Rabu, 21 Desember 2016

Kita (Sedikit) Konyol

Lama tak bersua, kangen. Itulah kalimat paling efektif jika kita jarang nongkrong lagi. Meski di grup tetap ada ramai cerewetnya, rasanya belum lengkap kalau belum ketemu. Pertemanan yang aneh haha... Dulunya sih sebagai orang yang mengalami banyak cobaan dalam cinta kita melanggengkan diri dalam sebuah komunitas  "Jomblo Garis Keras" yang biasa disapa jakers. Tentu isi di dalamnya bisa ditebak: manusia-manusia yang kehilangan, putus cinta atau bahasa kerennya brokenhearth, korban ditikung, korban diselingkuhi mantan/teman, korban dibodohi mantan, dan seabrek kata-kata menyakitkan yang diakibatkan oleh makhluk bernama mantan. Ehemmm... hehe...

Singkat cerita, grup yang menasbihkan diri lebih memilih jomblo daripada sakit hati ini inipun mulai luntur. Satu-persatu mulai merambati cinta lagi dan menikah. Uhukkssss... Ada yang sudah punya pacar lagi, ada pula yang tak bisa move on dari masa lalu dan berharap kembali lagi. Dan tentu saja masih ada yang tetap memilih jomblo sebagai pelarian paling aman dan dekat dengan Tuhan.

Perjalanan mengalir. Kesibukan mulai meringsek dan semua kembali dengan rutinitas hiruk-pikuk dunia nyata.  Kita yang kebetulan edan berempat semakin tak punya tempat. Akhirnya nongkrong, ngopi, ngedan, dan dolanpun menjadi agenda rutin setiap akhir pekan selama setahun belakangan. Coba saja pikir, gegara kangen teh di pagi hari dan bakwan goreng diniati malam-malam blusukan ke Sumbing berempat. Agenda saling menggoblokkan pun terjadi. Semua merasa paling benar dan sok pinter (meski semua sadar kadar kecerdasannya  standar wkwkwkwk....) Perdebatanpun tak dapat dihindarkan hampir di setiap tikungan dan belokan Jogja-Magelang. Hasilnya pun bisa ditebak. Malam-malam keblasuk 30 km dalam keadaan lapar total!!! Sampai di rumah tujuan ngobrol sama Pak Kozim, " O nggih Pak...niki wau anu.... terus anu... malah anu... dadi anu... dan anu-anu seterusnya". Percakapan ini membuat roti di toples semakin menipis  dan teh sampai ganti berapa gelas. "Wah, adem nggih, Pak.... Walah, niki enak sambil tangan menggerayangi meja hingga hanya bersisa puing-puing remah roti yang menyedihkan. Apa daya Pak Kozim cuma bisa bilang "monggo" -adegan kelaparanpun menjadi sangat memalukan untuk diceritakan.

Belum lagi saat itu sedang ngetren dengan kata kalut karena sang Kapolda Indro (yang kukenal sejak 2013 hingga detik ini tak pernah kutahu nama sebenarnya) mbingungi dan cen sumpah rodo oon tenan. Kapolda ra dongan. Bagaimana tidak? Masak nggropyok orang pacaran di lapangan X ngaku Polda Depok Timur! Depokkan polres to yo. Gila lu Ndro hahaha....

Akupun tidak akan menyucikan diri sebagai orang yang sok baik. Saat insiden penghianatan berdarah mantan hingga membawaku kabur seorang diri ke Jakarta dan Bogor, 3 manusia ini yang setia menunggu saya di Jogja. Bahkan, jam 7 pagi landing, jam 10 sudah dijemput paksa untuk ketemu dengan alasan yang sangat klasik: Lutisan. Aslinya? Yakin banget kalian kangen aku yang eksotis! hihihi....hahahaha...

Lain sebab lain akibat.  Kosa kata "memang Tuhan bisa dikreditpun" sebenarnya punya cerita tersendiri. Saat itu saya sedang berantem dengan mantan  dan itulah salah satu dialog yang membuat 3 orang ini mengabadikannya terus-menerus hingga saat ini. Belum lagi kalimat-Cukup Ani! Oh,  tidak Roma!-yang ikut meramaikan cerita hingga camping di Pantai Sundak hahaa... (Yang ini cut saja ceritanya ups hahahahaha....)

Di situ saja? Tentu saja tidak! jauh ketika ngopi menjadi agenda resmi, semua orang kena perangkap buka kartu yang mengharuskan semua mengaku kebodohan, kekonyolan, dan kegilaan dengan para mantan. Adegan penghakiman atas kekalahan dengan memakai heels dan tas cewek mondar-mandir di keramaian 0 km menjadi hal yang manis untuk diingat.

Gak cuma di situ! Gegara seorang teman gak ada kabar, sore-sore diniati datang di Trowono. Informasi terakhir yang bersangkutan sakit dan harus banyak istirahat karena kondisi tubuhnya yang lemah. Sepanjang perjalanan itu kami saling merapal doa dan berpakaian serba hitam. Kata-kata berduka sudah disusun sedemikian rupa. Setelah 1 jam perjalanan akhirnya rumah si empu yang menjadi sasaranpun didatangi dengan jeduk-jeduk jeder-jeder. Tak dinyana, ternyata dia sehat wal afiat tanpa kurang dupa. Pernyataan terakhirnya: maaf hp mati sekiranya sudah menjadi jawaban terbaik dan cukup mewakili. Ya awoh paringono sabar...

Kamis, 01 Desember 2016

Pendidikan Anak Tanggung Jawab Orang Tua

Dalam sebuah rumah tangga yang dihuni oleh lebih dari satu keluarga memang cenderung lebih sering menimbulkan gesekan karena konflik kepentingan. Hal ini tentu tak dapat dihindarkan karena setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Dalam kasus sederhana, misalnya dalam hal pola pengasuhan anak. Si Ibu inginnya pendidikan anak dengan pola begini, Si Kakek-Nenek lebih condong yang begini karena sudah dari zaman dahulu turun temurun. Perbedaan ini seringkali juga menimbulkan kegaduhan-kegaduhan kecil antar orang tua, anak, saudara, maupun mertua. Bukan menghakimi ya, tapi sebagian besar orang tua masih terfokus mengasuh anak dengan gaya memerintah dan keras. Kalau gak begitu ya gak!. Pokoknya tak beda macam tentara. Padahal hal tersebut sangat bertentangan dengan pola asuh yang baik.

Seorang anak harusnya diberi kebebasan untuk memilih tetapi harus diberi contoh untuk bertanggung jawab. Misalnya saja membiasakan anak untuk membuang bungkus makanan ke tempat sampah sendiri, merapikan mainan, makan dan memakai baju sendiri sejak kecil, dan lain sebagainya. Terlalu memanjakan anak dengan selalu melakukan segala hal untuknya mulai dari menyuapi, memandikan, mengambilkan makan, membereskan makanan malah bisa membunuh kreatifitas dan sensitifitas anak untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Mungkin hal ini tidak akan bermasalah selama ada yang mengurusi dan tidak membuat ribet malah proses mandi dan makan akan berlangsung dengan cepat. Akan tetapi, bagaimana jika dalam suatu kondisi Si Anak tidak ada lagi yang mengurusi? tidak ada lagi yang memandikan atau menyuapi karena usia atau kondisi fisik tertentu? Tentu anak akan menjadi syok yang terbiasa apa-apa disediakan harus melakukan sendiri.  Bahkan, dia bisa jadi bersikap kasar, anarkis, berteriak-teriak, dan sebagainya. Dari hal di atas, kita dapat mengambil satu benang merah bahwa menerapkan pola pendidikan kemandirian sejak dini merupakan sebuah keharusan bagi orang tua.



Dalam banyak kasus, janganlah orang tua memaksakan anak sesuai dengan kehendak hatinya apalagi malah menghakimi dengan kata-kata yang kasar. Hal-hal yang melukai hati semacam ini akan menancap di hati dan terekam oleh pikiran anak. Ibarat seseorang yang memaku tembok dengan paku, meskipun sudah dicabut pakunya tapi bekasnya masih terlihat jelas. Begitu pula dengan hati manusia, sekali dia disakiti maka dia akan sulit melupakan meski dia mudah memaafkan.  Begitulah kurang lebih kira-kira perumpamaanya. Jadi, belajar menjadi orang tua yang bijak memang tidak mudah tapi akan lebih susah ketika memetik hasil dari benih yang tidak dirawat daripada bibit yang disiangi dan disiram setiap hari bukan? Dalam kasus semacam ini sebaiknya peran bapak ibu untuk memberikan pengertian dan pengetahuan kepada orang tua sangat penting. Di sisi yang satu mungkin pihak kakek-nenek tidak tahu hal semacam itu akan memiliki imbas atau memang dasar watak karakternya yang memang begitu. Nah, untuk poin yang terakhir ini sebaiknya orang tua memang menyediakan benteng khusus untuk bersikap baik dalam menjelaskan ke anak maupun pendekatan ke orang tua. Harapannya tentu dapat menyinergikan kesepahaman pola asuh antara orang tua dan kakek-nenek dalam memberikan nilai-nilai pendidikan karakter yang positif pada anak. Sebagai orang tua sudah merupakan kewajiban dan fitrahnya untuk memberikan pendidikan sikap yang baik bagi anak, janganlah  bersikap leleh luweh terhadap pendidikan anak apalagi menyerahkan pada orang lain karena kesibukan kerja.

Mari memulai hal baik dari keluarga, dari rumah terkecil kita.

Jumat, 20 Mei 2016

Pakdhe di Kelurahan

Tanpa arogansi kutulis frase dari kisah nyata yang memang begitu adanya. Alkisah, ini tentang pengabdi rakyat yang insyaallah semoga segera bertaubat. Suatu hari keluarga Pakdhe punya gawe, bukan mantu atau supitan tetapi gawe usaha atau bahasa kerennya berbisnis. Sejak dahulu pakdhe memang terkenal ulet dan lincah dalam hal dodol bakso alias bakul bakso. Nah, singkat cerita bakso Pakdhe luar biasa larisnya dan ingin merambah ke usaha pembuatan pabrik bakso agar bisa dijual lebih luas. Demi usaha tersebut menghadaplah Pakdhe saya ke Bu Lurah setempat untuk mengurus izin. Bu Lurah yang terkenal pesolek itupun menerima dengan senyam-senyum tentu dengan usel-usel amplop putih karena sudah hampir 1 tahun permintaan izin tidak diproses. Setelah tragedi usel-usel tersebut Bu Lurah dengan bibir merah merona memanggil Pakdhe ke kantor kebesarannya. Berbekal harapan usahanya segera bisa dibuka Pakdhe dengan sangat antusias dan semangat 45 menuju kantor kesebelasan tempat Bu Lurah bersemayam.

"Siang Bu Lur..." sapa Pakdhe dengan senyum lebar.

"Oalah, Pak Trembelo. Lha kok cepet? tanyanya sambil membenarkan bibir yang sudah overdosis.

"Jet  sekarang bahan bakarnya sudah bukan avtur lagi tapi avjoz!" jawab Pakdhe dengan mengacungkan ibu jarinya.

"Begini Pak Trem, sebenarnya kami bisa kok dengan mudah membantu usaha Bapak..."

"Nah, itu harapan saya Bu lur..."

"Tapi sebentar, begini Pak, agar usaha sampeyan itu nantinya lancar dan bebas hambatan dan gangguan, ya kami bantu Pak tapi ya itu usel-uselnya." jelas Bu Lurah panjang lebar.

Mak glagep. Kalau dalam bahasa latinnya Pakdhe mengalami shock therapy alias mingkem dengan terpaksa tanpa daya.

"Sek... sek... Bu Lur lak yo kemarin sudah to usel-uselnya. Lha po masih kurang?" tanya Pakdhe masih dengan sisa shock-nya.

"Lak yo kurang to Pak Trem, limangewu oleh pupur karo brambang setengah ons."

"Lho... memang ada prosedur upeti wajib dari negoro Bu?

"Yo go wangun-wangun Pak. Engko misale ono opo-opo lak yo tak bantu."

"Misale bu?"

"Misale usahamu digropyok polisi!"

"Lho? lha digropyok napane bu? nggropyok baksone po piye? la do pating glinding," sahut Pakdhe mulai tak sabar.

"Yo misale engko ono razia neng warungmuu to, Pak."

"Razia opo meneh bu? borax? formalin?"

"Ya bisa jadi itu..."

"Lha kok tak pikir soyo suwe tambah nggaya wara sampeyan niku. Kula badhe damel izin menika saking kelurahan terus kecamatan lak yo nembusi dinas kesehatan barang. Ananging sakderenge rampit wonten BPOM sek ngangge dites cenul-cenul niku lakyo saking ngisor to Bu Lur?"

"Iyo bener, Pak tapi yo ojo lali nek motor ki mangane bensin, manungso mangane sego, aku yo doyan bondo."

"Sek bu lak yo nek ngono carane ki ora bener. Kui ora berkah go anak putu!" serang Pakdhe.

"La kok ustad pindah neng kelurahan ki piye to? Mesjide kebak po piye?" sanggah Bu Lur tak mau kalah.

"La sampeyan niku dadi abdi negoro kok golek mulyane dewe. Piye rakyate rep kepenak gawe usaha we diangel-angel!"

"Aku ra gawe angel Pak. Kui ki wis rumusan pasti seko mbiyen ngono. Kowe ojo ngowahi patrap!"

"Patrap lakumu ora bener, Bu. Kui ora sesuai karo undang-undang. Kowe iso dituntut!" jawab Pakdhe sengit.

"Lha malah muni kowa-kowe ra sopan sampeyan. Aku ki lurah udu bocah wingi sore iso ditracak-tracak."

"Bu nek sampeyan ki pemimpin kang nduweni ati tenan, ra bakal tego mangan duite rakyat mlarat koyo aku iki. Pangkatmu paling suwe 10 tahun bar kui kari mlebu metu rumah sakit mergo ulahmu kang ora trep karo tatanan. Wes aku bali wae ra sido gawe surat barang!"

"Apik nek ndang bali marai ngentekke wektuku!"

"Lurah a*u!!!"

"Kowe yo podo!"

* Kisah di atas memang terjadi meski dramatiknya sudah mengalami pergeseran alur. Semoga para abdi negara segera sadar bahwa pekerjaannya bukan sarana buat cari uang. Mereka harus memahami bahwa pengabdian itu bukan sekedar materi.


Kamis, 21 April 2016

Yang Ber-aku dan Ber-kamu

Aku mengagumimu lelakiku, kamu yang mampu mengerjakan banyak hal yang aku tak mampu. Termasuk dalam perkara remeh-temeh yang terlalu sederhana seperti membuka plastik, botol, dan kau mengataiku ceroboh dan tidak cerdas. Meski begitu, tentu akan kutunggui kamu menjadi sarjana. Sarjana yang baik. Seorang sarjana yang sangat baik bukan sekedar buat dirinya tapi juga buat masyarakat, buat bangsanya.

Kamu, lelaki yang melamarku dengan sebuah lukisan dengan tulisan sederhana "maukah kau seumur hidup denganku?" lepas beberapa hari dari ulang tahunmu setahun yang lalu. Dan aku baru tahu ternyata kamu pandai memoles kuas dan tulisanmu juga tak cukup jelek. Dari sana aku sadar bahwa cinta bisa hadir tanpa diduga. Dan kapan rasa itu menepi kepada kita. Cinta kita hadir karena perkenalan, bersemi karena perhatian, dan bertahan karena kesetiaan. Aku bukan penggombal taktis meski aku menyukai banyak hal romantis. Aku suka pantai di kala senja, suka melelehkan es krim di pipi, dan tentu mengamatimu saat kau terlelap. Dan saat itu aku sangat yakin betapa aku tak ingin kehilanganmu.

Kamu, sesuatu yang bertumbuh dalam diriku sejak beberapa tahun yang lalu. Tidak berlebihan kalau aku ingin bersamamu hingga usia tak lagi muda. Bukankah kita telah mengeja banyak hal tanpa sungkan. Dan kini dengan bangga kukatakan bahwa secara sengaja telah sedikit berhasil memaksamu berhenti menghisap asap.

Kita yang sekian lama ber-aku-kamu, tak pernah sedikitpun aku malu untuk menyatakan aku merindukanmu lebih dulu. Akupun juga tak pernah sungkan melakukan banyak hal bersama di jeda pekerjaan kita yang menyita. Seperti kataku dahulu bahwa aku tak akan pernah mampu untuk menerima cinta yang mendua-yang menerbitkan siksa pada insan yang sama. Aku wanita yang tak akan pernah mau engkau duakan apalagi limakan. Aku tak peduli pada masa lalumu-pada masa kamu bermain mesra dengan para mantan-mantanmu, dan akupun tak pernah merasa takut tersaingi oleh mereka.

Karena aku menyintaimu dengan segala dayaku yang tak mungkin kau temukan di semua mantanmu.

Aku yang berada di sini adalah yang akan mendekap siang malammu dalam prioritas dan membersamai masa tua dengan segala catatan cita-cita kita.

Untukmu yang telah mengisi perpustakaanku dengan buku-buku baru, tak separuhpun aku berharap jauh darimu. Kamu adalah bagian yang kini kutemukan. Bukan dari kumpulan buku usang atau dari jaring laba-laba yang terentang. Kamu, sejarah yang tidak bisa dibeli. Kamu kutemukan dari sebuah penantian. Sebuah perasaan yang lama telah kubenamkan dalam-sedalam-dalamnya- tanpa pernah berniat untuk diceritakan. Sampai suatu waktu Tuhan membisikkan cerita final.

Aku yang kini mulai menyukai daging (adalah karenamu) dan adrenalin blusukanku mendapat partner yang seimbang. Dalam banyak pelarian kuliner dan lompatan wisata kita ke berbagai tempat yang tak terduga. Satu yang aku belum bisa, kita memang pernah menikmati suatu senja di pantai selatan awal 2014 tahun yang lalu. Saatnya nanti, aku ingin menikmati senja denganmu-hanya berdua. Dan lebih lama. (Kartini, 13:33/rd)


Jumat, 15 April 2016

PASAR KOTAGEDE PASARE AWAKE DEWE

         
                "Piro, Kang sewungkus?" tanya seorang ibu paruh baya berkerudung.
            "Limang ewu sewungkus isi jadah 4 tempe 3," jawab seorang bapak yang sejak tadi sibuk membuat cetakan jadah.
            "Ora limangewu isi papat papat?"
            "Kui wes murah, Yu. Isih panas asli saka Kaliurang," jawab Si Bapak melanjutkan.
            "Ya wis, 3 bungkus wae."

Percakapan di atas adalah salah satu petikan yang lumrah ditemui di pasar-pasar tradisional. Sebuah tempat yang di dalamnya menyediakan ladang bagi seni tawar menawar harga. Kadang untuk mendapatkan harga yang murah, penjual dan pembeli harus saling mengadu kepintaran negosiasi sehingga tercapai kata sepakat. Tentu hal ini tidak ditemui di pasar modern yang telah mematok harga pas bagi setiap barang yang dijual.

Bagi Suprih, bapak dua orang anak yang berjualan di Pasar Kotagede, pasar adalah salah satu tempat keluarganya bergantung. Sudah 4 tahun ini beliau berjualan jadah tempe di Pasar Kotagede. Pada sore hari kurang lebih pukul 5, beliau dan istrinya datang menyusuri padatnya lalu lintas Jogja demi sebuah harapan keluarga. Bahkan, Suami istri ini tidak pernah libur berjualan meskipun hari besar. Meskipun ketika hujan maka pelanggannya berkurang dan harus pulang sampai malam, profesi ini tetap ditekuni oleh suami istri yang berasal dari Kaliurang ini. Lain halnya ketika cuaca cerah maka sepasang suami istri inipun dapat pulang lebih awal karena biasanya 10 kg jadah ludes dalam waktu 3-4 jam.

 Uang kebersihan yang dipungut kepada para pedagang di Pasar Kotagedepun terbilang cukup murah, yaitu Rp 500 setiap jualan sehingga total perbulan hanya Rp 30.000. Salah satu yang menjadi pegangan Bapak Suprih adalah tidak mengambil untung terlalu banyak dan selalu menjaga kualitas dagangannya. Hal inilah yang menjadikan jadah tempe Pak Suprih laris manis dan selalu ditunggu para pembeli.

Seperti diungkapkan di awal, sebenarnya seni tawar menawar ini memiliki teknik tersendiri. Agar calon pembeli bisa mendapatkan harga di bawah harga yang disampaikan penjual maka kedua pihak harus saling bernegosiasi terlebih dahulu. Salah satu cara ampuh yang biasanya diterapkan setelah pembeli menawar dengan harga tertentu dan penjual masih merasa keberatan lakukan satu hal, yaitu pura-pura pergi. Biasanya teknik ini cukup ampuh untuk membuat Sang Penjual luluh. Namun, apabila ketika sudah ditinggal pergi dan Sang Penjual tidak memanggil berarti harga yang ditawar pembeli terlalu rendah. Itulah salah satu trik belanja di pasar tradisional. Selain menguatkan hubungan emosial antara pembeli dan penjual, interaksi negosiasi ini akan mendekatkan hubungan kekerabatan para pelaku ekonomi di pasar. Keuntungan lain berbelanja ke pasar tradisional adalah tersedia produk-produk segar yang harganya jauh lebih murah dibanding di pasar modern.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pasar adalah pusat perputaran roda ekonomi masyarakat. Pasar Kotagede atau yang dikenal dengan Pasar Legi merupakan pasar tertua di Yogyakarta. Pasar yang terletak di timur laut Masjid Besar Mataram Kotagede ini memang lebih ramai di pasaran legi (pasaran Jawa). Hal inilah yang membuat masyarakat menyebut pasar ini sebagai Pasar Legi. Selain menjual berbagai kebutuhan masayarakat mulai dari bahan pangan, pakaian, kerajinan, onderdil barang-barang bekas (khusus malam hari), barang-barang kerajinan, kuliner/jajanan khas seperti kipo dan yangko, pasar ini juga menawarkan berbagai objek menarik lain. Apabila Anda penggemar  berbagai jenis burung dan tanaman hias, pasar ini juga menjual hewan-hewan peliharaan seperti burung dan tanaman di sisi barat pasar, ikan hias disebelah selatan pasar, dan sisi timur pasar dapat ditemui penjual berbagai jenis unggas.

Di sisi lain, problema pasar tradisional dari zaman dahulu tetap sama. Salah satunya tumpukan sampah di beberapa lokasi, munculnya genangan air apabila hujan selesai mengguyur, serta aroma khas pasar yang tidak biasa. Meskipun begitu pasar ini tidak pernah sepi pengunjung. Dapat dikatakan Pasar Kotagede adalah pasar yang hidup hampir 24 Jam. Ketika pagi hari, pasar dijejali oleh para pedagang kebutuhan sehari-hari dan sayuran. Ketika menjelang sore, barang daganganpun sudah berganti menjadi pusat jajanan lauk dan camilan. Uniknya, seni tawar-menawar dan aroma khas pasar inilah yang sering kali malah menjadi daya tarik bagi para pelanggan untuk berbelanja ke pasar.

Beraneka macam barang kebutuhan yang dijual di pasar Kotagede ini menjadikan pasar ini layak disebut sebagai miniatur 4 pasar besar, yaitu Pasar Giwangan yang merupakan sentra pasar buah dan sayur, Pasar Bringharjo yang merupakan pasar terbesar dan terlengkap di Yogyakarta, Pasar Klitikan yang merupakan pasar khusus penjualan barang-barang bekas, dan Pasar Phasty yang merupakan sentra penjualan tanaman hias dan hewan peliharaan.

Pasar Kotagede juga memiliki nilai historis tersendiri sejak zaman kerajaan Mataram. Hal ini dikarenakan pasar ini telah menjadi pusat ekonomi sejak zaman lampau. Lokasi pasar ini pun cukup strategis, yaitu di Jalan Mondorakan nomor 140B yang terletak di utara Masjid Kotagede yang hingga kini tetap ramai diziarahi para pengunjung.

Jadi, dapat dikatakan dengan mengunjungi dan berbelanja di Pasar Kotagede berarti telah melakukan serangkaian perjalanan yang lengkap baik secara historis, ekonomi, dan sosial. Para pembeli bukan saja sekedar mencari berbagai kebutuhan tetapi lebih dari itu, yaitu menjadi bagian dari interaksi pasar tradisional dan pengalaman ini patut dicoba siapa saja. Termasuk Anda para pembaca. (16/4/rd)




Jumat, 01 April 2016

Di Batas Kemampuan(ku) ...

Dari sebuah pengalaman kita bisa berkisah. Dan darinya setidaknya kita bisa belajar bahwa hidup itu harus penuh ketangguhan. Diadaptasi dari kisah nyata, kali ini aku ingin bertutur pada kalian.

Namaku Ganesthi. Usia 20-an dan aku sudah tidak lajang. Sedikit aku ingin bercerita. Aku tak berharap belas kasihan, aku hanya ingin kalian mengerti dan menghindari yang tak perlu dilakukan. Karena itu telah kulakukan.

Setiap orang pasti punya orientasi. Termasuk cemburu. Bukan sekedar pada pasangan, pada rekan kerja, kadang sama burung yang terbang bebas saja kita bisa cemburu. Pada apa? pada kebebasannya mungkin. Suatu hal yang sangat sulit dimiliki manusia dan tak akan bisa (memang begitu takdirnya). Dan itu yang saat ini hinggap di hatiku. Aku cemburu pada bunga yang merekah dengan hebat, aku cemburu pada angin yang bertiup damai, dan aku cemburu pada masa lalu yang begitu manis terlihat, pada stomata dedaunan yang siap menangkap cahaya matahari. Dan terlebih, pada hari ini karena aku tak bisa menemuimu. Entah alasan apa yang kau sodorkan padaku kecuali,"Dia sakit dan aku tak tega." Sekali lagi aku harus berurusan dengan masa lalunya. -Nya (dia yang sekarang jadi suamiku).

Dari sisi sosial aku tak pernah diajari untuk membiarkan orang lain kesakitan memang. Akan tetapi yang dilakukan oleh Karen (wanitu itu) sungguh di luar dugaan. Dia terlalu cerdik dan licik. Bagaimana tidak? aku harus selalu mengalah pada semua kemauannya hanya karena suamiku pernah bersamanya di masa lalu. Dan yang lebih mengherankan adalah waktuku selalu menjadi lebih sedikit dan tampak tak masuk akal. Terlebih setelah kelahiran bayi yang sulit kusebut tidak manis itu. Jadi begini nasipku sekarang. Sementara status pernikahanku yang di bawah tangan juga tak membuahkan hasil apapaun. Aku sadar betul tak ada yang bisa kutuntut padanya. Karen istrinya! dan aku? hanya istri siri! tidak lebih.
 
Sebulan ini pekawinan kami berjalan abnormal. Seperti pada awalnya ketika kami berpacaran. Setiap kali panggilan dari Karen datang aku merasa semacam barang sisa yang tiada berguna. Ini memang menyakitkan. Teman-temankupun tak henti-hentinya memberiku nasihat tetapi ragaku rasanya terlalu sederhana untuk mencerna cara-cara pelarian yang akan memiskinkanku. Fasilitas dari orang tuaku dan hasil kerjaku berupa kendaraan, tabungan, ATM, dan bermacam atribut pekerjaanku diserobot olehnya. Bagiku awalnya mungkin ini yang namanya cinta. Tetapi lama-kelamaan tubuhkupun tak mampu lagi menderma rasa. Biru lebam, pukulan, cekikan, bekas cakaran adalah hal yang biasa mengisi perkengkaran kami. Hanya air mata yang tertumpah tanpa aku bisa melawan. Aku terlalu takut orang-orang yang kusayangi akan mendapatkan kabar buruk tentangku. Aku terlalu menyayangi ayah, mama, dan kakak-kakakku.

Memang kuakui aku salah memutuskan menikah terlalu dini dengan kesadaran penuh bahwa suamiku tidak bercerai dengan Karen. Tapi saat itu aku memiliki harapan akan cinta kami yang bisa bertumbuh dan indah. Makin kesini kutemui bahwa cintanya hanyalah obralan bullshit yang tak berharga. Nyatanya perlakuan kasar dan tindakan amoral sering kuterima. Mungkin tubuhku memang sudah tak ada harganya, tetapi di hatiku masih terbit cukup rasa cinta untuk menyelesaikan pendidikan di kampusku. Meski begini aku juga ingin tak mengecewakan ayah dan mamaku. Dan dari mereka kututup semua cerita pahitku.

Saat pelarianku, aku hanya ingin menghilang sejenak dari hiruk-pikuk penonton yang sering memandangku negatif karena tato yang menghiasi tubuhku dan cekung mata yang tak mampu menahan sendu lebih lama. Aku sudah tak peduli pada banyaknya orang yang heboh mencibirku dengan berbagai bujuk rayu dan obralan murahan. Aku hanya ingin selamat. Dan hidup lebih lama.

*Memilukan tetapi sebagai wanita yang cerdas
  seharusnya kamu tahu bagaimana bertindak tegas
  dan bangkit dari keterpurukan.


Rabu, 16 Maret 2016

Untuk Ibu yang Berpulang Hari Ini

     Dua malam ini saya sulit tidur. Lebih tepatnya tidur dengan gelisah. Lampu yang kupadamkan pun tak cukup membantu resah yang semakin njlimet dengan goyah. Bahkan, malam sebelumnya saya terbangun pukul 2 dini hari karena bermimpi gigi taringku tanggal (padahal gigi taringku tidak pernah memenuhi standar secara bentuk).

     Pagi buta teleponku berdering dan muncul nomor baru. Antara ya dan tidak kuangkat saja nomor asing tersebut. Bla bla bla... "Aku ke sana sekarang," kataku mengakhiri pembicaraan. Tanpa sempat mandi, aku bergegas menuju rumah Ibu. Ya, bagiku. Ibu, yang tidak biasa. Seorang ibu yang memerankan posisi penting dalam sejarah kelulusan pendidikanku. Dan hari ini beliau berpulang. Melambaikan tangan pada segenap anak cucu, kepada orang-orang yang pernah beliau santuni, dan juga pada para ribuan pencicip rasa yang melegendakan namanya. Beliaulah Bu Tini, lengkapnya Sutini Hadi Santoso.

Bagi sebagian orang sosok Bu tini tentu sudah tak asing lagi. Sedikit aku ingin bernostalgia bersama kenangan 4 tahun ke belakang.Tak dapat dipungkiri, selama dekat dengan beliau, banyak hal dan pelajaran yang kuperoleh. Bagiku yang tentu masih kencur dalam banyak hal, beliau adalah sosok yang ngayomi dan penuh kasih sayang. Kerja keras, penuh semangat, pantang menyerah, sikap legowo lan narimo, dan bersedekah sosial adalah beberapa hal dari ribuan hal yang kucatat kuat dalam ingatan.

     4 tahun 5 bulan bukan waktu yang singkat untuk mengakrabi dunia pekerjaan yang saya geluti sebelumnya. Bahkan, dari dunia perhotelan ini aku mengenal banyak karakter manusia yang bertipe a hingga z. Dan tentu itu atas kebaikan Bu Tini dan keluarga. Di saat kekosongan waktuku menyelesaikan skripsi, aku diperbolehkan bergabung dengan Hotel Respati Kasih. Dinamika yang terjadi di dalamnya pun tak luput dari berbagai sorotan hingga tak terasa studi tesisku selesai. Aku merasa sangat bersalah pada Pak Denny Kakung yang sering kali harus meng-handle kerjaanku karena kutinggal kuliah. Dalam hal jadwalpun aku diberi kelonggaran waktu mengingat jadwal kerja menggunakan sistem shif. Sering kali aku harus mendebatkan waktu kuliah dan kerja yang tidak selalu sinkron dan jadwal kerja karyawan harus berubah hampir tiap minggu. Terlebih sebagai satu-satunya perempuan di hotel yang harus fighter juga menyisakan banyak konflik yang kadang memang menguras hati dan pikiran. "Wong akeh bedo-bedo pikirane Mbak. Aku gur pengen kabeh iso lancar. Anak, putu, lan karyawan bebarengan. Sek sabar lan ditelateni," kata-kata Ibu yang selalu menguatkanku saat lelah sudah di ujung mata.

     Bu Tini adalah satu di antara para pejuang keluarga yang belajar dari kenyataan. Usahanya dimulai dari berjualan ayam goreng di Pasar Bringharjo. Seiring berajalannya waktu usaha tersebut berkembang hingga saat ini (26-an tahun) telah memiliki hotel dan resto terkenal di Yogyakarta. Tentu bukan hal yang mudah mendapatkan semua itu. Butuh proses yang begitu panjang. Usaha ini pun berjalan semakin maju dan permintaan ayam semakin meningkat. Biasanya Bapak-Bapak tukang becaklah yang mengantarkan ayam tersebut ke rumah untuk diolah. Akan tetapi, lama-kelamaan permintaan yang terus meningkat membuahkan usulan untuk membawa ayam-ayam tersebut dengan pick-up. Lebih efisien memang tetapi Bu Tini keberatan jika semua diangkut menggunakan pick-up. Kenapa? Sebuah alasan sederhana sebagai orang Jawa, "Pae becak kui wes melu awae dewe ket jaman mbiyen. Nek kabeh pitik diangkut nganggo pick-up lha Pae Becak rep kerjo opo?" (Bapak tukang becak itu sudah ikut kerja dengan kita sejak lama. Kalau semua ayam diangkut menggunakan pick-up, Pak Tukang Becak mau kerja apa?" Saya trenyuh saat mendengar cerita ini. Ibu begitu peduli dengan nasip Pak Tukang Becak yang bukan siapa-siapanya. Tentu hal ini menunjukkan rasa empati terhadap kemanusiaan. Saya jadi teringat kata-kata seorang teman "sejauh apapun engkau berlayar, jangan pernah lengah membuang sauh dan jangkar. Mungkin padanya kita dapat belajar, mungkin darinya kita bisa lebih mendengar, dan darinya kita dapat menghargai laut secara lebih sopan".

     Setiap kali lebaran dan di momen sungkem, seringkali saya tak dapat menahan air mata ketika tangan Ibu mendekap erat dan mengatakan, "Maaf Mbak Ridhan nek wong tuwo akeh salahe." Rasanya sebagai orang yang lebih muda, aku merasa lebih berkewajiban untuk meminta maaf. Bahkan, di sela-sela bercandaan, ketika saya sowan ke rumah, beliau selalu bilang, "Mbak Ridhan kapan nikah? nek nikah jo lali diundang yo. Aku mesti teko. Adoh ra to Semanune?" Dan saat mengetik tulisan ini tak henti air mata mengenang Ibu. Bahwa ibu tak akan pernah lagi menyaksikan saya menikah. Ibu tak akan pernah menerima undangan saya. Ibu tak akan menyaksikan saya menggandeng suami saya. Namun, setidaknya suatu waktu dulu saya pernah mengenalkan dia ke Ibu, di pertemuan terakhir di suatu siang yang terik. Kiranya ibu merestui kebersamaan kami.

     Terakhir, pada pukul 13 ini saya mengiring kepergian ibu dengan doa. Doa terbaik atas segala hal yang ibu ajarkan pada saya. Meski saya tak sempat mengantar ke pusara, lantunan Al-Fatihah akan mengudara di dalamnya. Selamat jalan Ibu, selamat kembali bersanding dengan kekasih tercinta, Pak Kiman. Semoga Allah melapangkan dan menyematkan tempat yang layak untuk Ibu. Semoga apa yang telah ibu perjuangkan dalam perjalanan ini menjadi barokah buat semuanya, buat keluarga, buat tetangga, dan buat masyarakat seutuhnya.   


#Salam hormat buat Ibu. Maaf belum sempat menjenguk ketika di rumah sakit. 

Selasa, 15 Maret 2016

Jagongan Wagen (Antara Seni dan Entitasnya)

Jagongan wagen tentu bukan istilah yang aneh, malah sering terdengar di mana-mana. Yah, hampir semua orang tahu bahwa kegiatan ini merupakan event rutin yang diselenggarakan Padepokan Seni Bagong Kusudjiarja Bantul. Padepokan ini secara bekala mengangkat berbagai macam kisah yang direfleksikan dalam bentuk seni pementasan. Dan aku adalah salah satu dari ratusan bahkan ribuan tukang fans yang sudah akarab sejak 2010.  Berbicara tentang seni tentu tak bisa dilepaskan dari filosofinya. Seni tidak bisa dipahami sekedar dari bentuk luarnya. Seni adalah imajinasi dan representasi dari berbagai realitas kemanusiaan baik itu harapan, keadaan sosial, kritik, maupun berbagai fenomena alam dan manusia.

Jagongan wagen (JW) bagiku selalu menyediakan ruang ublik yang bisa dinikmati oleh siapapun dan kalangan manapun. Penontonpun bervariasi tidak terbatas usia  mulai dari anak-anak hingga aki nini. Bahkan, anak muda pun tak kalah antusias. JW sendiri bagiku bukan sekedar nonton pertunjukan tetapi di dalamnya mengetengahkan dialog dengan setiap jiwa yang mengikutinya. JW selalu memberikan oleh-oleh untuk kubawa pulang dan kuceritakan pada teman-teman. Itulah yang membuatku merasa menikmati seninya hidup yaitu bahwa seni itu tidak hanya dinikmati dan selesai tetapi ada gethok tular yang bisa menjadi peranti pengejawantahan nilai-nilai yang lebih luas.

Hal yang menarik dari JW adalah tema yang diangkat setiap bulan selalu up to date. Bervariasinya tema yang dikemas dalam berbagai kolaborasi seni seperti seni musik, tari, lukis, drama, kerawitan, dan lain-lain merupakan kombinasi yang membuat atmosfer JW semakin berwarna. Para penonton digiring dalam sebuah cerita tetapi dibiarkan untuk menafsirkan sendiri korelasinya. Di sinilah seni menjalankan peran dan fungsinya sebagai sarana yang memberikan ruang yang tak terbatas bagi tiap insan untuk berkontemplasi. Sebagai pecandu seni, JW adalah salah satu bukti seni untuk rakyat, yaitu bisa dinikmati semua kalangan tanpa membedakan status. Semua bisa menikmati tanpa perlu memikirkan retribusi tiket masuk layaknya pertunjukan seni yang digelar di gedung-gedung budaya. Bukankah seni juga merupakan salah satu produk budaya yang selayaknya bisa dinikmati rakyat banyak tanpa memandang klaster? Bukankah setiap orang memiliki kesempatan yang  sama dalam menikmati keindahannya?


Rabu, 24 Februari 2016

Tentang Pram yang Kini Kau Miliki

Ini juga surel yang kudapati beberapa waktu lalu. Buat kamu yang telah menuruti keinginanku. Mahal ya? tidak lebih mahal dari isi di dalamnya, Sayang :-) tapi terima kasih ya.

Katamu tentang buku ini:

Walau saya belum pernah membaca karya Pramoedya sampai tuntas, namun saya akrab dengan tulisan-tulisannya. Dan sebagai seseorang yang dingin, saya angkat topi tinggi-tinggi buat Simbah Buru ini. Kata-katanya tajam, menusuk dan merasuk. Lebih dashyat dari sebutir peluru. Karya Pram bisa menjedor jutaaan kepala pembaca. Tidak mudah untuk bisa sampai pada titik yang Pram capai ini. Bahkan untuk genre sejenis, Pram berdiri sendirian, dia menguasai tahtanya. Tak ada seorang penulis pun yang menyamai levelnya.

Tapi tulisan ini tidak saya niatkan untuk menyanjung sosok maestro yang pernah tersandung Lekra dan PKI ini. Saya kali ini hanya menyenggol sedikit tentang harga bukunya. Selama Pram hidup di zaman smiling killer General Pak Harto - buku Pram susah didapat. Padahal isinya cuma dalam bentuk roman realis, bukan buku hujatan caci maki buat orde baru. Setelah Pak Harto game over, barulah buku-buku Pram menjamur. Dirayakan dimana-mana. Bahkan beberapa artis yang diragukan kualitas isi otaknya, ikut-ikutan memuja buku Pram. Tentu ini baik, pasar bisa menerima. Tak hanya dikuasai buku-buku bullshit tentang agama dan motivasi sampah. Harganya ketika itu juga masih normal, sama dengan buku-buku lainnya.

Namun ketika Pram sudah tiada, mendadak entah kenapa buku-buku Pram sangat tidak sopan memasang harga. Tidak lagi lazim. Misal buku Arok Dedes, buku sejenis umumnya Rp. 85.000 - Rp 95.000, tapi buku Arok Dedes dipasang Rp. 140.000. Apalagi tetralogi Pram, harganya lebih edan. Dari segi bisnis, terserah penerbit memang, mau dijual satu juta juga tak masalah, asal ada yang mau beli. Tapi dari segi pendidikan masyarakat, tentu harga ini sangat eksklusif. Pram yang berideologi sosialis pasti jengah dengan praktek kapitalis ini. Masyarakat awam jadi makin susah memiliki. Apalagi negara tidak menjadikan buku Pram sebagai buku gratis di sekolah-sekolah. Terlebih sebagaimana produk kapitalis lainnya, buku ini haram dibajak. Dipasang pula larangan untuk digandakan.

Saya yang bukan sosialis, bukan komunis juga, jika saya menjadi seorang penulis yg saya tulis, saya membolehkan difotokopi, dan digandakan semau pembaca. Saya tidak alergi dengan pembajakan. Saya tak ambil pusing dengan hak cipta. Dan kalau Pram masih ada, mungkin ia satu ide dengan saya. Sebab hak cipta itu adalah bentuk kesombongan para kaum intelektual, dan kepentingan kaum kapitalis demi melindungi aset kekayaannya.

Sebagai kesimpulan akhir: karya-karya Pram bukanlah milik segolongan kaum ekslusif yang punya uang saja. Akan lucu kalau tulisan Pram berjarak dengan kelas yang dibelanya. Pram berbeda dengan musik jazz atau basket. Yang lahir dari rahim orang-orang miskin negro, namun dirayakan oleh orang-orang kaya. Pram bukan artis, beliau adalah orang berideologi sosialis. Pram tidak hidup di sangkar emas, karya Pram harus dilepas, terbang bebas, kemana saja, dimana saja, dan kapan saja. Biar makin banyak kepala yang ditembus kata-katanya, biar bangsa ini tidak melulu otaknya dipenuhi iklan-iklan, dan khutbah para agamawan yang norak egois berebutan menguasai surga hanya untuk diri dan golongannya saja.


Dari Seberang Laut

Surat yang membuatku kangen zaman muda dulu :-) Sungguh aku kangen kamu May. Kupasang di blog ya, biar kamu juga bisa baca. Anak cucu kita bisa baca. Biar mereka tahu simbok-simboknya dulu pernah berteman dengan mesra.

Dinx yang jauh
Hai, kamu sehat, Dinx? tak kuranglah suatu apa. Seperti yang kamu lihat aku baik dan sehat. kadang aku lelah dengan nasipku dan memang tak banyak yang dapat aku lakukan sekarang tapi setidaknya aku bersyukur mendapatkan kesempatan tinggal di sini agar dapat belajar lebih baik. Tentu bukan hal yang mudah, terlebih budaya di sini sangat kental dengan hedonisme. Aku kangen rumah. Aku kangen tanah jawa yang basah. Aku rindu makan es krim bareng kamu. Di sini ada hal lain yang memaksakau berpikir bahwa pendidikanku harus selesai. Tak mungkin aku pulang tanpa sesuatu yang bisa kulanjutkan. Kontrak ini masih akan berjalan 2 tahun ke depan, tetapi kalau hasilku bagus dalam 1,5 tahun studiku akan selesai. Dan aku merencanakan 6 bulan di sini untuk jalan-jalan sebelum kembali ke pertiwi yang nasi tiwulnya hangat merayap sama pindang pedes. Itu favoritku! Dan mami harus memasak buat aku saat pulang nanti.
                                                                                                             
Rasanya kadang aku hampir stres di sini. Orang-orang di sini hanya ngomong seperlunya saja. Waktu 2 tahunpun bukan waktu adaptif yang cukup bagiku. Mereka ngomong terlalu efektif dan efisien! Kalau kau di sini tentu ilmu bahasamu sangat berguna hahahaa...
Kau tentu juga ingin tahu kisah percintaanku. Baik, aku memiliki teman dekat. Dia berkulit merah dengan rambut hitam ikal. Tentu kamu punya penafsiran darimana dia berasal. Sudah hampir setahun kami bersama dan tentu saja tinggal bersama. Di sini adat timur bukan lagi sesuatu yang diagungkan. Bahkan, kalau kau tahu si X yang anaknya Y itu tidak benar-benar se-innocent yang kamu dengar dan kamu lihat di media.

Kamu kenapa jarang berkabar? adakah perindu yang merebut hatimu? Diam-diam aku mengikuti catatan media sosialmu. Tampaknya kamu baik-baik saja sekarang. Atau kamu juga ikut iklan pencitraan? Ah, aku kangen ngobrol sama kamu. Bercerewet berdua sampai pagi. Aku punya novel bagus buatmu, nanti (2 tahun lagi kalau aku masih hidup) novel ini akan sampai di tanganmu. Ah, bagaimana kabar surat-surat kita? tampaknya kau punya pacar sekarang. Biar kutebak. Pantasnya dia seseorang yang cukup kuat. Kamukan ngeyelan, suka ngelindur kalau tidur, dan pelupa sejak orok haha... sudahkah itu hilang darimu? atau tambah parah? Dinx, aku kangen nyenja sama kamu. Main pasir, menghisap remah-remah roti dan memburu cokelat. Kapan kita begitu lagi?


*May, suratmu terlalu pendek tapi lugas. Keadaanku sebaik yang kamu kira dan kamu harapkan. Iya, kita ngeskrim lagi kalau kamu pulang. Iya kita nyenja lagi kalau Tuhan masih belum meminta pulang. Dan, iya kita akan menyisir barisan pasir di selatan Jogja. Kamu pasti kangen pecel rasa cokelat bukan? Aku menunggumu. Salam kangen.

Kebiasaan Sederhana

Sebagai wanita seringkali kita dihadapkan pada banyak hal yang membuat sumpek, contoh sepelenya adalah urusan pakaian, makan, bahkan urusan janjian dengan rekan kerja atau pasangan yang seringkali membuat galau. Bahkan, tak jarang mood benar-benar bisa jungkir- balik karena perkara sepele. Nah, dalam beberapa hal (di luar banyak hal negatif yang ada) aku membiasakan beberapa hal yang menurutku ini penting karena berorientasi pada edukasi dan sadar lingkungan.
·       1 Untuk 1
Sederhana itu tidak mengurangi harga tapi menambah harga.
Sebenarnya aku bukan penggemar pakaian tetapi dalam kenyataannya aku mengalami banyak masalah terkait dengan baju. Di antaranya adalah seringkali aku membeli baju tapi cuma satu atau dua kali pakai dannnn.... bosan. Atau di lain hari almari penuh tumpukan baju model ini itu yang sudah kelewat zaman. Bahkan, tidak jarang untuk event tertentu aku menyempatkan diri ngeloyor nyari baju baru. Sumpah aku merasa sangat boros hehe... Akhirnya aku menemukan cara yang menurutku jauh lebih baik, yaitu 1 untuk 1. Apabila aku membeli baju baru satu, aku mengurangi 1 baju lamaku untuk diberikan kepada orang lain. hal ini cukup membuat isi almariku tetap kostan. Di sisi lain, akan melatih diri kita untuk selalu berbagi dengan sesama.
·       Operasi Tanggal Lahir
Hampir semua orang menganggap tanggal lahir itu spesial karena menandai sebuah kehadiran. Hal inipun berlaku padaku. Aku selalu menganggap tanggal 22 itu spesial. Bukan hanya di bulan November saja tetapi di setiap bulannya. Biasanya di tanggal itu aku membuat planning berbagi dengan orang lain. Tentunya bukan traktiranlah ya. Aku lebih suka bernegosiasi dengan barang yang dibungkus rapi dan menarik. Mungkin memang bukan hal yang besar dan mahal tetapi hal itu membuatku selalu ingat untuk bersyukur pada setiap helai nafas yang dianugerahkan Tuhan padaku. Kita makhluk sosial dan itulah mengapa manusia tidak bisa hidup sendiri dan saling membutuhkan (kata pelajaran IPS).
·       Bye-Bye Sampah Visual
Paling males banget kalau ngeliat orang buang sampah sembarangan. Apalagi kalau di jalan asal wer wer werr dari motor atau mobil. Beuh... rasanya kaya pengen tak jitak. Dalam keseharian kita juga sering menemui sampah visual yang memenuhi simpang tiga, simpang empat, nempel tembok, melekat di tiang listrik, bahkan nancep di pohon-pohon. Nah, kalau sudah menyangkut pohon, aku merasa egoku tersentil. Tampaknya manusia-manusia marketer semakin kalap dalam memperkosa benda mati untuk mengiklankan diri/produk mereka. Dan aku? adalah musuh mereka! Setiap jumat sering kali aku menjadi relawan antisampah visual dengan mencabuti iklan-iklan kurang berperasaan di beberapa lokasi. Sampah visual ini juga menjadikan pemandangan sedikit miris.
·       Rekam dan Tulis
Menjadi penulis merupakan impianku sejak lama. Apa saja yang menurutku menarik biasanya aku catat dalam agenda dan media. Bahkan, tidak jarang mereka yang tersentil dengan tulisanku mencak-mencak tak karuan. Sekali lagi, saya hanya memotret realitas di atas kertas yang disublimasi sedikit pendapat. Jadi, kalaupun ada yang tidak setuju masalahnya bukan di saya hehe... Langkah ini kiranya juga cukup membuatku menjadi produktif karena tak jarang donasi mengalir ke rekening tanpa diminta. Yah, sekedar dari hobi memotret kecil-kecilan dalam tulisan tapi malah mendatangkan pundi-pundi uang. Sekali menyelam ketemu buaya hehe...
·       Seni Itu Menyehatkan
Aku pecinta fanatik seni baik seni suara, seni lukis, drama, maupun sejenisnya. Bagiku seni itu sesuatu yang memerlukan penghargaan dengan cara yang tidak biasa. Dan ketidakbiasaan ini yang membuatnya indah karena dalam merasakannya membutuhkan kontemplasi yang tidak mudah. Dalam setiap bulan aku sering mencari agenda-agenda seni yang bisa dikunjungi baik itu pameran seni lukis, pertunjukan teater, pementasan drama, dan lain sebagainya. Penikmat seni itu membutuhkan pendalaman jiwa yang tidak hanya sekedar makan dinikmati kenyang. Akan tetapi, di dalamnya ada soul yang sedang dicoba untuk diraba. Itulah kenapa seni juga bisa digunakan untuk terapi jiwa. Aku selalu haus hal-hal yang berbau perasaan ini, terlebih jika dinikmati dengan orang yang diinginkan.

Itulah beberapa kebiasaan yang seringkali aku lakukan. Hal-hal sederhana yang mudah dilakukan siapa saja. Termasuk kamu tentu saja. (16:06)

Jumat, 05 Februari 2016

Kepada Profku Dengan Penuh Maaf


Teringat saat kuliah dulu, Prof sering kali mendengungkan nama Minke, Nyai Ontosoroh, dan Mallema yang sekilas kubaca merupakan bagian dari kisah Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Tour. Sebagai mahasiswa aktif yang memiliki stok pembelaan diri dengan banyak tugas ini itu, aku hanya membaca sinopsisnya saja tanpa pernah membaca buku aslinya. Itulah rata-rata cara kami (mahasiswamu) menjawab tugas membuat kumpulan sinopsis novel. Miris memang, terlebih dengan label calon sarjana bahasa dan sastra. Akan tetapi, lagi-lagi ego pembelaan diri muncul dan mengatakan, "Ah, tak mengapa, toh teman-temanku melakukan hal yang sama. Bahkan, kegiatan copy-paste adalah hal yang lumrah bagi siapa saja.Gila sajasatu semester merampungkan 50 novel jadul!!!" Dan sekarang aku merasa sangat bersalah pada Prof yang kucurangi jalan lintasnya.
Semoga selalu sehat, Da...

Prof, anakmu yang kini hampir berkepala tiga baru benar-benar membaca buku yang Prof rekomendasikan 9 tahun yang lalu. Dan jujur, sebagai anak bahasa saya malu. Sangat malu. Saya tertinggal hampir 1 dekade. Sebuah perjalanan pembacaan yang menyia-nyiakan waktu. Terlalu banyak budaya dan pemikiran tajam yang diungkap buku yang terbit pertama 30 tahunan lalu dan masih relevan dibaca di masa sekarang. Sebuah karya anak bangsa yang luar biasa dan akupun menjadi jatuh cinta.

Membaca cerita ini serasa makan es krim di padang rumput. Ces yang krispi. Buku ini tidak hanya bercerita tetapi menyentuh hati para pembaca tanpa mengguruinya. Tidak hanya berkisah, berkeluh, atau mengobral kata-kata klise tetapi buku ini membuat pembaca terpekur dan berpikir menyelami budaya, keadaan sosial, perasaan, dan sikap memanusiakan manusia yang dikonstruksi berlatar sejarah. Buku yang begitu kaya, hingga tahulah aku Prof, kenapa Pram sangat dielu-elukan dunia. Sangat kritis dan perperasaan meski hal itu harus dibayarnya dengan penjara tanpa pengadilan di hampir seluruh hidupnya. Dan kini aku membenarkan kata-kata Prof di halaman pertama bahwa“sastra dapat melembutkan hati”. Maafkan Prof, muridmu yang begitu ketinggalan ini. Malukah engkau memiliki mahasiswa sepertiku? Maaf beribu maaf.

Sejak saat ini aku berjanji untuk lebih menghargai tulisan anak negeri. Untuk lebih mempercayai guru yang lebih berilmu. Dan kelak aku ingin mewariskan hal itu pada anak cucuku. Ah, Prof, anakmu ini tidak terlalu tua untuk menyesal bukan? Dan kalau saat itu bisa terulang aku ingin duduk di bangku terdepan untuk mendengar ceramahmu bukan karena seringnya absen keterlambatanku hingga harus mengambil kursi dan menjadi juru kunci (geli juga mengingat reputasiku dalam hal ini hehe…)


Prof, aku pun berjanji akan lebih menghargai sebuah profesi terutama penulis. Aku pun ingin menjadi seorang penulis seperti Prof. Dan kalian para pembaca yang budiman, belilah buku yang asli. Buku yang diterbitkan penerbit bukan pura-pura demi harga murah semata.Meski isinya sama namun sikap dan penghargaan terhadap karya penulisan haruslah berbeda. Oleh karena itu, mulailah dengan buku yang bernyawa asli bukan beraga asli tapi berhati palsu. (18:42) 

Senin, 25 Januari 2016

Buat Asoka Ginting, Pemuda yang mulai menua

Maaf hampir tiga tahun ini email-emailmu tak kuhiraukan. Sementara kaupun bukan orang yang cakap mengobrol di telepon. Katamu “Rasanya gagu harus ngomong dengan benda yang mlungker-mlungker seperti mi instan dengan kotak batako di ujungnya”. Hahaha… Lebih lanjut lagi kau bilang bahwa “Aku tak bisa menatap wajahmu dan kaupun sama. Mana kau tahu pula aku tertawa atau tersenyum? Rasanya sama saja jauh”. Dan itu benar hehe…

Soka,
Tepat besok 15 Februari 2016, kau menjadi kembang impian yang berlayar di malam-malam terdalam. Telah kau tutup segala jalur pesona dan awak rimba yang sering kali kau sebut sebagai penawar hati. Dan kini aku akan menikah. Bulan ini. Kau tahu Jentra bukan? Tetanggamu dulu yang sering kau lempar dengan tongkat saat kau kalah bermain kasti? Ya, kamu pasti ingat! Aku akan menikah dengannya. Beberapa saat lagi. Terutama sejak kepergianmu atas kepengecutanmu, kami saling menemukan hati. Bukan sekedar untuk bermain tetapi untuk menetap selama mungkin. Sejauh mungkin. Setua mungkin. Dan bersama.

Soka,
Kalau suatu saat email ini terbaca olehmu maka ketahuilah bahwa aku tidak egois dengan tidak memberitahumu. Hanya saja jarak memaksaku berbuat lebih bijaksana. Sementara perasaanku, cintaku, dan harapanku pada Jentra semakin meledak dari hari ke hari. Dia pemuda yang manis. Padanya telah rela kutaruhkan usia kebersamaanku tanpa ragu. Aku selalu merindukan  duduk berdua dengan tangannya melingkar di pundakku. Atau saat yang lain ketika tangannya menggenggam erat jemariku. Dan ini kurasa yang disebut Tuhan sebagai teman kencanku. Dan kau? Harus setuju!

Soka,
Aku mencintainya. Menyukai setiap lekuk senyum dan kerut di bibir maupun dahinya. Dan kuharap kaupun menyukai wangi salju yang merendah di pelataran rumahmu. Kabar kudengar kau juga telah meresmikan pacar cakepmu itu. Ah, sayang sekali, Soka. Mungkin kamu harus lebih banyak mengenal sisi unik wanita.

Salam
dari kotamu sebelumnya