Sabtu, 23 Mei 2015

Sumbing (Aku Kembali-di Penghujung hari)



Banyak hal-hal unik terjadi dalam setiap perjumpaan ini. Berawal dari obrolan ringan ketika camping di Krakal-Ayo Ke Sumbing Lagi- kisah inipun ditulis semakin lengkap. Undangan dari yang punya hajatpun tersiar. Tanpa komado, semangat kembali ke puncak semakin mengkristal. Setahuku Sumbing memang selalu menyajikan hal-hal baru yang menyenangkan.

Saat Mentari 17 Mei 2015
Janji 6 bulan lalu terealisasi, kawan!!! “Sumbing pasti aku akan kembali” janji saat itu. Dan di Bulan Mei 2015 kita kembali menyapanya dengan begitu hangat. Berempat!

Senja 16 Mei menjadi saksi perjalanan kita. Dan senja yang begitu syahdu kita tangkup di Magelang. Kita menyela kemerahannya sembari berkata, “Keindahan ini melengkapi apa yang disebut bersama”. Manis sekali. Suasanapun semakin menegaskan bahwa dalam mencari bahagia, kita tak pernah kehabisan cara. Dan kebersamaan ini pula yang telah meningkatkan status kata kalut menjadi kata yang begitu populer.

Kata orang, kalau belum tersesat tak akan tahu harganya selamat. Dan kita? Melewatinya!!! Tentu dalam hal semacam ini kita tak perlu saling merabunkan mata siapa-siapa yang membelokkan jalan. Ehemmm!!! Aku sih percaya semua ikut andil dalam pembodohan masif ini. Bagaimana bisa jarak yang seharusnya hanya 2 km menjadi 30 km? Dan tak ada yang paling mengkhawatirkan kecuali harus menjelajah malam di tengah gunung tanpa penghuni, tanpa penerangan, dan serangan sakit yang tiba-tiba. Dan di antara semua kekacauan ini kita masih sempat menertawai keadaan. Kekhawatiran dan air mataku akhirnya terselamatkan oleh sebuah tower. Yap!!! Sebuah tower yang katanya cuma itu lho. Ternyata, ealah… adoh, angel dalane, munggah-mudhun medanne, sepine minta maaf, peteng, adem, serem, horror, dan teman-temannya (tapi asik hehe…).

Satu hal yang kupetik di sini: perjalanan ini menguatkan rasa yang mengikat dalam cita rasa persahabatan yang menyenangkan. Dukungan dan bahu-membahu adalah hal terbaik yang kita cipta.

Setelah bergelut 3,5 jam dalam gelap, akhirnya nafas lega berhembus. Pak Sukozim! Hangatnya sapaan keluarga ini selalu membuat kangen. Bahkan, Simbok belum lupa bahwa bakwan panas dan teh hangat di teras rumah saat matahari terbit adalah surga.

Ntc: Terima kasih atas segala hal hebat dan kebersamaan ini teman-teman tercinta. Selanjutnya, 2020 adalah saat nasi megono, nasi merah, dan adzan magrib berkumandang.

Salam hangat dan penuh rindu,
Ridhan







Kepada Fajar (Suatu Waktu Dulu)



Pendosa

Senja di wajahmu
Ronanya mengerlip
Berketip-ketip

Kita ini pendosa klasik
Berwajah sok polos
Dan sedikit dramatik
Hanya kita dan mereka

Kita?
Tetap manusia biasa

Sedikit

Kutelisik wajahmu pagi itu
Sedikit rindu
Sedikit ingat
Sedikit ah
Sedikit senyum
Dan terlalu harus sedikit
Untuk kata padahal

Ehem
Aku masih ingat caramu menggenggam tangan dan berbisik “cah elek”
Hingga hidung memerah dan halusinasi berkembang menjadi cipratan tangan semesta

Pada Semu

Tumpukan ridu
Tak berarti apa-apa
Karena rongganya terlalu besar
Semut angsa hingga jerapah menerabas dengan mudah
Kau dan aku terbelenggu rindu
Yang semu