Senin, 30 November 2015

Usiamu Sudah Tinggi! Kapan Nikah?



Waktu telah menunjukkan dini hari. Namun, mata ini belum juga ingin bersegera melepas penat. Tampaknya dia masih ingin aku kembali mengisi memori-memori yang sekian tahun tertinggal di desa ini. Memang lama rasanya tapi semacam baru kemarin dan tiba-tiba aku sudah hampir berkepala 3. Sebuah pengakuan yang tak mudah bagi wanita manapun tentu saja. Umur masih perkara yang sensitif. Tapi itu tidak berlaku padaku. Aku mensyukuri setiap helai rambut yang rontok, setiap nafas yang berhembus, setiap kedipan mataku yang kadang ditusuk lelah, dan aneka macam lainnya.

Ya, saat ini usiaku hampir 30 dan aku masih lajang. Sesuatu yang mulai dipertanyakan orang hingga kanan-kiri mulai berbisik. Bahkan, orang-orang tua sudah mulai sedikit menekan,”Wes wayahe,Nduk.” Dan aku? masih baik-baik saja dan tidak bergeming pada awalnya. Aku berjalan menikmati hidupku, setiap inchi dan detiknya. Hingga sampai pada saat aku mulai tertarik mengamati bayi yang menyesap jari-jarinya, anak-anak perempuan yang berkucir 2, bayi yang babbling, dan romantisme pasangan muda yang tiap senja mendorong kereta bayi di halaman rumah. Bagiku ini pemandangan yang mulai memantik emotik. Sangat emo sekali!!! Mungkin begini perasaan para Ibu, pikirku. Akan tetapi, yang terjadi selanjutnya aku masih merasa muda, menikmati kegiatan yang tak berujung pangkal, dan menjual kelonggaran waktuku pada dunia. Hehe…

Bagi sebagian besar orang (yang sudah berumur), ngomongin tentang nikah biasanya menimbulkan derita batin tersendiri. Dan lagi-lagi fenomena belum menikah di usia yang sudah dianggap wah inipun menyisakan kemelut yang cukup panjang. Lihat saja dari pihak keluarga yang mulai mendorong, menanyakan, bahkan menjodohkan. Macam salak saja harus dijodohkan agar berbuah wkwk… Sementara di pihak individunyapun tanggapan beragam. Bagi pribadi yang cuek tanggapannya paling juga apatis, ”Nikah? Helow kok kamu ngurusin aku banget sih? Kamu siapa?”. Kamu pernah kena ungkapan semacam ini? Haha… kasihan. Tapi ini ada benarnya juga lho, kadang kekepoan orang itu membuat orang yang berlabel lajang berumur sebel minta ampun. Bagi yang berjiwa santai ya lain lagi jawabannya,”Yaaa... nanti ada waktunya. Tunggu saja. Tak usahlah buru-buru.Tenang saja.” Adem ayem gitu kalo denger jawaban begini tapi bagi penanya tentu semakin menimbulkan sindrom yang dinamakan geregetan. Uhhhhh arghhhhh gitu… iyakan??? Haha…

Bagiku menikah bukan perkara sederhana yang dengan gampang diputuskan ketika hati mulai bertaut. Menikah, bagiku, membutuhkan lebih dari sekedar kata “iya” karena di dalamnya ada serentetan komitmen yang berujung pada hak dan kewajiban yang tidak mudah. Tentu semua orang berharap menikah dengan orang yang tepat dan paling proporsional menurut kadar hatinya. Dan hal itu berlaku pula bagiku. Aku yang penganut monogamipun ingin menikah tanpa berbagi dan memang sudah diniati. Bukan karena dikejar usia dan tuntutan yang itu dan ini. Menikah membutuhkan kesiapan mental, fisik, finansial, dan pengetahuan. Bukan sekedar anut grubyuk. Kalaupun banyak pertanyaan,”Trus mau kapan nikah? Keburu tua!” Senyumin aja. Orang lain tidak akan ikut menanggung jika nanti pernikahan yang diharapkan gagal karena demi meladeni sebuah tuntutan bukan? Semua yang menanggung pada akhirnya adalah individu masing-masing.

“Jadi, kamu belum ingin menikah?” Ah, siapa sih yang tidak ingin menikah? Semua orang tentu ingin menikah. Tapi aku akan menikah jika memang aku sudah menginginkannya, bukan karena siapa-siapa atau apa-apa di belakangnya tapi saat hatiku berkata “iya”. Jadi, kalian memaksakupun jangan salahkan jika harus gigit jari. Maaf banget! Penjamin yang paling pasti adalah Tuhan. Dan akupun menggantungkan doa-doa yang baik pada-Nya. Dan aku yakin bahwa doaku akan terjawab dengan sempurna suatu ketika.
                

Kamis, 19 November 2015

Rambatan Rindu Kepada Seorang Jenderal




Selamat sore sayang,
Kemarilah, Ibu ingin dekat denganmu. Bagaimana kabarmu? Saat ini senja sedang bergulir dengan syahdunya di ujung barat kota ini. Kemari! kemarilah, Nak. Temani ibu bercerita dan melewati sore kali ini. Senja masih menjadi waktu favorit Ibu dan kali ini marilah kita sedikit mengobrol.

Nak? Maafkan Ibu jika kurang ramah saat menyapamu. Ibu harap kamu mau mendengarkan sedikit kata-kata Ibu. Hingga saat ini tak ada yang mampu mengalahkan perasaan ini padamu. Ibu tetap mencintaimu seperti layaknya perempuan-perempuan yang lainnya. Berharap ada saatnya kita bisa menikmati waktu bersama. Meniup lilin saat usiamu bertambah, menyiapkan seragam sekolah, menyiapkan sarapan, menyalakan kembang api saat tahun baru, mengejar kucing yang pura-pura malu saat kau pegang ekornya. Dan tentu kita akan berpiknik dengan ayahmu sebagai keluarga yang lengkap. Harapan Ibu tidak terlalu berlebihan bukan? 

Sayang, Ibu akan senang menunggumu pulang sekolah, berlari-lari, dan menanyakan “Masak apa hari ini, Bu?”. Dan Ibupun akan senang saat melihat bekal sekolahmu habis dan dengan bangga kamu akan bercerita bahwa kamu menghabiskannya bersama teman-temanmu. Lain kali Ibu akan membawakan bekal yang lebih banyak untukmu sayang. Ibu janji.

Hai,Kuda...tetaplah kuat
Dan Ibu juga tak akan lupa untuk selalu mengantar tidurmu dengan dongeng anak-anak. Kamu ingin Ibu bercerita apa nanti malam? Mungkin kamu bosan dengan cerita fiksi? Nanti Ibu akan meminta ayahmu untuk menceritakan pahlawan heroik dari tanah Jawa. Jenderal Sudirman. Ada kata-kata yang sangat Ibu ingat sampai saat ini, yaitu ketika Jenderal Sudirman ingin bergerilya dan meminta izin kepada Presiden Sukarno. Pak Karno meminta Jenderal Sudirman tetap berada di Kota Jogja karena beliau baru saja keluar dari rumah sakit akibat penyakit tuberkolosis akut. Ditambah saat itu keadaan perang tidak menentu begitu sangat carut marutnya. Kamu tahu sayang? Apa jawab Sang Jenderal? Pak Jenderal menjawab dengan mantap,”Pak Presiden, yang sakit itu Sudirman. Panglima Besar Jenderalnya tidak pernah sakit. Tempat yang paling tepat bagi saya ya di tengah-tengah rakyat. Bersama dan mendampingi rakyat”. Jawaban yang luar biasakan, Sayang. Ibu harap, saatnya nanti kamu bisa meneladani sikap beliau. Setiap ingat kata-kata itu, Ibu merinding. Bahkan, ketika kemarin melihat lukisan Sang Jenderal di istana negara, debar ini semakin kuat. Buncah oleh perasaan haru dan bangga, kita pernah punya pahlawan yang begitu luar biasa di masa lalu. Sayang, nanti ayahmu akan bercerita yang jauh lebih hebat tentang sejarah bangsa dan kota ini. Kota yang meniupkan kedamaian dan ruh keromantisan di setiap sudutnya. Itu yang selalu ayah dan ibu rasakan saat di banyak kesempatan mengelilingi kota ini.
Nak, terlalu banyak yang ingin Ibu bagi senja ini padamu. Terlalu banyak cerita. Terlalu banyak cinta. Namun, hari di luar sudah mulai menggelap. Lain waktu semoga kita bisa bercerita yang lebih banyak. Salam kangen dari Ibu dan ayah

Itulah salah satu penggalan surat dari ratusan surat yang baru kubaca hari ini. Tulisan tangan ibuku yang tak sempat kulihat wajahnya lebih dari selembar foto. Tentu saja aku tak semudah anak-anak lain yang cepat mengenal kedua orang tuanya saat lahir ke dunia yang katanya keras ini. Yah, dunia yang keras karena aku tak sempat melihat senyum di kedua bibir orang tuaku. Aku terlahir sebagai anak tanpa bapak. Dan tanpa ibu. Ya, aku lahir yatim sekaligus piatu. Takdir yang menyedihkan? Ya, bagi sebagian besar orang tapi tidak untukku. Aku telah berdamai dengan nasip dan memandang ini sebagai bagian dari sandiwara alam yang indah. Seindah harapan dan kisah kedua orang tuaku yang begitu manis.

Ibuku bukan wanita heroik seperti Cut Nyak Dien yang berperang untuk negeri atau sepandai R.A.Kartini yang memiliki koresponden luas dengan teman-temannya di negeri asing. Ibuku hanya wanita desa yang kata orang selalu belajar demi sebuah cita-cita. Ibuku lulusan fakultas bahasa dan suka menulis banyak cerita. Aku sangat bangga pada beliau karena aku satu-satunya pewaris tunggal yang sah buah pemikirannya. Ayahku yang lulusan managemen akuntansi publik adalah seorang yang kritis dan penyuka sejarah. Salah satu kisah yang sering kudengar adalah tentang Jenderal Sudirman yang juga merupakan tokoh favorit ibuku. Di sinilah aku mulai mengerti bahwa sejarah memiliki eranya sendiri yang tak pernah lekang dari nilai kepahlawanan termasuk kisah Jenderal Sudirman.

Hampir sebagian besar orang mengenal sosok Jenderal Sudirman karena taktik perang yang luar biasa, yaitu perang gerilya. Salah satu perjuangan untuk menghancurkan musuh dengan mengarungi daerah pedalaman dan gunung-gunung sebagai salah satu basis pertahanannya. Sang Jenderal telah memimpin gerilya dalam kurun waktu 8 bulan dalam misi mempertahankan merah putih tetap berkibar di tanah ini. Bahkan, jauh sebelum itu berbagai pertempuran sengit dalam rangka mencapai dan mempertahankan kemerdekaan telah beliau lalui seperti perang Ambarawa dan Serangan Umum 1 Maret 1949. Di tengah situasi yang genting tersebut Sang Jenderal membuktikan darma baktinya pada ibu pertiwi dengan memimpin perjuangan atas nama rakyat di tengah kondisi fisik yang cukup parah. Sebuah kisah unik terselip di sini yang menurutku sangat mengharukan. Sang Jenderal yang lahir dari pasangan Karsid dan Siyem adalah keturunan wong cilik yang ikut berjuang dan sejak dalam kandungan. Sebelum Sang Jemderal lahir, keluarga Karsid dan Siyem meninggalkan daerah Kalibogor menuju Dukuh Rembang pada tahun 1915. Perjalanan yang memakan waktu berhari-hari ini ditempuh dengan berjalan kaki dengan jarak tempuh kurang lebih 145 km. Kondisi fisik Siyem yang sedang hamil dan jalanan yang berbatu naik turun dan harus menyeberangi sungai merupakan perjalanan yang sangat berat. Bahkan, tidak jarang pasangan ini kehujanan hingga basah kuyup. Air mata Siyempun melebur bersama hujan. “Oh ngger, dadio pandadahmu.” (Anakku, jadikanlah penderitaan ini sebagai penggembleng jiwamu). Benar saja, doa seorang ibu adalah doa yang paling manjur dan didengar Tuhan. Kelak, Anak yang lahir dari rahim Siyem ini menjadi prajurit sejati yang memimpin gerilya yang lebih jauh lagi sekitar 693 km hingga mampu membuat pasukan Belanda morat-marit. Setiap membaca replika cerita ini nada buncah oleh kagum memenuhi hatiku, persis seperti yang dirasakan ibu. Seorang anak wong cilik yang lahir dari sebuah perjalanan yang sarat akan perjuangan dan besar ditempa kerasnya keadaan hingga menjadi seorang yang tangguh dan berjiwa ksatria.

Seperti yang sering kita dengar bahwa Sang Jenderal memiliki jiwa kepemimpinan yang mumpuni, ahli dalam penyusunan strategi dan taktik perang. Hal ini pula yang membuat NICA harus meninggalkan Ambarawa dan menepi ke Semarang dalam pertempuran Ambarawa. Sekali lagi Sudirman membuktikan semangat ksatrianya dengan berhasil menjadi Panglima Besar pada usia yang masih sangat muda, 31 tahun. Sebuah prestasi yang hanya dapat diraih pejuang gigih bukan sekedar demi pamrih. Pidato pertama Sang Jenderal setelah dilantik menunjukkan Sudirman bukan saja seorang yang pantang menyerah tetapi juga religius. “…Perjuangan kita harus didasarkan atas kesucian. Dengan demikian, perjuangan yang lalu merupakan perjuangan antara yang jahat melawan kesucian. Kami percaya bahwa perjuangan yang suci itu senantiasa mendapat pertolongan dari Tuhan. Apabila perjuangan kita sudah didasarkan pada kesucian maka perjuangan inipun akan berwujud perjuangan kekuatan lahir melawan kekuatan batin. Dan kita percaya, kekuatan batin inilah yang akan menang sebab jikalau perjuangan kita tidak suci, perjuangan itu hanya akan berwujud perjuangan jahat melawan tidak suci, dan perjuangan lahir melawan lahir juga yang akhirnya tentu si kuat yang menang…” Pidato tersebut seakan ingin memberikan pembelajaran bahwa perjuangan dalam rangka apapun harus berlandaskan pada nilai ketuhanan. Tuhan adalah dzat murni yang menelengkupkan harapan manusia sebagai doa semesta. Sekali lagi, Sang Jenderal membuktikan bahwa dalam perjuangan tidak hanya sekedar butuh kerja keras dan kerja cerdas tetapi juga kerja ikhlas.

Segala hal yang dilakukan Jenderal Sudirman menunjukkan kekuatan pendirian dan kesetiaan dalam memenuhi kewajibannya pada negara. Bukan saja sifat-sifat mulianya yang patut diteladani tetapi juga semangatnya yang tak lekang oleh lelah. Dialah pendekar harum yang mewangikan persada ibu pertiwi dengan sikap patriotik sejati. Seperti ketika beliau memberi perintah angkatan perang Republik Indonesia pada aksi militer yang pertama “Hai, anak-anakku di sini Bapamu. Hai, anak-anakku di sini Bapamu. Hai, anak-anakku di sini Bapamu: Ibu pertiwi memanggil. Ibu pertiwi memanggil. Ibu pertiwi memanggil.” Pesan singkat yang menggambarkan semangat membela bangsa dan negara yang luar biasa. Sosok yang sulit ditemui di era masa kini seperti yang disebutkan penyair Hamka “Jiwanya tidak mau damai-damaian, runding-rundingan tapi cintanya pada negara banyak sekali meminta pengorbanan perasaannya.” Itulah Cerita Sang Jenderal Sudirman yang matanya selalu berapi-api tak mengenal patah hati demi sebuah cita-cita keutuhan kemerdekaan ibu pertiwi.

Ibu, kini aku sedikit tahu tentang ksatria harum yang sering ibu baitkan dalam tulisan-tulisanmu. Sungguh, Indonesia patut bangga memiliki pendekar yang berselempang kata merdeka atau mati!. Kehebatannya meniupkan ruh agung agar tiang-tiang kemerdekaan negeri ini tidak tergoncang meremangkan bulu roma. Perjuangan beliau mengilhami rakyat, beliau bukan saja tentara pembela rakyat tetapi juga muslim yang taat. Ibu, telah sampai saatnya anakmupun jatuh cinta pada cita-cita Sang Jenderal. Mohon izin ikut berperang. Salam dari anakmu, Nilam Kejora.