Rabu, 16 Maret 2016

Untuk Ibu yang Berpulang Hari Ini

     Dua malam ini saya sulit tidur. Lebih tepatnya tidur dengan gelisah. Lampu yang kupadamkan pun tak cukup membantu resah yang semakin njlimet dengan goyah. Bahkan, malam sebelumnya saya terbangun pukul 2 dini hari karena bermimpi gigi taringku tanggal (padahal gigi taringku tidak pernah memenuhi standar secara bentuk).

     Pagi buta teleponku berdering dan muncul nomor baru. Antara ya dan tidak kuangkat saja nomor asing tersebut. Bla bla bla... "Aku ke sana sekarang," kataku mengakhiri pembicaraan. Tanpa sempat mandi, aku bergegas menuju rumah Ibu. Ya, bagiku. Ibu, yang tidak biasa. Seorang ibu yang memerankan posisi penting dalam sejarah kelulusan pendidikanku. Dan hari ini beliau berpulang. Melambaikan tangan pada segenap anak cucu, kepada orang-orang yang pernah beliau santuni, dan juga pada para ribuan pencicip rasa yang melegendakan namanya. Beliaulah Bu Tini, lengkapnya Sutini Hadi Santoso.

Bagi sebagian orang sosok Bu tini tentu sudah tak asing lagi. Sedikit aku ingin bernostalgia bersama kenangan 4 tahun ke belakang.Tak dapat dipungkiri, selama dekat dengan beliau, banyak hal dan pelajaran yang kuperoleh. Bagiku yang tentu masih kencur dalam banyak hal, beliau adalah sosok yang ngayomi dan penuh kasih sayang. Kerja keras, penuh semangat, pantang menyerah, sikap legowo lan narimo, dan bersedekah sosial adalah beberapa hal dari ribuan hal yang kucatat kuat dalam ingatan.

     4 tahun 5 bulan bukan waktu yang singkat untuk mengakrabi dunia pekerjaan yang saya geluti sebelumnya. Bahkan, dari dunia perhotelan ini aku mengenal banyak karakter manusia yang bertipe a hingga z. Dan tentu itu atas kebaikan Bu Tini dan keluarga. Di saat kekosongan waktuku menyelesaikan skripsi, aku diperbolehkan bergabung dengan Hotel Respati Kasih. Dinamika yang terjadi di dalamnya pun tak luput dari berbagai sorotan hingga tak terasa studi tesisku selesai. Aku merasa sangat bersalah pada Pak Denny Kakung yang sering kali harus meng-handle kerjaanku karena kutinggal kuliah. Dalam hal jadwalpun aku diberi kelonggaran waktu mengingat jadwal kerja menggunakan sistem shif. Sering kali aku harus mendebatkan waktu kuliah dan kerja yang tidak selalu sinkron dan jadwal kerja karyawan harus berubah hampir tiap minggu. Terlebih sebagai satu-satunya perempuan di hotel yang harus fighter juga menyisakan banyak konflik yang kadang memang menguras hati dan pikiran. "Wong akeh bedo-bedo pikirane Mbak. Aku gur pengen kabeh iso lancar. Anak, putu, lan karyawan bebarengan. Sek sabar lan ditelateni," kata-kata Ibu yang selalu menguatkanku saat lelah sudah di ujung mata.

     Bu Tini adalah satu di antara para pejuang keluarga yang belajar dari kenyataan. Usahanya dimulai dari berjualan ayam goreng di Pasar Bringharjo. Seiring berajalannya waktu usaha tersebut berkembang hingga saat ini (26-an tahun) telah memiliki hotel dan resto terkenal di Yogyakarta. Tentu bukan hal yang mudah mendapatkan semua itu. Butuh proses yang begitu panjang. Usaha ini pun berjalan semakin maju dan permintaan ayam semakin meningkat. Biasanya Bapak-Bapak tukang becaklah yang mengantarkan ayam tersebut ke rumah untuk diolah. Akan tetapi, lama-kelamaan permintaan yang terus meningkat membuahkan usulan untuk membawa ayam-ayam tersebut dengan pick-up. Lebih efisien memang tetapi Bu Tini keberatan jika semua diangkut menggunakan pick-up. Kenapa? Sebuah alasan sederhana sebagai orang Jawa, "Pae becak kui wes melu awae dewe ket jaman mbiyen. Nek kabeh pitik diangkut nganggo pick-up lha Pae Becak rep kerjo opo?" (Bapak tukang becak itu sudah ikut kerja dengan kita sejak lama. Kalau semua ayam diangkut menggunakan pick-up, Pak Tukang Becak mau kerja apa?" Saya trenyuh saat mendengar cerita ini. Ibu begitu peduli dengan nasip Pak Tukang Becak yang bukan siapa-siapanya. Tentu hal ini menunjukkan rasa empati terhadap kemanusiaan. Saya jadi teringat kata-kata seorang teman "sejauh apapun engkau berlayar, jangan pernah lengah membuang sauh dan jangkar. Mungkin padanya kita dapat belajar, mungkin darinya kita bisa lebih mendengar, dan darinya kita dapat menghargai laut secara lebih sopan".

     Setiap kali lebaran dan di momen sungkem, seringkali saya tak dapat menahan air mata ketika tangan Ibu mendekap erat dan mengatakan, "Maaf Mbak Ridhan nek wong tuwo akeh salahe." Rasanya sebagai orang yang lebih muda, aku merasa lebih berkewajiban untuk meminta maaf. Bahkan, di sela-sela bercandaan, ketika saya sowan ke rumah, beliau selalu bilang, "Mbak Ridhan kapan nikah? nek nikah jo lali diundang yo. Aku mesti teko. Adoh ra to Semanune?" Dan saat mengetik tulisan ini tak henti air mata mengenang Ibu. Bahwa ibu tak akan pernah lagi menyaksikan saya menikah. Ibu tak akan pernah menerima undangan saya. Ibu tak akan menyaksikan saya menggandeng suami saya. Namun, setidaknya suatu waktu dulu saya pernah mengenalkan dia ke Ibu, di pertemuan terakhir di suatu siang yang terik. Kiranya ibu merestui kebersamaan kami.

     Terakhir, pada pukul 13 ini saya mengiring kepergian ibu dengan doa. Doa terbaik atas segala hal yang ibu ajarkan pada saya. Meski saya tak sempat mengantar ke pusara, lantunan Al-Fatihah akan mengudara di dalamnya. Selamat jalan Ibu, selamat kembali bersanding dengan kekasih tercinta, Pak Kiman. Semoga Allah melapangkan dan menyematkan tempat yang layak untuk Ibu. Semoga apa yang telah ibu perjuangkan dalam perjalanan ini menjadi barokah buat semuanya, buat keluarga, buat tetangga, dan buat masyarakat seutuhnya.   


#Salam hormat buat Ibu. Maaf belum sempat menjenguk ketika di rumah sakit. 

Selasa, 15 Maret 2016

Jagongan Wagen (Antara Seni dan Entitasnya)

Jagongan wagen tentu bukan istilah yang aneh, malah sering terdengar di mana-mana. Yah, hampir semua orang tahu bahwa kegiatan ini merupakan event rutin yang diselenggarakan Padepokan Seni Bagong Kusudjiarja Bantul. Padepokan ini secara bekala mengangkat berbagai macam kisah yang direfleksikan dalam bentuk seni pementasan. Dan aku adalah salah satu dari ratusan bahkan ribuan tukang fans yang sudah akarab sejak 2010.  Berbicara tentang seni tentu tak bisa dilepaskan dari filosofinya. Seni tidak bisa dipahami sekedar dari bentuk luarnya. Seni adalah imajinasi dan representasi dari berbagai realitas kemanusiaan baik itu harapan, keadaan sosial, kritik, maupun berbagai fenomena alam dan manusia.

Jagongan wagen (JW) bagiku selalu menyediakan ruang ublik yang bisa dinikmati oleh siapapun dan kalangan manapun. Penontonpun bervariasi tidak terbatas usia  mulai dari anak-anak hingga aki nini. Bahkan, anak muda pun tak kalah antusias. JW sendiri bagiku bukan sekedar nonton pertunjukan tetapi di dalamnya mengetengahkan dialog dengan setiap jiwa yang mengikutinya. JW selalu memberikan oleh-oleh untuk kubawa pulang dan kuceritakan pada teman-teman. Itulah yang membuatku merasa menikmati seninya hidup yaitu bahwa seni itu tidak hanya dinikmati dan selesai tetapi ada gethok tular yang bisa menjadi peranti pengejawantahan nilai-nilai yang lebih luas.

Hal yang menarik dari JW adalah tema yang diangkat setiap bulan selalu up to date. Bervariasinya tema yang dikemas dalam berbagai kolaborasi seni seperti seni musik, tari, lukis, drama, kerawitan, dan lain-lain merupakan kombinasi yang membuat atmosfer JW semakin berwarna. Para penonton digiring dalam sebuah cerita tetapi dibiarkan untuk menafsirkan sendiri korelasinya. Di sinilah seni menjalankan peran dan fungsinya sebagai sarana yang memberikan ruang yang tak terbatas bagi tiap insan untuk berkontemplasi. Sebagai pecandu seni, JW adalah salah satu bukti seni untuk rakyat, yaitu bisa dinikmati semua kalangan tanpa membedakan status. Semua bisa menikmati tanpa perlu memikirkan retribusi tiket masuk layaknya pertunjukan seni yang digelar di gedung-gedung budaya. Bukankah seni juga merupakan salah satu produk budaya yang selayaknya bisa dinikmati rakyat banyak tanpa memandang klaster? Bukankah setiap orang memiliki kesempatan yang  sama dalam menikmati keindahannya?