Selasa, 03 Februari 2015

Tentang Mustakaweni Maling (Part 2)

 Sentuhan modern terlihat pada penggunaan proyektor untuk menggambarkan latar panggung yang lebih dramatis. Penontonpun dikocok perutnya dengan kehadiran Punakawan yang terdiri dari Gareng, Petruk, Semar, dan Bagong. Kemunculan keempat tokoh ini cukup menyegarkan suasana karena tingkah mereka yang lucu dan tolol.

Animo masyarakat terhadap pementasan wayang wong ternyata cukup tinggi. Hal ini terlihat dari banyaknya pengunjung yang datang dari usia anak-anak hingga dewasa. Pertunjukan yang sudah jarang dipentaskan seperti wayang wong ini merupakan media yang baik guna memperluas wawasan budaya jawa bagi para generasi penerus. Selain itu, petunjukan ini juga dapat difungsikan sebagai sarana penanaman nilai-nilai budi pekerti dan rasa nduweni bagi masyarakat pada umumnya.

Tedapat satu kekurangan dalam pementasan ini menurut saya, yaitu suara para tokoh terutama tokoh perempuan kurang keras sehingga dialog tidak dapat diikuti secara keseluruhan. Adanya mikrofon di atas para pemain belum sepenuhnya membantu. Apalagi jika dialog diiringi dengan musik, suara para pemain hampir tak terdengar. Meskipun begitu, penonton tetap dapat mengikuti pertunjukan dengan panduan leaflet yang dibagikan sebelum masuk ruang pertunjukan.

Secara garis besar, saya bangga menjadi bagian dari saksi sejarah pagelaran budaya ini. Sebagai generasi penerus sudah menjadi kewajiban kita untuk ikut andil dalam pelestarian budaya bangsa. Contoh sederhananya dengan mempelajari warisan budaya yang ada, menonton pertunjukan, memberikan review, dan membagi info berkaitan dengan pementasan budaya supaya semakin banyak masyarakat yang menikmati budaya ini. Terakhir, di tengah kehidupan yang segala sesuatunya berbasis teknologi ini sudah selayaknya para generasi penerus menjadi pengawal kelestarian budaya bangsa yang adi luhung, bukan sekedar mematung ketika melihat kenyataan budaya mulai luntur tergerus umur. (Rd_011215)

Tentang Mustakaweni Maling (Part 1)

 Sadar atau tidak, Yogyakarta sudah menjadi rumah segala bangsa bagi para pelancong dari berbagai belahan dunia. Selain kental dengan budaya Jawa, Yogyakarta menawarka sejuta kata eksotis dan romantis bagi para penikmat seni. Salah satunya, aku yang beruntung dapat menyaksikan pagelaran wayang wong pada sabtu malam (31/1). Pertunjukan yang berjudul “Mustakaweni Maling” ini digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogykarta.

Berbicara tentang seni tradisi, tampaknya tak pernah habis diperbincangkan. Nah, pengalaman menyaksikan kisah cinta Mustakaweni yang mengharu biru ini yang ingin saya bagi dengan kalian. Begitu acara dibuka, suara MC menyambut para hadirin yang duduk manis di kursi penonton. Pembukaan disampaikan dalam bahasa Jawa alus. Meskipun terdapat beberapa frase yang kurang saya pahami, tetap saja sambutan ini terasa mewah seperti pada upacara perkawinan. (Sebenarnya malu tidak begitu mengenal baik budaya sendiri).

Part kedua gendhing pembuka yang jos gandhos langsung mengudara. Suasana mistispun menyelimuti ruangan. Sayapun larut dalam dalam alunan gendhing yang begitu energik dan menawan. Selain gendhing Jawa, pertunjukan ini juga merupakan salah satu bentuk akulturasi budaya. Hal ini terihat dari dimasukkannya lagu-lagu sholawat dalam gendhing-gendhing yang dimainkan. Sholawat ini semakin menunjukkan bahwa budaya Jawa fleksibel disandingkan dengan budaya-budaya yang lain.

Bagian yang paling menarik dari pertunjukan ini adalah aransemen musik yang luar biasa dengan tata kostum yan mewah. Kostum yang dipakai para pemain tetap mengedepankan nilai klasik tanpa mengesampingkan cita rasa estetik. Para penari dan tokoh utama terlihat cantik dan gagah dalam balutan busana yang elegan. Begitu pula kostum para raksasa yang berambut panjang lebat (jimbrak-jimbrak) terlihat unik.