Selasa, 31 Maret 2015

Ibu dan Selat Solo



Aku memiliki pengalaman yang sederhana tapi cukup menggetarkan beberapa waktu lalu di kantin. Rasanya kok lama gak mampir padahal setiap hari hilir mudik melewatinya hehe... Setelah melihat daftar menu yang tersedia, pilihanku jatuh pada selat solo. Sang Ibu yang biasa melayani  pesanan tersenyum ringan. Sambil menunggu pesanan datang, aku mengecek email. Beberapa menit kemudian pesananku datang. Melihat tatanan yang menarik dan aroma kuah yang sedap, selera makanku langsung timbul. Tetapi yang kulakukan pada detik berikutnya adalah mengembalikan mangkuk daging yang diletakkan terpisah dengan kuahnya.

“Bu, saya gak makan ayam, dagingnya diambil saja,” kataku setelah meminta maaf. Si  Ibu yang tadi sibuk dengan bahan gado-gadonyapun sedikit terkejut.

“Lalu gimana, Mbak? Gak pakai daging?” tanyanya sambil menerima mangkukku.

“Tidak apa-apa Bu, soalnya saya gak makan daging,”kataku sambil berlalu menuju mejaku. Si ibu ternyata malah menyusulku. 

“Mbak kalau gak pakai ayam gak papa?”tanyanya dengan sedkit sungkan.

“Tidak apa-apa, Bu”, jawabku.

“Kalau begitu, ayamnya saya ganti pakai telur, ya?” 

“Tidak usah Bu, tidak apa-apa. Beneran,” aku meyakinkannya sambil tersenyum.

“Mbak gak alergi telurkan?” tanyanya tak mau kalah.

“Tidak, Bu. Tidak apa-apa,” aku berusaha menolak.

Selat Solo
“Mbak, saya tambah telur ini ya,”katanya sambil meletakkan telur di meja (tanpa permisi),”Paket nasinya itu pakai ayam, kalau Mbak gak pakai ayam sementara bayarnya sama nanti bagaimana pertanggungjawaban saya sama Tuhan?” tanyanya.

Toeng Toeng… Aku melongo. Ini makan siang yang ngurusi daging ayam tiba-tiba berbelok haluan membahas Tuhan?. Sedikit kaget sebenarnya. Ah, memang Tuhan fleksibel kok dibahas dalam segala kondisi, batinku. Agar tidak menjadi perhatian pengunjung lain karena dari tadi ribut, akupun menyilahkan Ibu meletakkan telur tambahan di mangkukku. Si ibu pun berlalu sambil tersenyum puas. Dalam perjalanan pulang aku berpikir tentang ucapan Ibu barusan. Sekecil apapun perbuatan kita nantinya akan diminta pertanggungjawaban oleh Tuhan. Oleh karena itu, setiap individu harus berhati-hati dalam menunaikan tugas dan tanggung jawabnya. Sebuah pembelajaran makan siang yang menarik.

Kamis, 26 Maret 2015


Dan aku membencinya saat seperti ini aku masih menyebut namanya. Bahkan, dalam malam sepi dan hiruk pikuk aku masih diam-diam merindukannya. Dan yang lebih parahnya lagi, tak pernah sekalipun aku berusaha membunuh rasa. Semakin besar aku membencinya bayangannya semakin jelas menyapa.

Tulisan itu aku temukan di baju Nias sesaat setelah kami berenang. Mungkin sesuatu dari masa lalunya kembali menyeruak pikirku singkat. Kumasukkan kertas itu rapi seperti sebelumnya. Serapi aku menyimpan nama seseorang yang… ah sudahlah. Mari aku lanjutkan cerita pertemuanku dengan Nias 4 tahun yang lalu.

Saat itu senja pukul 17 lewat 22. Seorang pemuda membawa layang-layang setengah robek. Tanpa basa-basi dia menghampiriku dan memintaku memegang salah satu sisinya.

“Tolong ya, aku butuh bantuanmu,” katanya saat itu.

Aku tidak mengenal pemuda ini. Tapi aku pikir tak ada salahnya membantu bukan? Lalu akupun mengikuti perintahnya tanpa bertanya. Dia sibuk mengeluarkan lem dan gunting. Aku mencium aroma vanilla and something sweet. Sebuah kolaborasi rasa yang menggoda (ehem, untuk ukuran cowok maksudku).

Nias
“Yip, makasih ya,” katamu begitu robekan layang-layang tersamar oleh lem. (Untuk memberikan kesan dekat, aku memakai sapaan aku-kamu untuk menyebut kami)

“Aku suka pantai ini. Bersih, sepi, dan anginnya selalu bersahabat,” katamu membuka percakapan. Bahkan, ketika aku masih diam, kau malah mengisahkan tentang banyak hal. Ya, kurasa ini semacam kesanmu.

“Aku belum lama tinggal di sini. Baru beberapa bulan yang lalu tapi aku merasa menemukan jiwaku di sini. Aku merasa dekat tanpa risi. Pantai ini selalu menyapaku,” katamu panjang lebar.

Sebuah cerita yang cukup intim meski tanpa perkenalan. Bahkan, kau tak pernah menanyakan namaku sampai berminggu-minggu kita menghabiskan waktu di pantai. Ok, fine, memang sebagian besar kamu yang ngomong dan aku berlaku sebagai pendengar setia. Tapi setidaknya kita bisa disebut tetap berkomunikasi bukan? Hehe… Dan gilanya aku tak pernah bosan mendengar meski ceritamu kadang ngawur. Dari sanalah pertemanan ini terjalin tanpa perkenalan satu sama lain.

“Woi… ayo keburu malam!” teriak seseorang dari belakang kami.

“Sebentar,” jawabmu. Kaupun segera mengambil baju di samping istana pasir yang kita bangun.

“Aku pergi dulu. Diselesaikan ya. Sayang banget kalau kolamnya gak jadi karena aku pergi,”katamu sambil mengangkat layang-layang. Aku mengangguk. Kaupun pergi sambil berlari-lari kecil. Aku kembali tenggelam dengan istana pasir hingga tanpa sadar ternyata kau berjongkok di belakangku.

“Aku Nias. Senang bisa menghabiskan sore bersamamu,” katamu lembut. Aku tersenyum. Dan kamupun tersenyum. Sumpah!!! aku menggigit bibir. Lekukan bibirnya simetris sempurna. Lalu kau berlari meninggalkanku yang masih termangu. Itulah hari aku tahu namanya. Sekaligus sebuah persembahan senyum termanis yang pernah kulihat.


Sampai sekarang belum ada yang mengalahkan bagaimana perasaanku terhadap senja di pantai. Tempat yang pada detik pertama membuatku jatuh cinta. Senja yang elegan dan tak pernah membuatku bosan. Suasananya membuatku berdegup kencang dan berdenyar-denyar nikmat. Rasanya sulit melukiskan hal yang begitu indah hanya dalam beberapa rangkaian kata. Dan saat senja itu pula dialogpun dimulai.

“Tapi kamu menghilang,” kataku lirih.

“Aku tidak pernah benar-benar menghilang. Aku hanya belum cukup percaya diri untuk bersamamu. Karenanya aku menghindar.”

“Dan kamu tetap tidak pernah percaya diri setelah banyak tahun kita lalui bersama? Dan setelah begitu banyak pahit dan luka?”

“Aku takut mengganggu waktumu.”

“Bahkan , kau tidak mempertimbangkan perasaanku.”

Senja
“Tidak mulai sekarang. Tak akan kubiarkan kau pergi. Aku akan menggenggam tanganmu lebih erat dari biasanya. Aku akan mengiringi banyak harimu ke depan.”

“Apakah artinya kau akan bersamaku?” tanyaku ragu.

“Tentu,” jawabmu mantap.

“Artinya kamu tak akan pergi lagi?” ulangku tak percaya.

“Ya. Bersama menua hingga senja. Suatu saat nanti, kita akan selalu menghabiskan waktu berdua di pinggir pantai menunggu matahari tenggelam.”

“Romantis sekali.”

“Tidak jika dengan yang lain,” jawabmu pelan.

“Aku mencintaimu.”

“Aku lebih dari yang kau tahu.”

Aku tersenyum dan kamipun berdiam menatap kabut yang mulai turun.
Ini petikan yang romantis dan sukses membuatku meleleh setelah membacanya. Epilog yang indah untuk sebuah kisah yang tidak sebentar. Sebuah catatan: semoga bahagia. Dan kurasa aku perlu membubuhkan amin di belakangnya.

Surat Dalam Koran


Minggu pagi adalah waktu favorit bagi kebanyakan orang, begitu juga denganku. Seperti biasa, aku libur kerja dan menunggu kabar pagi dari loper koran langganan. Dan seperti kebiasaan pula, Si Mas Koran terlambat. Huh, kebiasaan buruk tiap habis pertandingan bola. Kebanyakan lelaki memang begitu, batinku. Belum selesai keluh kesahku, Si Mas Koran sudah nyengir di atas sepedanya.

Sebagai penebus keterlambatan ini aku berbaik hati, Neng” sapanya sumringah.

Maksudnya?” tanyaku sedikit dongkol.

Bukanya  nanti kalau saya sudah jauh ya,” katanya ketika memberikan koran.

Masih sambil mengenyitkan dahi aku membuka lipatan koran secepat Mas Koran pergi. Aku sudah tidak sabar ingin tahu maksudnya. Dan ternyata? Tratataaa!!!... sebuah surat berpita dengan sampul pink. Wow… Aku selalu suka kejutan. Terlebih aku suka mendapat coretan cerita dari orang-orang di sekitar. Aku membaca dengan sedikit tak sabar.

Aku tetap kuat
Aku tak bisa mengelak. Aku terus memikirkanmu akhir-akhir ini. Aku duduk. Aku diam tapi rasanya ada kursi kosong, ada bangku tak berpenghuni. Dalam petikan itu sering aku berkhayal kita berjalan di semenanjung dan bertatap dalam kata, “masihkah rindu?”

Apa memang seakut itu amnesiamu? Kamu memang tak pernah muluk berjanji tapi aku melihat tiap upaya untuk membahagiakanku. Kamu begitu manis dan lembut. Aku tak tega kau terluka. Aku berusaha ada dan bersama. Kamu berbeda. Dan sampai detik ini kau masih orang yang spesial. Ini diplomasi yang penting bagi hidupku. Bagaimana denganmu?
Aku kangen

Deg!  Aku terkesiap dan hatikupun berubah senyap. Aku mengenal dengan sangat baik tipe tulisan ini. Apakah dia di sini? Apakah dia kembali? Dia pasti tahu banyak tentangku. Dengan kata lain??? Saat ini dia di sekitar dan dekat.

Jumat, 20 Maret 2015

Piknik Ke Kebun Strawberi


Jalur pemetikan strawberi

Berbicara tentang piknik hampir dapat dipastikan bahwa semua orang akan mengacungkan tangan saat diajak berpiknik. Bagiku piknik sendiri lebih menyenangkan daripada kata liburan, weekend, main, kumpul-kumpul, atau dolan. Piknik berarti memberikan ruang pada jiwa untuk berdialog lebih lama dengan alam tanpa batasan-batasan yang menjemukan. Piknik identik dengan menggelar tikar dan membawa bekal. Meskipun bekal yang kubawa cuma biskuit dan air mineral, aku menyebutnya piknik. Kenapa? karena aku juga duduk di tikar dan menikmati jajanan pasar di pinggir jalan. Yups, aku akan bercerita tentang piknik ke kebun strawberi.

November tahun lalu saat aku berulang tahun yang kesekian (ehemmm berasa tua hehe…) rencana pergi ke kebun strawberi adalah keinginan terdekat.  Setelah googling dari dunia maya dan nyata diperoleh kesimpulan bahwa waktu terbaik menyambangi kebun ini adalah pada awal tahun saat musim masih basah. Berbekal infomasi tersebut, akhirnya rencana mengunjungi kebun strawberipun menjadi kenyataan di bulan Februari 2015. Singkat kata, untuk meraih suatu hal gunakan mimpi adalah bekal terdekat.

Proses pematangan strawberi
Lokasi kencan dengan strawberi yang aku pilih adalah daerah Ketep Magelang (ehem *kota dengan kenangan yang kurang begitu baik kurasa).  Ah, sudahlah, mari sedikit berdamai dengan masa lalu dan tidak membicarakan masa yang telah lewat.  Segala hal yang telah terjadi adalah pembelajaran agar selanjutnya menjadi lebih baik. Yeah, setiap orang pasti memiliki alasan menyukai sesuatu. Termasuk perasaanku terhadap buah lucu ini. Berbicara tentang rasanya yang masam mungkin tidak banyak yang mengidolakannya karena rata-rata buah yang disukai yang bercita rasa manis. Akan tetapi, strawberi memiliki cita rasa yang khas sehingga aku tak bisa berhenti bilang suka, yaitu kesegaran rasa dan bentuknya yang imut elegan.

Rute menuju lokasi kebun ini sangat mudah. Dari arah Ketep lurus saja kurang lebih 1 km dan di kanan kiri kalian akan menemui kebun strawberi dan aneka buah. Perpaduan udara yang sejuk dan vegetasi tumbuhan yang heterogen akan memanjakan mata siapapun yang memandang. Untuk bagian ini secara khusus aku hanya akan bercerita tentang kebun strawberi. Pilihankupun jatuh pada sebuah kebun di sisi kanan jalan yang mencolok dengan poster berlabel Inggit Strawberry yang merah menggoda. Kebun ini terletak di daerah Banyuroto Sawangan Magelang. Selektif memilih yang terbaik dan bernilai tinggi itu penting agar tidak menyesal ketika sudah masuk ke bentara di dalamnya. Dibanding beberapa kebun yang lain, kebun ini lebih tertata rapi dan lebih subur dengan daun-daun yang menghijau segar. Setelah membayar retribusi Rp 2.500/orang, petani strawberi akan memberikan keranjang kecil dan gunting untuk memanen strawberi. Betapa girangnya aku saat itu menjadi bagian dari sebuah keinginan yang telah lama kuharapkan. Aku merasa menjadi petani strawberi yang sebenarnya. Menyenangkan!

Kebun strawberi Bu Inggit terbagi atas 2 tempat, yaitu level atas dan level bawah (meski ketika pulang ternyata terdapat lokasi kebun Bu Inggit yang lain). Bagian yang mendekati jalan raya daunnya lebih sehat dan gemuk dibanding bagian ujung yang mendekati jurang. Biasanya yang dekat memang lebih diperhatikan dan lebih dianggap bernilai meskipun you knowlah hehe... Analisisku mungkin karena faktor matahari dan pengawasan. Bagian pertama yang kujelajah adalah kebun level bawah yang lebih sempit daripada level atas. Pada level atas terdapat kolam yang merupakan sumber utama untuk menghidupi si tumbuhan lucu. Saat itu pukul 09.00 pagi para pekerja sedang menyirami dan memberi pupuk. Bagusnya lagi strawberi ditanam dengan menggunakan pot-pot bekas karung beras yang diatur sedemikian rupa dalam kondisi tegak. Hal ini mempermudah dalam hal perawatan dan pemetikan buah. Smart!!!

Petik strawberi
Rasanya jantungku berdegup lebih kencang dari biasannya saat aku memegang buah imut ini langsung dari pohonnya. Ada rasa bahagia, senang, takjub, dan aneka perasaan lebay lainnya e ecieee… Ya gitu deh kaya serasa dunia terbalik. Dunianya orang yang lagi jatuh cinta hahaha… Hanya saja, meski buahnya banyak, cukup sulit menemukan strawberi yang benar-benar merah masak. Dari seorang ibu yang memberiku gunting diperoleh informasi bahwa strawberi masak sudah dipetik saat weekend. Oh, iya aku baru ingat kalau aku datang hari Senin. Pantas saja! Tetapi setelah dipikir, ada baiknya datang pas hari kerja antara Senin sampai Jumat karena pengunjung relatif sepi (tentu saja kau tahu bahwa aku tidak suka segala kondisi yang berisik hehe).

Pada bagian depan pintu masuk terdapat peraturan harap jangan lagsung dimakan tetapi ditimbang terlebih dahulu. Sebagai anak baik, aku mengekor pada peraturan ini. Petik yang disuka dan ditimbang sambil menunggu buah dicuci. Ternyata yang terjadi malah sedikit mengecewakan. Buahnya tidak dicuci tapi langsung dimasukkan ke dalam plastik. Hemm… aku kena jebakan betmentok. Alasan sebenarnya ternyata agar tidak mengurangi jumlah timbangan yang dibawa haha… main juga otak jualannya (meski dalam hati aku juga mikir gak banget makan strawberi langsung yang entah kadar kebersihannya hoekkk). Belum lagi selesai urusan pertama, ketika proses penimbangan dilakukan aku mendelik juga. Memang pada awalnya diinformasikan bahwa harga perkilo Rp 60.000. (Sebelumnya aku sudah browsing harga strawberi berkisar antara Rp 45.000-Rp 60.000). Meski berada pada penawaran tertinggi pikirku masih wajar saja toh kebun yang lain tidak sesegar ini. Aku yang begitu excited melihat kebun strawberi pertama kali menjadi lebay dan asal petik tanpa pikir panjang. Pendek kata, ya sedikit kalap dan setelah ditimbang si mungil ini wow berat juga hahahha… Minta dikurangin juga harga diri dong!!! Jebakan betmentok kedua!!! Xixixi… Makanya buat kalian yang akan memetik strawberi petiklah secukupnya saja atau lebih baik belilah yang sudah dikemas dalam box. Biasanya di gerai tersedia kemasan yang dijual mulai harga Rp 10.000/box. Strawberi kemasan malah merah sempurna karena sudah masak meski tidak sesegar memetik sendiri (saran ini penting agar kalian tidak terkena jebakan betmentok!!! Hahaha…).


Selain buahnya yang imut, perubahan mulai dari bunga yang berwarna putih merah bagiku terlihat indah. Perubahan-perubahan ini membuat aku tak ingin beranjak pergi. Apalagi udara yang sejuk dan tipografi wilayah yang unik membuatku betah berlama-lama (kalau tidak ingat betapa padatnya jadwal kunjungan waktu itu). Yang jelas kalau kalian datang ke tempat ini lebih baik bawa penutup kepala seperti topi/sleyer karena terik matahari cukup nyentrik dan eksis. So, bagaimana? Siap piknik ke kebun strawberi?

Selasa, 10 Maret 2015

Dia (Mungkin Tidak)



Setidaknya itulah frase yang menggelayut di benakku akhir-akhir ini. Seseorang yang mencinta akan menerima semua cerita masa lalu pasangannya sebagai bagian dari pembelajaran dan pengalaman. Jika dia tidak bisa menerima kekuranganmu maka dipastikan bahwa dia tidak mencintaimu. Kekuranganmu dan ketidaksempurnaanmu akan menjadi milik orang yang menyayangi tanpa harus terbayangi masa lalu. Terlebih ketika dia memilih yang lain berarti kamu sudah tak diinginkan lagi. Baginya, orang lain jauh lebih berharga untuk dipertahankan daripada dirimu.

Senja selalu mengesankan.
Jadi ingat kata-katanya Sholeh “Aku kehilangan cinta tapi aku mendapat kenangan (meski menyakitkan)”. Dan berbicara tentang kenangan sering kali membuatku merasa lemah. Dalam hal ini aku termasuk kategori yang sensitif dan sedikit sentimentil. Apalagi kalau dikombinasikan dengan senja, hujan, dan musik romantis. Beuhhh, rasanya mak cesss… Kalau hal itu terjadi dapat dipastikan bahwa sebelumnya aku akan mencuri dengar berita dari Tuhan dan kabur sebelum hal itu terjadi. Hahaa… aku sedikit licik ya…

Lebih lanjut, kejadian demi kejadian secara nyata ikut andil dalam mematangkan perasaan. Gerakan yang semula terlihat sedikit ekstrim mulai tertata secara teratur. Irama perjalanan yang dinamis semakin membukakan mata bahwa apapun yang terjadi kehidupan harus terus berjalan.

Jika senja telah hilang dan tenggelam. Kala hati telah terluka dan terbuang. Sekuat mungkin kuakan membuktikan bahwa hati itu luas tak berbatas. Jika senja pasti akan tergantikan fajar.

Jadi, buat apa bertahan untuk orang yang dengan sengaja dan sadar telah merelakanmu pergi? Masih banyak hal positif yang bisa dilakukan. Di depanmu menunggu tanggung jawab yang lebih besar dan lebih pantas diprioritaskan. Tuhan akan mengganti hal-hal yang dikehendaki-Nya pergi dengan jawaban yang luar biasa indah.