Selasa, 23 April 2013

Pemerkosaan dan Pembunuhan Sadis Siswi YPKK Kalasan Sleman



Berita heboh berkaitan dengan pembakaran siswi smk YPKK di Sleman (Kedaulatan Rakyat, 17 April 2013) menggegerkan publik Yogya. Pasalnya, kota pelajar yang terkenal adem ayem ini tiba-tiba saja muncul kasus pembunuhan sadis  yang sangat tidak berperikemanusiaan. Bayangkan saja seorang siswi yang masih remaja diperkosa beramai-ramai, dibunuh dan mayatnya dibakar. Sungguh ini menyentil hati nurani kita. Bahkan, kita sebagai warga Yogya rasanya sangat sulit menerima kenyataan ini. Bagaimana mungkin kejadian ini bisa terjadi di kota yang mendapatkan julukan kota pelajar? Kota tercinta yang menjadi tujuan belajar dari berbagai provinsi? Mengapa hal ini dapat terjadi? Sungguh sangat disayangkan.
Apapun alasan yang diungkapkan oleh para pelaku pembunuhan ini, tetap tidak dapat dibenarkan. Penghilangan nyawa seseorang dengan motif apapun termasuk tindakan kriminal yang melanggar hukum. Para pelaku bahkan dapat dikenai pasal berlapis terhadap tindakan yang dilakukan, yaitu pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran jenazah. Seperti yang diberitakan di media massa bahwa pelaku masih berusia 17 tahun. Usia remaja yang masih sangat labil dan penuh emosi. Remaja seusia ini apabila tidak mendapatkan bimbingan yang baik sekaligus kurang memiliki ruang berkreasi biasanya cenderung melampiaskan ke hal-hal negatif. Salah satu tindakan yang dilakukan oleh para pelaku ini adalah mengkonsumsi miras. Miras ini menyebabkan adrenalin dalam darahn meningkat sehingga terpacu untuk melakukan hal-hal di luar batas kendali dan di luar batas kewajaran.
Selain kejadian tersebut, ada satu hal yang menarik dalam kasus ini. Tindakan yang dilakukan oleh dua tersangka remaja ini diotaki oleh ayah salah satu tersangka sendiri. Berdasarkan pengakuan tersangka (Kedaulatan Rakyat, 23 April 2013) tindakan kejahatan ini sudah direncanakan sebelumnya oleh sang ayah yang terkenal sebagai orang pandai. Bahkan, sang ayah ikut beramai-ramai memperkosa sang korban. Gila!!! Hal ini mencerminkan betapa bobroknya nilai-nilai moral yang ada di masyarakat. Seorang ayah yang seharusnya memberikan suri tauladan kepada anaknya, membimbing, mengayomi, memberikan arahan ternyata malah mendukung bahkan meminta sang anak melakukan tindakan kriminal. Ini sungguh di luar norma-norma yang berlaku.
Tentu masyarakat akan terus mengawal kasus ini hingga selesai. Masyarakat pada umumnya mengharapkan penyidik kepolisian dapat segera bertindak tegas dan mengambil tindakan nyata guna menyelesaikan konflik yang membakar emosi ini. Dukungan dari berbgai pihak baik dari keluarga korban, sekolah, kepolisian, dan masyarakat pada umumnya sangat diperlukan guna menuntaskan kasus ini. Tidak lain, kasus ini bisa menjadi bahan renungan kita bersama. Apa sekiranya yang perlu diperbaiki dalam tatanan kemasyarakatan kita? Apakah pendidikan karakter perlu kembali ditekankan dalam pembelajaran? Apa yang salah dalam sistem pengajaran moral di sekolah dan di rumah? Tampaknya hati nurani kita sendiri yang harus menjawab semua pertanyaan ini (00.47)


0 komentar:

Poskan Komentar