Jumat, 31 Mei 2013

Hubungan Aksiologi dengan Linguistik Terapan



Aksiologi sangat erat hubungannya dengan linguistik terapan. Hal ini dapat dipahami bahwa pemanfaatan linguistik terapan dalam kehidupan masyarakat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan menyelesaikan tugas-tugas praktis yang menggunakan bahasa sebagai komponen inti. Munculnya plagiasi-plagiasi dalam linguistik seperti dalam penulisan karangan atau penelitian ilmiah merupakan bukti adanya penyalahgunaan dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan yang jauh dari moralitas.
Pada bahasan ontologi dan epistemologi sudah dibahas mengenai bagaimana dan seperti apa hakikat linguistik terapan (ontologi), bagaimana pemerolehannya (epistemologi), dan dalam ranah linguistik terapan fungsi aksiologis adalah sebagai landasan yang mengarahkan kepada tujuan dari kebaikan-kebaikan ilmu pengetahuan yang telah ditemukan. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita menemukan masalah anak yang terlambat berbicara atau anak yang tidak dapat berbicara layaknya anak pada umumnya. Kehadiran psikolinguistik diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut dengan mencari penyebab munculnya masalah tersebut. Selanjutnya, langkah yang dapat dilakukan adalah mencari terapi yang sesuai untuk mengatasi hal tersebut.
Dalam bidang sosiolinguistik, munculnya persoalan persaingan antarkelompok masyarakat juga dapat diselesaikan dengan adanya ilmu linguistik terapan. Penggunaan ilmu tersebut  dapat digunakan untuk mendalami permasalahan yang timbul antara dua kelompok dan menemukan solusi guna mendamaikan dua kelompok tersebut, misalnya dengan berdialog dengan masyarakat tersebut. Contohnya pada kasus suku Madura dan suku asli Kalimantan yang bertikai dalam perebutan wilayah. Penggunaan linguistik terapan dalam bidang sosioliguistik yang tidak berlandaskan asas moral dapat kita lihat pada kasus pecahnya perang Paderi di Sumatra Utara. Pada awalnya kaum adat dan kaum agama hidup berdampingan secara damai tetapi diadu domba (devide et empera) oleh Belanda. Kejadian ini bermula setelah masuknya tokoh sosiolog dalam masyarakat tersebut. Dengan kepandaiannya sebagai seorang sosiolog yang memiliki tingkat keilmuan lebih, sosiolog tersebut mendekati kaum adat dan kaum agama. Kedua belah pihak diprovokatori hingga akhirnya pecah perang saudara. Perang ini melemahkan kekuatan kedua kaum sehingga wilayah tersebut lebih mudah dikuasai Belanda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar