Kamis, 21 April 2016

Yang Ber-aku dan Ber-kamu

Aku mengagumimu lelakiku, kamu yang mampu mengerjakan banyak hal yang aku tak mampu. Termasuk dalam perkara remeh-temeh yang terlalu sederhana seperti membuka plastik, botol, dan kau mengataiku ceroboh dan tidak cerdas. Meski begitu, tentu akan kutunggui kamu menjadi sarjana. Sarjana yang baik. Seorang sarjana yang sangat baik bukan sekedar buat dirinya tapi juga buat masyarakat, buat bangsanya.

Kamu, lelaki yang melamarku dengan sebuah lukisan dengan tulisan sederhana "maukah kau seumur hidup denganku?" lepas beberapa hari dari ulang tahunmu setahun yang lalu. Dan aku baru tahu ternyata kamu pandai memoles kuas dan tulisanmu juga tak cukup jelek. Dari sana aku sadar bahwa cinta bisa hadir tanpa diduga. Dan kapan rasa itu menepi kepada kita. Cinta kita hadir karena perkenalan, bersemi karena perhatian, dan bertahan karena kesetiaan. Aku bukan penggombal taktis meski aku menyukai banyak hal romantis. Aku suka pantai di kala senja, suka melelehkan es krim di pipi, dan tentu mengamatimu saat kau terlelap. Dan saat itu aku sangat yakin betapa aku tak ingin kehilanganmu.

Kamu, sesuatu yang bertumbuh dalam diriku sejak beberapa tahun yang lalu. Tidak berlebihan kalau aku ingin bersamamu hingga usia tak lagi muda. Bukankah kita telah mengeja banyak hal tanpa sungkan. Dan kini dengan bangga kukatakan bahwa secara sengaja telah sedikit berhasil memaksamu berhenti menghisap asap.

Kita yang sekian lama ber-aku-kamu, tak pernah sedikitpun aku malu untuk menyatakan aku merindukanmu lebih dulu. Akupun juga tak pernah sungkan melakukan banyak hal bersama di jeda pekerjaan kita yang menyita. Seperti kataku dahulu bahwa aku tak akan pernah mampu untuk menerima cinta yang mendua-yang menerbitkan siksa pada insan yang sama. Aku wanita yang tak akan pernah mau engkau duakan apalagi limakan. Aku tak peduli pada masa lalumu-pada masa kamu bermain mesra dengan para mantan-mantanmu, dan akupun tak pernah merasa takut tersaingi oleh mereka.

Karena aku menyintaimu dengan segala dayaku yang tak mungkin kau temukan di semua mantanmu.

Aku yang berada di sini adalah yang akan mendekap siang malammu dalam prioritas dan membersamai masa tua dengan segala catatan cita-cita kita.

Untukmu yang telah mengisi perpustakaanku dengan buku-buku baru, tak separuhpun aku berharap jauh darimu. Kamu adalah bagian yang kini kutemukan. Bukan dari kumpulan buku usang atau dari jaring laba-laba yang terentang. Kamu, sejarah yang tidak bisa dibeli. Kamu kutemukan dari sebuah penantian. Sebuah perasaan yang lama telah kubenamkan dalam-sedalam-dalamnya- tanpa pernah berniat untuk diceritakan. Sampai suatu waktu Tuhan membisikkan cerita final.

Aku yang kini mulai menyukai daging (adalah karenamu) dan adrenalin blusukanku mendapat partner yang seimbang. Dalam banyak pelarian kuliner dan lompatan wisata kita ke berbagai tempat yang tak terduga. Satu yang aku belum bisa, kita memang pernah menikmati suatu senja di pantai selatan awal 2014 tahun yang lalu. Saatnya nanti, aku ingin menikmati senja denganmu-hanya berdua. Dan lebih lama. (Kartini, 13:33/rd)


Jumat, 15 April 2016

PASAR KOTAGEDE PASARE AWAKE DEWE

         
                "Piro, Kang sewungkus?" tanya seorang ibu paruh baya berkerudung.
            "Limang ewu sewungkus isi jadah 4 tempe 3," jawab seorang bapak yang sejak tadi sibuk membuat cetakan jadah.
            "Ora limangewu isi papat papat?"
            "Kui wes murah, Yu. Isih panas asli saka Kaliurang," jawab Si Bapak melanjutkan.
            "Ya wis, 3 bungkus wae."

Percakapan di atas adalah salah satu petikan yang lumrah ditemui di pasar-pasar tradisional. Sebuah tempat yang di dalamnya menyediakan ladang bagi seni tawar menawar harga. Kadang untuk mendapatkan harga yang murah, penjual dan pembeli harus saling mengadu kepintaran negosiasi sehingga tercapai kata sepakat. Tentu hal ini tidak ditemui di pasar modern yang telah mematok harga pas bagi setiap barang yang dijual.

Bagi Suprih, bapak dua orang anak yang berjualan di Pasar Kotagede, pasar adalah salah satu tempat keluarganya bergantung. Sudah 4 tahun ini beliau berjualan jadah tempe di Pasar Kotagede. Pada sore hari kurang lebih pukul 5, beliau dan istrinya datang menyusuri padatnya lalu lintas Jogja demi sebuah harapan keluarga. Bahkan, Suami istri ini tidak pernah libur berjualan meskipun hari besar. Meskipun ketika hujan maka pelanggannya berkurang dan harus pulang sampai malam, profesi ini tetap ditekuni oleh suami istri yang berasal dari Kaliurang ini. Lain halnya ketika cuaca cerah maka sepasang suami istri inipun dapat pulang lebih awal karena biasanya 10 kg jadah ludes dalam waktu 3-4 jam.

 Uang kebersihan yang dipungut kepada para pedagang di Pasar Kotagedepun terbilang cukup murah, yaitu Rp 500 setiap jualan sehingga total perbulan hanya Rp 30.000. Salah satu yang menjadi pegangan Bapak Suprih adalah tidak mengambil untung terlalu banyak dan selalu menjaga kualitas dagangannya. Hal inilah yang menjadikan jadah tempe Pak Suprih laris manis dan selalu ditunggu para pembeli.

Seperti diungkapkan di awal, sebenarnya seni tawar menawar ini memiliki teknik tersendiri. Agar calon pembeli bisa mendapatkan harga di bawah harga yang disampaikan penjual maka kedua pihak harus saling bernegosiasi terlebih dahulu. Salah satu cara ampuh yang biasanya diterapkan setelah pembeli menawar dengan harga tertentu dan penjual masih merasa keberatan lakukan satu hal, yaitu pura-pura pergi. Biasanya teknik ini cukup ampuh untuk membuat Sang Penjual luluh. Namun, apabila ketika sudah ditinggal pergi dan Sang Penjual tidak memanggil berarti harga yang ditawar pembeli terlalu rendah. Itulah salah satu trik belanja di pasar tradisional. Selain menguatkan hubungan emosial antara pembeli dan penjual, interaksi negosiasi ini akan mendekatkan hubungan kekerabatan para pelaku ekonomi di pasar. Keuntungan lain berbelanja ke pasar tradisional adalah tersedia produk-produk segar yang harganya jauh lebih murah dibanding di pasar modern.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pasar adalah pusat perputaran roda ekonomi masyarakat. Pasar Kotagede atau yang dikenal dengan Pasar Legi merupakan pasar tertua di Yogyakarta. Pasar yang terletak di timur laut Masjid Besar Mataram Kotagede ini memang lebih ramai di pasaran legi (pasaran Jawa). Hal inilah yang membuat masyarakat menyebut pasar ini sebagai Pasar Legi. Selain menjual berbagai kebutuhan masayarakat mulai dari bahan pangan, pakaian, kerajinan, onderdil barang-barang bekas (khusus malam hari), barang-barang kerajinan, kuliner/jajanan khas seperti kipo dan yangko, pasar ini juga menawarkan berbagai objek menarik lain. Apabila Anda penggemar  berbagai jenis burung dan tanaman hias, pasar ini juga menjual hewan-hewan peliharaan seperti burung dan tanaman di sisi barat pasar, ikan hias disebelah selatan pasar, dan sisi timur pasar dapat ditemui penjual berbagai jenis unggas.

Di sisi lain, problema pasar tradisional dari zaman dahulu tetap sama. Salah satunya tumpukan sampah di beberapa lokasi, munculnya genangan air apabila hujan selesai mengguyur, serta aroma khas pasar yang tidak biasa. Meskipun begitu pasar ini tidak pernah sepi pengunjung. Dapat dikatakan Pasar Kotagede adalah pasar yang hidup hampir 24 Jam. Ketika pagi hari, pasar dijejali oleh para pedagang kebutuhan sehari-hari dan sayuran. Ketika menjelang sore, barang daganganpun sudah berganti menjadi pusat jajanan lauk dan camilan. Uniknya, seni tawar-menawar dan aroma khas pasar inilah yang sering kali malah menjadi daya tarik bagi para pelanggan untuk berbelanja ke pasar.

Beraneka macam barang kebutuhan yang dijual di pasar Kotagede ini menjadikan pasar ini layak disebut sebagai miniatur 4 pasar besar, yaitu Pasar Giwangan yang merupakan sentra pasar buah dan sayur, Pasar Bringharjo yang merupakan pasar terbesar dan terlengkap di Yogyakarta, Pasar Klitikan yang merupakan pasar khusus penjualan barang-barang bekas, dan Pasar Phasty yang merupakan sentra penjualan tanaman hias dan hewan peliharaan.

Pasar Kotagede juga memiliki nilai historis tersendiri sejak zaman kerajaan Mataram. Hal ini dikarenakan pasar ini telah menjadi pusat ekonomi sejak zaman lampau. Lokasi pasar ini pun cukup strategis, yaitu di Jalan Mondorakan nomor 140B yang terletak di utara Masjid Kotagede yang hingga kini tetap ramai diziarahi para pengunjung.

Jadi, dapat dikatakan dengan mengunjungi dan berbelanja di Pasar Kotagede berarti telah melakukan serangkaian perjalanan yang lengkap baik secara historis, ekonomi, dan sosial. Para pembeli bukan saja sekedar mencari berbagai kebutuhan tetapi lebih dari itu, yaitu menjadi bagian dari interaksi pasar tradisional dan pengalaman ini patut dicoba siapa saja. Termasuk Anda para pembaca. (16/4/rd)




Jumat, 01 April 2016

Di Batas Kemampuan(ku) ...

Dari sebuah pengalaman kita bisa berkisah. Dan darinya setidaknya kita bisa belajar bahwa hidup itu harus penuh ketangguhan. Diadaptasi dari kisah nyata, kali ini aku ingin bertutur pada kalian.

Namaku Ganesthi. Usia 20-an dan aku sudah tidak lajang. Sedikit aku ingin bercerita. Aku tak berharap belas kasihan, aku hanya ingin kalian mengerti dan menghindari yang tak perlu dilakukan. Karena itu telah kulakukan.

Setiap orang pasti punya orientasi. Termasuk cemburu. Bukan sekedar pada pasangan, pada rekan kerja, kadang sama burung yang terbang bebas saja kita bisa cemburu. Pada apa? pada kebebasannya mungkin. Suatu hal yang sangat sulit dimiliki manusia dan tak akan bisa (memang begitu takdirnya). Dan itu yang saat ini hinggap di hatiku. Aku cemburu pada bunga yang merekah dengan hebat, aku cemburu pada angin yang bertiup damai, dan aku cemburu pada masa lalu yang begitu manis terlihat, pada stomata dedaunan yang siap menangkap cahaya matahari. Dan terlebih, pada hari ini karena aku tak bisa menemuimu. Entah alasan apa yang kau sodorkan padaku kecuali,"Dia sakit dan aku tak tega." Sekali lagi aku harus berurusan dengan masa lalunya. -Nya (dia yang sekarang jadi suamiku).

Dari sisi sosial aku tak pernah diajari untuk membiarkan orang lain kesakitan memang. Akan tetapi yang dilakukan oleh Karen (wanitu itu) sungguh di luar dugaan. Dia terlalu cerdik dan licik. Bagaimana tidak? aku harus selalu mengalah pada semua kemauannya hanya karena suamiku pernah bersamanya di masa lalu. Dan yang lebih mengherankan adalah waktuku selalu menjadi lebih sedikit dan tampak tak masuk akal. Terlebih setelah kelahiran bayi yang sulit kusebut tidak manis itu. Jadi begini nasipku sekarang. Sementara status pernikahanku yang di bawah tangan juga tak membuahkan hasil apapaun. Aku sadar betul tak ada yang bisa kutuntut padanya. Karen istrinya! dan aku? hanya istri siri! tidak lebih.
 
Sebulan ini pekawinan kami berjalan abnormal. Seperti pada awalnya ketika kami berpacaran. Setiap kali panggilan dari Karen datang aku merasa semacam barang sisa yang tiada berguna. Ini memang menyakitkan. Teman-temankupun tak henti-hentinya memberiku nasihat tetapi ragaku rasanya terlalu sederhana untuk mencerna cara-cara pelarian yang akan memiskinkanku. Fasilitas dari orang tuaku dan hasil kerjaku berupa kendaraan, tabungan, ATM, dan bermacam atribut pekerjaanku diserobot olehnya. Bagiku awalnya mungkin ini yang namanya cinta. Tetapi lama-kelamaan tubuhkupun tak mampu lagi menderma rasa. Biru lebam, pukulan, cekikan, bekas cakaran adalah hal yang biasa mengisi perkengkaran kami. Hanya air mata yang tertumpah tanpa aku bisa melawan. Aku terlalu takut orang-orang yang kusayangi akan mendapatkan kabar buruk tentangku. Aku terlalu menyayangi ayah, mama, dan kakak-kakakku.

Memang kuakui aku salah memutuskan menikah terlalu dini dengan kesadaran penuh bahwa suamiku tidak bercerai dengan Karen. Tapi saat itu aku memiliki harapan akan cinta kami yang bisa bertumbuh dan indah. Makin kesini kutemui bahwa cintanya hanyalah obralan bullshit yang tak berharga. Nyatanya perlakuan kasar dan tindakan amoral sering kuterima. Mungkin tubuhku memang sudah tak ada harganya, tetapi di hatiku masih terbit cukup rasa cinta untuk menyelesaikan pendidikan di kampusku. Meski begini aku juga ingin tak mengecewakan ayah dan mamaku. Dan dari mereka kututup semua cerita pahitku.

Saat pelarianku, aku hanya ingin menghilang sejenak dari hiruk-pikuk penonton yang sering memandangku negatif karena tato yang menghiasi tubuhku dan cekung mata yang tak mampu menahan sendu lebih lama. Aku sudah tak peduli pada banyaknya orang yang heboh mencibirku dengan berbagai bujuk rayu dan obralan murahan. Aku hanya ingin selamat. Dan hidup lebih lama.

*Memilukan tetapi sebagai wanita yang cerdas
  seharusnya kamu tahu bagaimana bertindak tegas
  dan bangkit dari keterpurukan.