Rabu, 21 Desember 2016

Kita (Sedikit) Konyol

Lama tak bersua, kangen. Itulah kalimat paling efektif jika kita jarang nongkrong lagi. Meski di grup tetap ada ramai cerewetnya, rasanya belum lengkap kalau belum ketemu. Pertemanan yang aneh haha... Dulunya sih sebagai orang yang mengalami banyak cobaan dalam cinta kita melanggengkan diri dalam sebuah komunitas  "Jomblo Garis Keras" yang biasa disapa jakers. Tentu isi di dalamnya bisa ditebak: manusia-manusia yang kehilangan, putus cinta atau bahasa kerennya brokenhearth, korban ditikung, korban diselingkuhi mantan/teman, korban dibodohi mantan, dan seabrek kata-kata menyakitkan yang diakibatkan oleh makhluk bernama mantan. Ehemmm... hehe...

Singkat cerita, grup yang menasbihkan diri lebih memilih jomblo daripada sakit hati ini inipun mulai luntur. Satu-persatu mulai merambati cinta lagi dan menikah. Uhukkssss... Ada yang sudah punya pacar lagi, ada pula yang tak bisa move on dari masa lalu dan berharap kembali lagi. Dan tentu saja masih ada yang tetap memilih jomblo sebagai pelarian paling aman dan dekat dengan Tuhan.

Perjalanan mengalir. Kesibukan mulai meringsek dan semua kembali dengan rutinitas hiruk-pikuk dunia nyata.  Kita yang kebetulan edan berempat semakin tak punya tempat. Akhirnya nongkrong, ngopi, ngedan, dan dolanpun menjadi agenda rutin setiap akhir pekan selama setahun belakangan. Coba saja pikir, gegara kangen teh di pagi hari dan bakwan goreng diniati malam-malam blusukan ke Sumbing berempat. Agenda saling menggoblokkan pun terjadi. Semua merasa paling benar dan sok pinter (meski semua sadar kadar kecerdasannya  standar wkwkwkwk....) Perdebatanpun tak dapat dihindarkan hampir di setiap tikungan dan belokan Jogja-Magelang. Hasilnya pun bisa ditebak. Malam-malam keblasuk 30 km dalam keadaan lapar total!!! Sampai di rumah tujuan ngobrol sama Pak Kozim, " O nggih Pak...niki wau anu.... terus anu... malah anu... dadi anu... dan anu-anu seterusnya". Percakapan ini membuat roti di toples semakin menipis  dan teh sampai ganti berapa gelas. "Wah, adem nggih, Pak.... Walah, niki enak sambil tangan menggerayangi meja hingga hanya bersisa puing-puing remah roti yang menyedihkan. Apa daya Pak Kozim cuma bisa bilang "monggo" -adegan kelaparanpun menjadi sangat memalukan untuk diceritakan.

Belum lagi saat itu sedang ngetren dengan kata kalut karena sang Kapolda Indro (yang kukenal sejak 2013 hingga detik ini tak pernah kutahu nama sebenarnya) mbingungi dan cen sumpah rodo oon tenan. Kapolda ra dongan. Bagaimana tidak? Masak nggropyok orang pacaran di lapangan X ngaku Polda Depok Timur! Depokkan polres to yo. Gila lu Ndro hahaha....

Akupun tidak akan menyucikan diri sebagai orang yang sok baik. Saat insiden penghianatan berdarah mantan hingga membawaku kabur seorang diri ke Jakarta dan Bogor, 3 manusia ini yang setia menunggu saya di Jogja. Bahkan, jam 7 pagi landing, jam 10 sudah dijemput paksa untuk ketemu dengan alasan yang sangat klasik: Lutisan. Aslinya? Yakin banget kalian kangen aku yang eksotis! hihihi....hahahaha...

Lain sebab lain akibat.  Kosa kata "memang Tuhan bisa dikreditpun" sebenarnya punya cerita tersendiri. Saat itu saya sedang berantem dengan mantan  dan itulah salah satu dialog yang membuat 3 orang ini mengabadikannya terus-menerus hingga saat ini. Belum lagi kalimat-Cukup Ani! Oh,  tidak Roma!-yang ikut meramaikan cerita hingga camping di Pantai Sundak hahaa... (Yang ini cut saja ceritanya ups hahahahaha....)

Di situ saja? Tentu saja tidak! jauh ketika ngopi menjadi agenda resmi, semua orang kena perangkap buka kartu yang mengharuskan semua mengaku kebodohan, kekonyolan, dan kegilaan dengan para mantan. Adegan penghakiman atas kekalahan dengan memakai heels dan tas cewek mondar-mandir di keramaian 0 km menjadi hal yang manis untuk diingat.

Gak cuma di situ! Gegara seorang teman gak ada kabar, sore-sore diniati datang di Trowono. Informasi terakhir yang bersangkutan sakit dan harus banyak istirahat karena kondisi tubuhnya yang lemah. Sepanjang perjalanan itu kami saling merapal doa dan berpakaian serba hitam. Kata-kata berduka sudah disusun sedemikian rupa. Setelah 1 jam perjalanan akhirnya rumah si empu yang menjadi sasaranpun didatangi dengan jeduk-jeduk jeder-jeder. Tak dinyana, ternyata dia sehat wal afiat tanpa kurang dupa. Pernyataan terakhirnya: maaf hp mati sekiranya sudah menjadi jawaban terbaik dan cukup mewakili. Ya awoh paringono sabar...

Kamis, 01 Desember 2016

Pendidikan Anak Tanggung Jawab Orang Tua

Dalam sebuah rumah tangga yang dihuni oleh lebih dari satu keluarga memang cenderung lebih sering menimbulkan gesekan karena konflik kepentingan. Hal ini tentu tak dapat dihindarkan karena setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Dalam kasus sederhana, misalnya dalam hal pola pengasuhan anak. Si Ibu inginnya pendidikan anak dengan pola begini, Si Kakek-Nenek lebih condong yang begini karena sudah dari zaman dahulu turun temurun. Perbedaan ini seringkali juga menimbulkan kegaduhan-kegaduhan kecil antar orang tua, anak, saudara, maupun mertua. Bukan menghakimi ya, tapi sebagian besar orang tua masih terfokus mengasuh anak dengan gaya memerintah dan keras. Kalau gak begitu ya gak!. Pokoknya tak beda macam tentara. Padahal hal tersebut sangat bertentangan dengan pola asuh yang baik.

Seorang anak harusnya diberi kebebasan untuk memilih tetapi harus diberi contoh untuk bertanggung jawab. Misalnya saja membiasakan anak untuk membuang bungkus makanan ke tempat sampah sendiri, merapikan mainan, makan dan memakai baju sendiri sejak kecil, dan lain sebagainya. Terlalu memanjakan anak dengan selalu melakukan segala hal untuknya mulai dari menyuapi, memandikan, mengambilkan makan, membereskan makanan malah bisa membunuh kreatifitas dan sensitifitas anak untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Mungkin hal ini tidak akan bermasalah selama ada yang mengurusi dan tidak membuat ribet malah proses mandi dan makan akan berlangsung dengan cepat. Akan tetapi, bagaimana jika dalam suatu kondisi Si Anak tidak ada lagi yang mengurusi? tidak ada lagi yang memandikan atau menyuapi karena usia atau kondisi fisik tertentu? Tentu anak akan menjadi syok yang terbiasa apa-apa disediakan harus melakukan sendiri.  Bahkan, dia bisa jadi bersikap kasar, anarkis, berteriak-teriak, dan sebagainya. Dari hal di atas, kita dapat mengambil satu benang merah bahwa menerapkan pola pendidikan kemandirian sejak dini merupakan sebuah keharusan bagi orang tua.



Dalam banyak kasus, janganlah orang tua memaksakan anak sesuai dengan kehendak hatinya apalagi malah menghakimi dengan kata-kata yang kasar. Hal-hal yang melukai hati semacam ini akan menancap di hati dan terekam oleh pikiran anak. Ibarat seseorang yang memaku tembok dengan paku, meskipun sudah dicabut pakunya tapi bekasnya masih terlihat jelas. Begitu pula dengan hati manusia, sekali dia disakiti maka dia akan sulit melupakan meski dia mudah memaafkan.  Begitulah kurang lebih kira-kira perumpamaanya. Jadi, belajar menjadi orang tua yang bijak memang tidak mudah tapi akan lebih susah ketika memetik hasil dari benih yang tidak dirawat daripada bibit yang disiangi dan disiram setiap hari bukan? Dalam kasus semacam ini sebaiknya peran bapak ibu untuk memberikan pengertian dan pengetahuan kepada orang tua sangat penting. Di sisi yang satu mungkin pihak kakek-nenek tidak tahu hal semacam itu akan memiliki imbas atau memang dasar watak karakternya yang memang begitu. Nah, untuk poin yang terakhir ini sebaiknya orang tua memang menyediakan benteng khusus untuk bersikap baik dalam menjelaskan ke anak maupun pendekatan ke orang tua. Harapannya tentu dapat menyinergikan kesepahaman pola asuh antara orang tua dan kakek-nenek dalam memberikan nilai-nilai pendidikan karakter yang positif pada anak. Sebagai orang tua sudah merupakan kewajiban dan fitrahnya untuk memberikan pendidikan sikap yang baik bagi anak, janganlah  bersikap leleh luweh terhadap pendidikan anak apalagi menyerahkan pada orang lain karena kesibukan kerja.

Mari memulai hal baik dari keluarga, dari rumah terkecil kita.