Senin, 27 April 2015

Krakal Di Sana Aku Menyapa



Pantai selalu membiaskan kenangan syahdu. Aku mencintai deburan ombak, gemerisik pasirnya, dan tentu aku tak pernah lupa pada wangi udaranya. Krakal 180415. Tanggal yang tidak unik kurasa. Hanya saja lagi-lagi aku tak bisa memungkiri banyak hal dalam kebersamaan ini. Kalian menyuguhkan aroma pertemanan dalam bingkai yang berbeda. Keraguanku lebur dalam pemaksaan yang mengasyikkan.

Selebihnya, karaoke di pos polisi bukan pilihan yang bisa ditolak. Kalaupun ada lagu yang wajib dibenci maka aku mengutuk lagu “Cintaku Tak Berbatas Waktu”. Dan suerrr…. Itu sedikit mengguncang logika dan perasaan hahaha… Nyatanya aku tak bisa menjawab satupun semua olok-olok kalian. Mungkin aku terlihat sedikit lemah dalam hal semacam ini.

Perjalanan malam bagiku selalu menyenangkan. Tak perlu ribut dengan matahari agar malaikat rapat dan memberi mendung. Akses memang tidak terlalu sulit tapi jauhnya bikin merinding dan amit-amit. Overall, aku suka perjalanan ini.

Rencana pertama pendirian tenda di pantai yang gelap juga bukan masalah serius. Kecuali, pada kebegoan laki-laki yang tidak bisa membedakan mana tenda luar dan dalam. Fiuhhhh…. Meski begitu, alasan “Aku lali je soale gawe tendo zaman pramuka SMP” muncul juga. Ampun deh!!! Hahahhaha… Satu tenda selesai tenda lain menyusul. Begitu pula dengan sepasang remaja pada pukul 23.00. Alih-alih romantis nge-camp di pinggir pantai, puluhan menit mendirikan tenda hasilnya nihil. Ternyata teman-teman anehku masih bernurani untuk membantu. Dan???? Tralalalala… tenda siap huni!!! Acara gabungan tanpa perencanaanpun berlanjut.

Bakar-bakar dan nostalgila tembang-tembang lawas jadi komoditi utama. Sumpah!!! Gundul sih bisa nyanyi tapi ampunnnn. Lagunya era emak-emak tahun 40-an. Jadul ra ketulungan!!! Tapi peace Ndul hahaha. Iringan gitarmu lumayan romantis juga. Meski sedikit basah ketika melirik tenda sebelah tapi aku terima kok. Dan penuh dengan lapang dada tentunya kaya lagunya Sheila  “aku harus bisa bisa berlapang dada. Aku harus bisa bisa terima segalanya. Karena semua semua yo kui mau tak lagi sama hahahha… Miris!

Untuk kali ini biarkan aku ngomong sak karepku tanpa perlu membahas Jawa-Indonesia apalagi subjek dan predikat. Karena orang yang mau tak omongin memang sumpah stress dari lahir. Namanya Yoga. Aku tahu rumahnya meski lupa alamat dan jalannya hahha… Aku akui kalo Yoga itu diva (bukan dalam arti sebenarnya) yang luar biasa (bukan dalam arti sebenarnya) karena gila (kalau ini sebenarnya hehe…). Semua celotehnya bikin nyamuk bubar barisan. Kalau ada orang sakit jiwa pasti tambah parah, kalau dia minus 5 bisa jadi 11 dalam sekejab. Apalagi kalau dia stroke ya wallohualam hehe. Sumpah, aku gak nyangka nemu orang segila itu. Jarene pahlawan tapi ndandak ngojek sampai krakal gegara wedi peteng. Ah, kamu ngisin-isini wong Wonosari. Hoekk…

Orang ketiga dan keempat yang bikin heboh selanjutnya adalah pasangan abnormal polda depok timur (Indro) dan Cempluk (Rara). Kalau diibaratkan dan aku disejajarkan dengan pasangan ini (Rara di tengah) sudah jadi merk hotel terkenal di Jalan Mangkubumi (101) hahaha… Mungkin aku terlihat bodoh Ndro di depanmu. Aku ra popo. Kowe ngece, aku ra popo. Wong isoku mung mesem karo ngguyu. Cen nek tekanan batin ki marai loro pikir hehe…

Sebagai wanita muda (ehemmm…) wajar rasanya aku mengagumimu Pluk Rara. Bukan apa-apa tapi bakat kesimboanmu yang cekatan dalam menyusun daftar menu, menyiapkan makanan dan minuman perlu diacungi jempol. Kamu tahu kapan waktu merebus air dan bikin kopi. Ilmu kesimboan yang perlu diturunkan tentu bukan sekedar buat donat. Galau itu memang berbanding lurus dengan tingkat pembudidayaan lemak kok yo hahhaa… Tegar, kuat, dan tahan banting. Sumpah Pluk kamu mirip merk semen!!!

Absen lagi Om Amurti Si Hidung Petruk. Ah, aku bingung mau nulis apa tentangmu karena agendamu hanya makan dan tidur. Tak sedetikpun kau meninggalkan tenda untuk berbaur dengan kami di laut. Tak kusangka rasa cintamu pada tenda begitu hebat. Semalaman kau tiduri, sepagian kau tunggui. Kamu memang berbakat jadi setia. Aku masih di sini untuk setia eaaaa…

Syafei atau lebih beken dengan nama Pi’i. Kuacungi jempol pada keteguhan hatimu mengarungi liku perjalanan dengan pasanganmu yang begitu penurut. Aku selalu membayangkan betapa setianya pasanganmu. Kalian romantis dalam setiap kesempatan dan itu tak bisa berhenti membuatku iri setengah mati. Hasyekkkk…

Terakhir, Begi. Aku hampir tak tahu deskripsi yang tepat untukmu. Selama ini pertemanan kita begitu baik. Yang jelas aku berterima kasih atas banyak hal. Aku suka naskah ceritanya. Aku suka plot dan setting cerita di dalamnya. Dan aku cuma bisa bilang kalau di atas semuanya, ini manis.

Tentu kenangan dengan kalian adalah bagian terindah dari bingkisan Tuhan bulan ini. Dan harus aku akui kalau saat itu aku menunda pergi tentu aku akan sangat menyesal setengah mati. Untungnya rayuan kalian sedikit maut. Meski hujan dan basah, aku tetap bilang bahwa kebersamaan ini indah. Love U All.