan segala hal yang membuatku gila untuk selalu terburu-buru.  Kita belajar banyak hal dari banyak kejadian. Dan akupun sadar bahwa kebersamaan itu bukanlah hal yang kekal. Ada saatnya ketika orang mengayuh sepeda rantainya putus, remnya blong, atau bahkan rodanya lepas. Begitu pula kita para wayang fana yang berlakon dan berdrama. Jika suatu saat kenyataan itu berkata dengan sedikit lantang, aku harap kamu mengingat permintaanku suatu sore itu. Mungkin kamu akan bilang aku terlalu melankolis dan cengeng tapi setidaknya bunga rampai ini telah kusampaikan padamu. Meski begitu, di saat yang sama aku tetap memanjat pada yang kuasa tetap bisa menua bersamamu. Bersama anak-anak kita. Sampai rambut kita beruban dan berkeriput seperti ibu. Dan kau berjanji akan mengingatkanku saat aku lupa. Dan aku akan berjanji untuk tetap memijit wajahmu dan merapikan jenggotmu. Kalau sudah tua kamu masih berjenggot gak ya hehe...

Kalian teman-teman yang telah mewarnai banyak kebersamaan baik di meja sekolah maupun di deras debu jalanan. Pada kalian kusematkan mawar kuning sebagai pertanda keceriaan. Kita pernah melalui banyak reka kenangan. Juga telah menawarkan racun perbedaan menjadi secawan madu yang beraroma kepedulian. Tidak mudah bagi kita untuk saling percaya dalam kurun waktu yang lama tapi bagaimanapun juga kalian telah menjadi agenda dalam perjalanan ini. Sejujurnya, tiada yang terbaik kuucapkan kecuali terima kasih telah bersama dan aku mencintai kalian semua.

Perang Jawa: Perang Nglawan Angkara



Masih ingat dengan sebuah puisi fenomenal berikut ini?

Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati
Maju
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu
Sekali berarti sudah itu mati
Maju
Bagimu negeri menyediakan api
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru telah tercapai
Maju
Serbu
Serang
Terjang

Ya, itu adalah salah satu puisi hebat yang diciptakan maestro puisi Indonesia, Chairil Anwar. Berbicara tentang Perang Jawa tentu tidak bisa dilepaskan dari tokoh dibelakangnya, Pangeran Diponegoro. Dalam perjalanannya yang panjang, sejarang Perang Jawa sesungguhnya merupakan titik balik krusial bagi perjuangan dalam melawan kolonialisme di tanah Jawa. Perang yang berlangsung sejak 1825-1830 ini menyeret Pangeran Diponegoro dalam kontroversi panjang yang membawanya sebagai figur yang dikagumi, dicintai, sekaligus dibenci.

Momentum Perang Jawa benar-benar telah membawa sosok Pangeran Diponegoro dalam pusaran arus sejarah yang rumit. Meski demikian, tidak banyak orang yang kemudian mengetahui jejak Pangeran Diponegoro dalam menghalau para penjajah. Hal ini berkaitan erat dengan kesaktian dan jejak spiritualitas Sang Pangeran yang merakyat dan agamis sehingga tetap survive di tengah tekanan kolonialisme. Pangeran Diponegoro adalah sosok pejuang yang inspiratif. Ketegasan dan laku hidupnya yang peuh kesederhanaan membuatnya layak untuk diteladani. Masyarakat Jawa pada umumnya meyakini bahwa Pangeran Diponegoro dan pendukungnya memiliki kesaktian tertentu.

Pangeran Diponegoro yang memiliki nama kecil Bendoro Raden Mas Mustahar lahir di keraton Yogyakarta pada bulan puasa tahun 1785 atau 8 Muharram 1200 H. Pangeran ini merupakan satu-satunya keturunan HB III dengan R.A.Ayu Mangkarawati (seorang selir). Kelahiran menjelang fajar dengan pasaran Jumat Wage diyakini bahwa Sang Bayi kelak akan menjadi orang besar. Dan benar saja, kelak Pangeran Diponegoro aakan membawa petaka besar yang membuat Belanda kewalahan dan menderita kekugian yang sangat besar.

Sejak usia 7 tahun Pangeran Diponegoro keluar dari istana dan tinggal di Tegalrejo di bawah asuhan Ratu Ageng. Di bawah asuhan permaisuri HB I tersebut, Pangeran Diponegoro mendapatkan pendidikan keislaman, tradisi jawa, dan sosial kemasyarakatan dengan sering berbaur dengan rakyat di pasar dan sawah. Oleh karena itu, wajar sekiranya Pangeran Diponegoro memiliki pribadi kuat, ksatria yang berakhlak mulia, dan luas pengaruhnya dalam pergaulan tanpa melupakan jati dirinya sebagai orang Jawa.

Sejarah bangsa Indonesia mencatat bahwa Pangeran Diponegoro adalah seorang nasionalis yang peka terhadap lingkungan sosialnya. Perang Jawa adalah perang Pangeran Diponegoro bersama rakyat Jawa melawan kekuasaan kraton Yogyakarta yang tunduk di bawah pengaruh Belanda. Kondisi Jawa yang memprihatinkan akibat kesewenang-wenangan Belanda serta tiadanya kepemimpinan yang kuat telah membuat wibawa kraton Yogyakarta hilang. Sebagai anak tertua HB III, keprihatinan ini mengilhami perjuangan untuk melawan tindak kolonialisme hingga meletuslah perang yang dikenal dengan perang Jawa atau perang Diponegoro. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, Pangeran Diponegoro mengambil beberapa langkah yaitu: menyerbu kraton Yogyakarta, memetakan daerah perang, mempersiapkan pasukan perang, dan menyusun daftar musuh. Pasukan diponegoro menuai sukses di awal peperangan dengan berhasil mengendalikan Jawa Tengah dan mengepung Yogyakarta. Tepat tiga minggu setelah rumahnya di Tegalrejo diserang, pasukan Diponegoro berbalik menyerang  kraton Yogyakarta dari segala penjuru dengan kekuatan 6.000 pasukan.

Pertempuran terbukapun digelar. Jalur-jalur logistik dibangun dari wilayah satu ke wilayah lain untuk menyokong kebutuhan perang. Berpuluh-puluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Produksi mesiu terus berlanjut sedang perang terus berkecamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi untuk menyusun strategi perang. Serangan-serangan pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan. Mereka menggunakan alam sebagai senjata yang tak terkalahkan. Pada puncak pertempuran, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 serdadu sekaligus untuk menghentikan perlawanan Pangeran Diponegoro. Betapa besarnyanya perang yang terjadi saat itu! Hebat, ngeri, dasyat!!!

Ditinjau dari sudut kemiliteran, perang Diponegoro merupakan perang pertama yang ,melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik perang terbuka (open warfare), perang gerilya (guerrilla warfare) yang dilaksanakan melalui teknik hit and run dan penghadangan (surpressing). Perang ini juga lengkap dengan taktik urat syaraf (psy-war) melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta provokasi Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dan kegiatan telik sandi (spionase) antara kedua belah pihak.

Tahun 1829 Pangeran Diponegoro kembali dengan taktik perang gerilya. Perubahan taktik ini membuat pihak Pangeran Diponegoro menguasai Bagelen, sebagian Sungai Progo, Sungai Bogowonto, dan Banyumas. Pada tahun ini pula terjadi kemunduran bagi pasukan Diponegoro. Strategi benteng stelsell semakin mempersempit gerak pasukan Pangeran Diponegoro. Strategi ini juga membuat mereka hidup dalam keprihatinan yang luar biasa. Selain itu, mewabahnya kolera, malaria, dan disentri membuat banyak panglima perang dan pendukung Diponegoro menyerahkan diri kepada Belanda.

Pada 8 Maret 1830 M masih di bulan puasa, Belanda menjalankan siasatnya untuk menangkap Pangeran Diponegoro.  Selanjutnya, gubernur Belanda, De Kock mengundang Diponegoro untuk melakukan perundingan perdamaian di kantor residen di Magelang. Pangeran Diponegoro berangkat dengan diikuti oleh 800 pendukungnya. Banyaknya pasukan yang mengikuti ini membuat Belanda khawatir dan malah dipersilahkan menginap di Matesih sampai bulan puasa berakhir dan De Kock sangat menyesali keputusannya ini.

Tanggal 28 Maret 1830, De Kock kembali mengundang Pangeran Diponegoro. Undangan ini tentu saja hanyalah kedok untuk menangkap Diponegoro. Sesampai di Magelang, Diponegoro menemui De Kock dan diadakan perundingan. Pada perundingan tersebut Pangeran Diponegoro mengajukan syarat perdamaian agar dirinya menjadi Panatagama di tanah Jawa. Perundingan tidak menghasilkan kesepakatan dan Diponegoropun ditangkap. Pengikut Diponegoro berusaha membebaskan tetapi dicegah oleh Pangeran Diponegoro. “Ora popo. Wes dadi garise. Iki wulan Syawal. Ora apik ono perang lan keributan,” begitu cegah Pangeran Diponegoro. Akhirnya Pangeran Diponegoropun diasingkan hingga ajalnya menjemput pada usia 70 tahun di Makasar.

Berakhirnya Perang Jawa merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang ini memakan korban sebanyak kurang lebih 8.000 serdadu eropa, 7.000 prajurit pribumi, dan kerugian material sebanyak 20 juta gulden di pihak Belanda. Sementara di pihak Pangeran Diponegoro telah kehilangan lebih dari 200.000 pasukan Jawa dan material yang tak terhitung jumlahnya. Walaupun kekalahan diderita oleh pihak Diponegoro, namun semangat juang mereka tidak pernah dilupakan sejarah. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Sekalipun Belanda semakin berkuasa di Pulau Jawa dengan dicaploknya beberapa wilayah mataram tetapi Diponegoro dan pendukungnya telah membela kehormatan bangsanya.

Pesan Diponegoro: Aja angalaaken wong kang becik
                               Lan aja ambeciaken wong kang ala
                               Lan aja anganiaya wong akeh
(Jangan menjelekkan orang baik. Jangan menganggap baik orang yang jahat dan jangan menganiaya orang banyak)

Sumber Referensi: Syamsul Ma’arif.2014. Jejak Kesaktian dan Spiritual Pangeran Diponegoro.Yogyakarta: Araska.

Kayu Mlaku

Ini salah satu karya adikku (Nurantika Umi Wijayanti) yang malu-malu saat kuintip ceritanya.



Sawise musim rendeng tahun 2009 bocah ing desaku rame pada dolanan. Nganti-nganti musim kuwi iso disebut musim dolanan. Tahun kuwi dolanan urung kaya tahun saiki sing energine seko listrik utawa baterai, nanging isih tradisional. Saben sore bocah-bocah desa rame pada dolanan ing lapangan desa. Dolanan sing pada dimaenke ono layangan, egrang, gobag sodor, breg-bregan, lan kucing-kucingan. Bocah sing duwe layangan utawa egrang kuwi ora tuku, nanging digawekake bapak utawa simbahe. 

Nek ra keliru, tahun kuwi aku kepingin iso dolanan egrang. Udu egrang batok, nanging egrang kayu utawa preng. Sebabe kepengen iso, gara-gara ngematke sedulurku iso mlaku nganggo egrang ing tengah lungka utawa lemah sing wis dipacul. Ngematke gampang gor jelak jelek kaya mlaku biasa.
“Va, aku oleh nyileh egrangmu ra?” olehku nembung karo Urva, sedulurku.
“Ya, ngati ati,” jawaban cendhak neng jelas seko sedulurku.
Aku nyaba nganggo, sikilku napak neng pancikan gon egrang. Urung ana sak menit “brek” aku niba mengkurep. Dengkul karo sikutku ngilu. Sedulurku nyengigis. Bar dina kuwi aku saben sore diajari nganggo egrang neng sedulurku. Sedulurku bakal jagani seko ngarep. Sikilku dikon napakke gon pancikan egrang. Luwih parah “brek” aku tiba nibani sedulurku, nanging ora ono sek parah gor rado perih neng sikutku mergane keno watu. 

Olehku latian egrang ora cukup sedina, nanging ngasi pirang-pirang dina. Olehku nibo ya ra gor pisan pindo, nanging bola bali nganti aku lali. Nganggo egrang nyat angel nanging bakal iso nek gelem sregep  latian. Sawise iso nganggo egrang aku nembung karo bapak kon gawekke egrang.
“Pak kula nyuwun dipun damelake egrang preng,” olehku nembung.
“Sesuk ya saiki jileh gone Urva sek,” jawabane Bapak.
“Nggih Pak,” sambunganku.
Sawise iso nganggo egrang, aku sak konco rame-rame pado dolanan egrang ing lapangan desa bareng-bareng. Seneng rasane iso nganggo kayu mlaku hehe...

Secuil Tentang Pilkada 2015



Beberapa waktu belakangan ini, aku banyak menghabiskan waktu di kabupaten terluas di DIY. Kabupaten yang mahsyur karena potensi wisata alam paling hits dan menjadi tranding topic di berbagai media. Yups, aku sedang berbicara tentang Gunungkidul. Tanah yang kuhirup baunya ketika pertama ibu melahirkanku ke dunia. Daerah yang tanahnya berkolaborasi apik dengan batuan karst dan menghasilkan kerak di cerek air. Dataran tinggi yang menghijau di musim hujan dan meranggas di musim kemarau. Wilayah yang lengkap dengan kebun budaya, kebun adat istiadat, pusar dari tali keramahan masyarakat, dan segudang kuliner yang ndeso semacam jangan lombok maupun makanan ekstrim seperti walang dan uler goreng.
Sayangnya, kali ini aku tidak akan ngobrol maupun ngobral keelokan alam yang ditawarkan tanah yang berslogan handayani (hijau, aman, normatif, dinamis, amal, yakin, asah asih asuh, nilai tambah, dan indah) ini. Aku mau rasan-rasan tentang hal yang kurasakan di penghujung tahun. Kenapa disebut waktu krusial sekaligus rawan? Hari ini, 9 Desember 2015 ada hajat nasional yang diberi judul pilkada alias pilihan kepala daerah. Terlepas dari tujuan yang tentu sangat mulia, yaitu memajukan Gunungkidul, aku ingin menuliskan beberapa hal yang terjadi.
Pertama, aku yakin setiap orang ingin hidup makmur (kalau kata makmur terlalu tinggi maka aku menggantinya dengan kata hidup lebih baik). Prosentase taraf hidup baik tentu diukur dari banyak hal. Baik itu peningkatan kapasitas fisik maupun non-fisik, perkembangan statistik berupa penurunan angka kemiskinan, perbaikan bidang pendidikan, kesehatan, pemerhatian budaya, kuatnya tiang ekonomi, dan lain sebagainya. Akan tetapi, pencapaian tujuan tersebut sering kali menumpulkan pola pikir sehingga menghasilkan tindakan-tindakan yang (jujur) sungguh memuakkan.
Lihat saja saat kampanye maraton yang berpusat di Lapangan Karangrejek awal Desember lalu. Setiap calon yang memasarkan diri mengerahkan massa yang luar biasa banyak dengan tindakan yang menurutku sangat kurang etis. Para simpatisan (ehem… berbayar) seakan menjadi dewa jalanan. Pengguna jalanan harus mengalah ketika berpuluh-puluh truk, motor, dan kendaraan pribadi yang berular tangga lewat di jalanan. Polisi yang diterjunkanpun bukan main jumlahnya (plus sibuknya). Herannya, hampir 80% para pengendara motor tidak memakai helm tanpa ditilang (Ah, sudah biasa). Bahkan, tidak sedikit yang mengubah knalpotnya menjadi knalpot gaul blombongan lengkap dengan adegan fenomenal tril-trilan (dalam hati aku membatin: Apakah nyawamu lebih rendah harganya dari 50.000?) Beberapa ibu-ibu terlihat menggendong bayi-bayinya di siang yang panas (Apakah suaramu lebih berharga dari anak yang katanya kau cintai? Belum lagi umpatan kata-kata kotor menjadi menu wajib yang bisa didengar dan ditiru dengan mudah. Pendidikan karakter anakmu seharga 50.000 ya?). Sementara yang datang dengan mobil angkutan bus wisata, truk, mobil carteran tidak kalah seru. Simbah-simbah berjarik yang menenteng botol mineral, bapak-bapak yang bercaping, anak-anak muda yang gaul dengan sepatu tinggipun tak mau kalah. (Note: saat itu Jalan Baron menjadi jalur resmi yang kulewati bahasa kerennya bisa disebut saksi hidup hehe…) Mereka datang dengan satu tujuan: sebagai simpatisan atau demi beberapa kilo beras? Seperti inikah pendidikan politik yang katanya membuat mereka melek politik? Menurutku ini pembodohan politik! Jelas bukan rahasia lagi mereka datang secara gratis (ehemmm). Bukankah selalu ada harga yang bisa dibayar? Termasuk dalam panggung politik yang katanya mendewasakan ini (hahahaha…)
Alangkah lebih arifnya jika pendidikan politik bukan sekedar bertumpu pada tumpulnya harga nominal. Penyadaran arti penting demokrasi tentu bukan harga mati yang hanya dapat dilaksanakan melalui kampanye (yang minim kesadaran harga nyawa dan harga diri-mungkin). Coba kalau peserta kampanye tertib dengan atribut keselamatan yang lengkap dengan sistem yang santun tentu kata-kata kampanye semau gue bakal bias adanya (tapi tampaknya sangat sulit).
Kedua, bukan rahasia lagi kalau umpan-umpan nominal adalah kenyataan yang menggiurkan. Di sekitar rumahku, calon tertentu (sekedar catatan tahun ini Gunungkidul punya 4 calon) membagikan souvenir berupa sarung cantik. Bahkan, bapakku mendapat 4 sekaligus. Aduh, makasih ya pasangan calon yang berbaik hati membelikan peranti ibadah buat bapakku hehe… Pasangan yang lain tak kalah seru. Setiap kepala diberi harga 25.000/orang. Murah ya? Ah, itu juga udah makasih banget bisa buat beli pulsa buat telepon pacar kan tinggal duduk manis dan pulang dapat amplop wkwkk… Urusan nanti milih calon yang bersangkutan atau tidak itu nomor dua hahaha…
Sedikit cerita, awal kuliah S1 aku pernah memanfaatkan momen ini. Ceritanya, sebuah partai menjanjikan iming-iming yang sebetulnya tidak menggiurkan. Aku dikontak oleh seseorang untuk meng-handle sebagai pembawa acara. Tanpa banyak cincong akupun mengiyakan dan acarapun berlangsung cukup meriah dengan jumlah pemuda yang hadir mencapai 50-an. Jumlah yang cukup banyak mengingat pemuda di daerahku termasuk gila merantau. Ending-nya kami mendapat sponsor peralatan olah raga dan sejumlah uang yang sampai saat ini aku tidak tahu bentuk uang maupun barangnya. Motifku saat itu adalah agar masyarakat memperoleh manfaat, itu saja. Terlebih, saat itu aku tidak mengiyakan akan mendukung partai tersebut. Aku mengatakan bahwa massa pemuda di desa kami cukup besar sehingga berpotensi menghasilkan suara tanpa merujuk ke partai yang di depanku jadi aku tak punya kewajiban untuk mendukung partai tersebut haha... Hal yang senada juga dilakukan bapakku yang mendapat souvenir cantik. Bapak secara tegas menyatakan tidak akan memilih pemberi souvenir karena perbedaan kepercayaan.
Eitsss, jangan senang dulu karena tim sukses sekarang lebih pandai. Biasanya mereka memasang telik sandi di desa-desa yang telah diberi suntikan dana untuk memastikan bahwa desa tersebut memilih pasangan yang diunggulkan. Di desa X masyarakatnya lebih cerdas. Kulihat beberapa pasangan calon masuk dan dengan rela hati menerima semua uluran kebaikan hati pasangan. Semua diterima baik  barang maupun uang dan digunakan untuk kemajuan desa (kas desa). Perkara pemilihan itu urusan hati. Ketika kutanya, “Bagaimana kalau nanti ditanya tim sukses kok pasangan ini tidak menang?”. Dengan enteng mereka menjawab, “Kami sudah berusaha sebaik mungkin tapi pasangan yang itu lebih banyak ngasihnya. Jadi tahun-tahun depan kalau mereka masuk lagi biar lebih gede sumbangannya” Aku ketawa ngikik mendengar jawaban bapak ini. Pasangan calon pandai tapi masyarakat sekarang juga lihai. Siapa membodohi siapa sekarang hahahaa…
Aku masih punya cerita yang di salah satu media disebut sungguh-sungguh terjadi. Pasangan calon X beberapa tahun yang lalu memberi bantuan berupa karpet masjid dan perbaikan genting secara full lengkap dengan janji menang atau kalah tidak masalah. Setelah pilihan selesai, ternyata pasangan tersebut kalah telak. Kecewanya ya ampun banget! Karpet dan genting yang sudah terpasang indah dicopoti hingga menyisakan masjid gundul alias tanpa kepala. Miris sekali! Kok ada mengatasnamakan Tuhan demi kekuasaan dan popularitas. Benar kata Gie bahwa di kota, Tuhan hanya nama asing yang formal belaka. Andai kamu masih hidup Gie, slogan itu telah menyublim ke desa-desa kecil di Wonosari seperti yang kurasakan saat ini.
Ketiga, pasangan yang bijak tentu harus bisa berkampanye dengan bijaksana pula. Nyatanya? Gigit jari dulu deh. Tidak sedikit yang memasang umbul-umbul dan potret paslon di pohon. Hello? Katanya arif? Kok merusak lingkungan? Kalau pohon bisa ngomong mereka bakal teriak,”Aku tidak akan memilih orang yang melukai tubuhku.” Lho,lho… sebentar. Itukan yang memasang kadernya bukan paslon, sebuah suara menyelaku. Aku tersenyum. Kalau calon pemimpinnya arif tentu mereka memiliki cara pengaderan yang lebih baik untuk mendidik para kadernya agar bersikap lebih bijaksana mana yang patut dan tidak jawabku enteng.
Masih di poin pendidikan karakter. Kampanye biasanya dijadikan ajang serang dan menyindir pasangan lain. Mereka mengunggulkan bahwa dirinya paling baik daripada yang lain karena lebih cerdas, lebih memperhatikan rakyat, dan lebih-lebih yang lainnya. Sementara lihatlah pendengarmu Pak Bu! Mereka yang katanya simpatisanmu membawa puluhan anak-anaknya yang nanti akan menjadi generasi masa depanmu. Bapak dan Ibu yang terhormat telah mengenalkan cara mencaci dan menyudutkan pihak lain secara terbuka kepada para punggawa yang nantinya kalian gadang memegang tanah Gunungkidul ini! Sejak kapan anak-anak masuk dalam daftar peserta kampanye ya? Ah saya lupa tetapi kalau tidak salah ada undang-undang yang menyatakan pelarangan anak-anak ikut dalam kampanye. Kalau tidak salah loh ya kan saya sering lupa. Ini juga to yang namanya pendidikan karakter dalam berpolitik? Lagi-lagi saya lupa.
Kamu anti demokrasi ya? Kamu bisanya menyerang dan melecehkan pemilu! Suara seseorang di belakangku. Oh, gitu ya. Maaf ya Mas Mbak, aku bukan antidemokrasi. Aku adalah pendukung fanatik peletakan demokrasi di negeri ini. Kamu golput ya? Sekali lagi maaf ya Mas Mbak, aku punya pilihan. Aku hanya menyajikan fakta di sekitar dan sedikit menimbang bukan berarti aku antipemilu. Catet! Saya mendukung penuh upaya perbaikan di tanah ini hanya saja cara yang digunakan menurutku perlu dikritisi. Bukan tidak percaya tapi ada harapan di benakku bahwa pendidikan politik di negeri ini (Gunungkidul yang sumpah kucintai) bisa dilakukan dengan cara yang lebih arif. Para calon pemimpin perlu mengingat bahwa saat ini masyarakat tidak terlalu bodoh ketika ditawari cara-cara kotor yang sungguh melukai harga diri dan tujuan demokrasi ini.
Hidup suara tidak dibeli!
Hidup pendidikan karakter bernurani!
Hidup demokrasi!
Dan hidup harga diri!

(9 Desember 2015 12:06 waktu Pacing Kidul Pacarejo Semanu Gunungkidul)