Rabu, 24 Februari 2016

Tentang Pram yang Kini Kau Miliki

Ini juga surel yang kudapati beberapa waktu lalu. Buat kamu yang telah menuruti keinginanku. Mahal ya? tidak lebih mahal dari isi di dalamnya, Sayang :-) tapi terima kasih ya.

Katamu tentang buku ini:

Walau saya belum pernah membaca karya Pramoedya sampai tuntas, namun saya akrab dengan tulisan-tulisannya. Dan sebagai seseorang yang dingin, saya angkat topi tinggi-tinggi buat Simbah Buru ini. Kata-katanya tajam, menusuk dan merasuk. Lebih dashyat dari sebutir peluru. Karya Pram bisa menjedor jutaaan kepala pembaca. Tidak mudah untuk bisa sampai pada titik yang Pram capai ini. Bahkan untuk genre sejenis, Pram berdiri sendirian, dia menguasai tahtanya. Tak ada seorang penulis pun yang menyamai levelnya.

Tapi tulisan ini tidak saya niatkan untuk menyanjung sosok maestro yang pernah tersandung Lekra dan PKI ini. Saya kali ini hanya menyenggol sedikit tentang harga bukunya. Selama Pram hidup di zaman smiling killer General Pak Harto - buku Pram susah didapat. Padahal isinya cuma dalam bentuk roman realis, bukan buku hujatan caci maki buat orde baru. Setelah Pak Harto game over, barulah buku-buku Pram menjamur. Dirayakan dimana-mana. Bahkan beberapa artis yang diragukan kualitas isi otaknya, ikut-ikutan memuja buku Pram. Tentu ini baik, pasar bisa menerima. Tak hanya dikuasai buku-buku bullshit tentang agama dan motivasi sampah. Harganya ketika itu juga masih normal, sama dengan buku-buku lainnya.

Namun ketika Pram sudah tiada, mendadak entah kenapa buku-buku Pram sangat tidak sopan memasang harga. Tidak lagi lazim. Misal buku Arok Dedes, buku sejenis umumnya Rp. 85.000 - Rp 95.000, tapi buku Arok Dedes dipasang Rp. 140.000. Apalagi tetralogi Pram, harganya lebih edan. Dari segi bisnis, terserah penerbit memang, mau dijual satu juta juga tak masalah, asal ada yang mau beli. Tapi dari segi pendidikan masyarakat, tentu harga ini sangat eksklusif. Pram yang berideologi sosialis pasti jengah dengan praktek kapitalis ini. Masyarakat awam jadi makin susah memiliki. Apalagi negara tidak menjadikan buku Pram sebagai buku gratis di sekolah-sekolah. Terlebih sebagaimana produk kapitalis lainnya, buku ini haram dibajak. Dipasang pula larangan untuk digandakan.

Saya yang bukan sosialis, bukan komunis juga, jika saya menjadi seorang penulis yg saya tulis, saya membolehkan difotokopi, dan digandakan semau pembaca. Saya tidak alergi dengan pembajakan. Saya tak ambil pusing dengan hak cipta. Dan kalau Pram masih ada, mungkin ia satu ide dengan saya. Sebab hak cipta itu adalah bentuk kesombongan para kaum intelektual, dan kepentingan kaum kapitalis demi melindungi aset kekayaannya.

Sebagai kesimpulan akhir: karya-karya Pram bukanlah milik segolongan kaum ekslusif yang punya uang saja. Akan lucu kalau tulisan Pram berjarak dengan kelas yang dibelanya. Pram berbeda dengan musik jazz atau basket. Yang lahir dari rahim orang-orang miskin negro, namun dirayakan oleh orang-orang kaya. Pram bukan artis, beliau adalah orang berideologi sosialis. Pram tidak hidup di sangkar emas, karya Pram harus dilepas, terbang bebas, kemana saja, dimana saja, dan kapan saja. Biar makin banyak kepala yang ditembus kata-katanya, biar bangsa ini tidak melulu otaknya dipenuhi iklan-iklan, dan khutbah para agamawan yang norak egois berebutan menguasai surga hanya untuk diri dan golongannya saja.


Dari Seberang Laut

Surat yang membuatku kangen zaman muda dulu :-) Sungguh aku kangen kamu May. Kupasang di blog ya, biar kamu juga bisa baca. Anak cucu kita bisa baca. Biar mereka tahu simbok-simboknya dulu pernah berteman dengan mesra.

Dinx yang jauh
Hai, kamu sehat, Dinx? tak kuranglah suatu apa. Seperti yang kamu lihat aku baik dan sehat. kadang aku lelah dengan nasipku dan memang tak banyak yang dapat aku lakukan sekarang tapi setidaknya aku bersyukur mendapatkan kesempatan tinggal di sini agar dapat belajar lebih baik. Tentu bukan hal yang mudah, terlebih budaya di sini sangat kental dengan hedonisme. Aku kangen rumah. Aku kangen tanah jawa yang basah. Aku rindu makan es krim bareng kamu. Di sini ada hal lain yang memaksakau berpikir bahwa pendidikanku harus selesai. Tak mungkin aku pulang tanpa sesuatu yang bisa kulanjutkan. Kontrak ini masih akan berjalan 2 tahun ke depan, tetapi kalau hasilku bagus dalam 1,5 tahun studiku akan selesai. Dan aku merencanakan 6 bulan di sini untuk jalan-jalan sebelum kembali ke pertiwi yang nasi tiwulnya hangat merayap sama pindang pedes. Itu favoritku! Dan mami harus memasak buat aku saat pulang nanti.
                                                                                                             
Rasanya kadang aku hampir stres di sini. Orang-orang di sini hanya ngomong seperlunya saja. Waktu 2 tahunpun bukan waktu adaptif yang cukup bagiku. Mereka ngomong terlalu efektif dan efisien! Kalau kau di sini tentu ilmu bahasamu sangat berguna hahahaa...
Kau tentu juga ingin tahu kisah percintaanku. Baik, aku memiliki teman dekat. Dia berkulit merah dengan rambut hitam ikal. Tentu kamu punya penafsiran darimana dia berasal. Sudah hampir setahun kami bersama dan tentu saja tinggal bersama. Di sini adat timur bukan lagi sesuatu yang diagungkan. Bahkan, kalau kau tahu si X yang anaknya Y itu tidak benar-benar se-innocent yang kamu dengar dan kamu lihat di media.

Kamu kenapa jarang berkabar? adakah perindu yang merebut hatimu? Diam-diam aku mengikuti catatan media sosialmu. Tampaknya kamu baik-baik saja sekarang. Atau kamu juga ikut iklan pencitraan? Ah, aku kangen ngobrol sama kamu. Bercerewet berdua sampai pagi. Aku punya novel bagus buatmu, nanti (2 tahun lagi kalau aku masih hidup) novel ini akan sampai di tanganmu. Ah, bagaimana kabar surat-surat kita? tampaknya kau punya pacar sekarang. Biar kutebak. Pantasnya dia seseorang yang cukup kuat. Kamukan ngeyelan, suka ngelindur kalau tidur, dan pelupa sejak orok haha... sudahkah itu hilang darimu? atau tambah parah? Dinx, aku kangen nyenja sama kamu. Main pasir, menghisap remah-remah roti dan memburu cokelat. Kapan kita begitu lagi?


*May, suratmu terlalu pendek tapi lugas. Keadaanku sebaik yang kamu kira dan kamu harapkan. Iya, kita ngeskrim lagi kalau kamu pulang. Iya kita nyenja lagi kalau Tuhan masih belum meminta pulang. Dan, iya kita akan menyisir barisan pasir di selatan Jogja. Kamu pasti kangen pecel rasa cokelat bukan? Aku menunggumu. Salam kangen.

Kebiasaan Sederhana

Sebagai wanita seringkali kita dihadapkan pada banyak hal yang membuat sumpek, contoh sepelenya adalah urusan pakaian, makan, bahkan urusan janjian dengan rekan kerja atau pasangan yang seringkali membuat galau. Bahkan, tak jarang mood benar-benar bisa jungkir- balik karena perkara sepele. Nah, dalam beberapa hal (di luar banyak hal negatif yang ada) aku membiasakan beberapa hal yang menurutku ini penting karena berorientasi pada edukasi dan sadar lingkungan.
·       1 Untuk 1
Sederhana itu tidak mengurangi harga tapi menambah harga.
Sebenarnya aku bukan penggemar pakaian tetapi dalam kenyataannya aku mengalami banyak masalah terkait dengan baju. Di antaranya adalah seringkali aku membeli baju tapi cuma satu atau dua kali pakai dannnn.... bosan. Atau di lain hari almari penuh tumpukan baju model ini itu yang sudah kelewat zaman. Bahkan, tidak jarang untuk event tertentu aku menyempatkan diri ngeloyor nyari baju baru. Sumpah aku merasa sangat boros hehe... Akhirnya aku menemukan cara yang menurutku jauh lebih baik, yaitu 1 untuk 1. Apabila aku membeli baju baru satu, aku mengurangi 1 baju lamaku untuk diberikan kepada orang lain. hal ini cukup membuat isi almariku tetap kostan. Di sisi lain, akan melatih diri kita untuk selalu berbagi dengan sesama.
·       Operasi Tanggal Lahir
Hampir semua orang menganggap tanggal lahir itu spesial karena menandai sebuah kehadiran. Hal inipun berlaku padaku. Aku selalu menganggap tanggal 22 itu spesial. Bukan hanya di bulan November saja tetapi di setiap bulannya. Biasanya di tanggal itu aku membuat planning berbagi dengan orang lain. Tentunya bukan traktiranlah ya. Aku lebih suka bernegosiasi dengan barang yang dibungkus rapi dan menarik. Mungkin memang bukan hal yang besar dan mahal tetapi hal itu membuatku selalu ingat untuk bersyukur pada setiap helai nafas yang dianugerahkan Tuhan padaku. Kita makhluk sosial dan itulah mengapa manusia tidak bisa hidup sendiri dan saling membutuhkan (kata pelajaran IPS).
·       Bye-Bye Sampah Visual
Paling males banget kalau ngeliat orang buang sampah sembarangan. Apalagi kalau di jalan asal wer wer werr dari motor atau mobil. Beuh... rasanya kaya pengen tak jitak. Dalam keseharian kita juga sering menemui sampah visual yang memenuhi simpang tiga, simpang empat, nempel tembok, melekat di tiang listrik, bahkan nancep di pohon-pohon. Nah, kalau sudah menyangkut pohon, aku merasa egoku tersentil. Tampaknya manusia-manusia marketer semakin kalap dalam memperkosa benda mati untuk mengiklankan diri/produk mereka. Dan aku? adalah musuh mereka! Setiap jumat sering kali aku menjadi relawan antisampah visual dengan mencabuti iklan-iklan kurang berperasaan di beberapa lokasi. Sampah visual ini juga menjadikan pemandangan sedikit miris.
·       Rekam dan Tulis
Menjadi penulis merupakan impianku sejak lama. Apa saja yang menurutku menarik biasanya aku catat dalam agenda dan media. Bahkan, tidak jarang mereka yang tersentil dengan tulisanku mencak-mencak tak karuan. Sekali lagi, saya hanya memotret realitas di atas kertas yang disublimasi sedikit pendapat. Jadi, kalaupun ada yang tidak setuju masalahnya bukan di saya hehe... Langkah ini kiranya juga cukup membuatku menjadi produktif karena tak jarang donasi mengalir ke rekening tanpa diminta. Yah, sekedar dari hobi memotret kecil-kecilan dalam tulisan tapi malah mendatangkan pundi-pundi uang. Sekali menyelam ketemu buaya hehe...
·       Seni Itu Menyehatkan
Aku pecinta fanatik seni baik seni suara, seni lukis, drama, maupun sejenisnya. Bagiku seni itu sesuatu yang memerlukan penghargaan dengan cara yang tidak biasa. Dan ketidakbiasaan ini yang membuatnya indah karena dalam merasakannya membutuhkan kontemplasi yang tidak mudah. Dalam setiap bulan aku sering mencari agenda-agenda seni yang bisa dikunjungi baik itu pameran seni lukis, pertunjukan teater, pementasan drama, dan lain sebagainya. Penikmat seni itu membutuhkan pendalaman jiwa yang tidak hanya sekedar makan dinikmati kenyang. Akan tetapi, di dalamnya ada soul yang sedang dicoba untuk diraba. Itulah kenapa seni juga bisa digunakan untuk terapi jiwa. Aku selalu haus hal-hal yang berbau perasaan ini, terlebih jika dinikmati dengan orang yang diinginkan.

Itulah beberapa kebiasaan yang seringkali aku lakukan. Hal-hal sederhana yang mudah dilakukan siapa saja. Termasuk kamu tentu saja. (16:06)

Jumat, 05 Februari 2016

Kepada Profku Dengan Penuh Maaf


Teringat saat kuliah dulu, Prof sering kali mendengungkan nama Minke, Nyai Ontosoroh, dan Mallema yang sekilas kubaca merupakan bagian dari kisah Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Tour. Sebagai mahasiswa aktif yang memiliki stok pembelaan diri dengan banyak tugas ini itu, aku hanya membaca sinopsisnya saja tanpa pernah membaca buku aslinya. Itulah rata-rata cara kami (mahasiswamu) menjawab tugas membuat kumpulan sinopsis novel. Miris memang, terlebih dengan label calon sarjana bahasa dan sastra. Akan tetapi, lagi-lagi ego pembelaan diri muncul dan mengatakan, "Ah, tak mengapa, toh teman-temanku melakukan hal yang sama. Bahkan, kegiatan copy-paste adalah hal yang lumrah bagi siapa saja.Gila sajasatu semester merampungkan 50 novel jadul!!!" Dan sekarang aku merasa sangat bersalah pada Prof yang kucurangi jalan lintasnya.
Semoga selalu sehat, Da...

Prof, anakmu yang kini hampir berkepala tiga baru benar-benar membaca buku yang Prof rekomendasikan 9 tahun yang lalu. Dan jujur, sebagai anak bahasa saya malu. Sangat malu. Saya tertinggal hampir 1 dekade. Sebuah perjalanan pembacaan yang menyia-nyiakan waktu. Terlalu banyak budaya dan pemikiran tajam yang diungkap buku yang terbit pertama 30 tahunan lalu dan masih relevan dibaca di masa sekarang. Sebuah karya anak bangsa yang luar biasa dan akupun menjadi jatuh cinta.

Membaca cerita ini serasa makan es krim di padang rumput. Ces yang krispi. Buku ini tidak hanya bercerita tetapi menyentuh hati para pembaca tanpa mengguruinya. Tidak hanya berkisah, berkeluh, atau mengobral kata-kata klise tetapi buku ini membuat pembaca terpekur dan berpikir menyelami budaya, keadaan sosial, perasaan, dan sikap memanusiakan manusia yang dikonstruksi berlatar sejarah. Buku yang begitu kaya, hingga tahulah aku Prof, kenapa Pram sangat dielu-elukan dunia. Sangat kritis dan perperasaan meski hal itu harus dibayarnya dengan penjara tanpa pengadilan di hampir seluruh hidupnya. Dan kini aku membenarkan kata-kata Prof di halaman pertama bahwa“sastra dapat melembutkan hati”. Maafkan Prof, muridmu yang begitu ketinggalan ini. Malukah engkau memiliki mahasiswa sepertiku? Maaf beribu maaf.

Sejak saat ini aku berjanji untuk lebih menghargai tulisan anak negeri. Untuk lebih mempercayai guru yang lebih berilmu. Dan kelak aku ingin mewariskan hal itu pada anak cucuku. Ah, Prof, anakmu ini tidak terlalu tua untuk menyesal bukan? Dan kalau saat itu bisa terulang aku ingin duduk di bangku terdepan untuk mendengar ceramahmu bukan karena seringnya absen keterlambatanku hingga harus mengambil kursi dan menjadi juru kunci (geli juga mengingat reputasiku dalam hal ini hehe…)


Prof, aku pun berjanji akan lebih menghargai sebuah profesi terutama penulis. Aku pun ingin menjadi seorang penulis seperti Prof. Dan kalian para pembaca yang budiman, belilah buku yang asli. Buku yang diterbitkan penerbit bukan pura-pura demi harga murah semata.Meski isinya sama namun sikap dan penghargaan terhadap karya penulisan haruslah berbeda. Oleh karena itu, mulailah dengan buku yang bernyawa asli bukan beraga asli tapi berhati palsu. (18:42)