Selasa, 14 Mei 2013

INTEGRASI, PIDGIN, KREOL, DAN DIGLOSIA



Sosiolinguistik merupakan salah satu disiplin ilmu yang membahas penggunaan bahasa dalam masyarakat sosial. Sosilinguistik akan memberikan uraian dasar yang terdiri dari: konsep dasar sosiolinguistik itu semdiri, masyarakat tutur, variasi bahasa, kedwibahasaan, diglosia, pemilihan bahasa, alih kode dan campur kode, sikap bahasa, pergeseran dan pemertahanan bahasa, etnografi komunikasi, serta penerapannya dalam analisis pemakaian bahasa dalam konteks sosial budaya di masyarakat. Pada bagian ini akan dibahas mengenai integrasi, pidgin, kreol, dan diglosia.

A.    Integrasi Bahasa
Mackey (dalam Abdul Chaer:128) mendefinisikan integrasi sebagai masuknya unsur-unsur bahasa lain yang digunakan dalam bahasa tertentu dan dianggap sudah menjadi warga bahasa tersebut (tidak dianggap lagi sebagai unsur pinjaman atau pungutan).  Penerimaan unsur bahasa lain dalam bahasa tertentu membutuhkan waktu dan tahap yang cukup lama. Proses integrasi ini biasanya diawali ketika suatu bahasa tidak memiliki padanan kata yang ada di dalam bahasa lain tersebut atau bisa saja ada padanannya namun tidak diketahui. Keadaan itu akan berdampak pada proses peminjaman bahasa dari bahasa lain/bahasa asing. Apabila unsur pinjaman tersebut sudah bersifat umum atau bisa diterima dan dipergunakan oleh sebagian besar masyarakat maka barulah bahasa tersebut bisa dikatakan sudah terintegrasi dengan bahasa yang dimasukinya.
Proses pengintegrasian bahasa biasanya mengalami tahapan penyesuaian dengan bahasa yang dimasukinya. Bentuk penyesuaiannya dapat berupa perubahan fonem yang nantinya juga mengakibatkan perubahan bunyi sesuai dengan bunyi-bunyi atau jenis kata yang ada dan biasa diucapkan di dalam bahasa yang dimasukinya. Untuk bahasa Indonesia, bahasa asing yang integrasikan biasanya disesuaikan ejannya dengan Pedoman Umum Pembentukan Istilah dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan, contohnya kata research dalam bahasa Inggris yang diintegrasikan ke dalam bahasa Indonesia dan diubah menjadi kata riset.

B.     Pidgin
Pidgin merupakan sebuah bahasa yang tidak memiliki  penutur asli (native speaker). Pidgin berkembang sebagai alat komunikasi antara orang-orang yang tidak memiliki bahasa yang sama. Pada awalnya pidgin berkembang dalam fungsi yang sempit. Mereka yang menggunakan pidgin juga memiliki bahasa lain sehingga dapat dikatakan bahwa pidgin merupakan bahasa tambahan yang digunakan untuk tujuan tertentu seperti dalam perdagangan atau administrasi.
Pidgin diciptakan dari usaha orang-orang yang memiliki bahasa yang berbeda. Karena pidgin berkembang untuk melayani fungsi jangkauan yang sangat sempit dalam domain yang terbatas, pengguna bahasa pidgin ini cenderung untuk menyederhanakan struktur dan menggunkaan kosakata yang sedikit. Kata-katanya umumnya tidak memiliki infleksi (perubahan pada grammar atau ucapan) untuk menandai. Contohny dalam bahasa Inggris, kata jamak atau waktu (tenses) kata kerja tidak digunakan.
Penyederhanaan bahasa pidgin terlihat sekali pada aspek tatabahasa dan pelafalannya. Pidgin tidak memiliki gender tatabahasa pada sistem kata benda dan tidak memiliki akhir persetujuan kata benda-kata kerja. Waktu dan aspek diungkapkan dengan kata-kata yang terpisah daripada dengan akhiran. Pelafalan cenderung pada pola konsonan diikuti oleh vowel dan cluster (kelompok) lebih dari satu konsonan cenderung dihindari. Pidgin cenderung untuk mengurangi isyarat grammar. Hal ini memudahkan pembicaranya untuk belajar dan menggunakannya, walaupun hal ini memberi ‘beban lebih’ pada pendengarnya.  Pidgin bukanlah bahasa para kelas atas atau  bahasa yang bergengsi, dan bagi mereka yang tidak menggunakannya, bahasa ini terdengar menggelikan. Contohnya bahasa Tok Pisin (pidgin talk), sebuah pidgin Melanesia Inggris dari Papua New Guinea). Ada 3 ciri-ciri bahasa pidgin seperti di bawah ini.
1.      Digunakan dalam fungsi dan domain yang terbatas
2.      Memiliki struktur yang sederhana dibandingkan dengan bahasa sumbernya.
3.      Memiliki gengsi rendah dan menarik sikap negatif-khususnya dari orang luar.

C.    Kreol
Kreol adalah pidgin yang memiliki penutur asli (native-speaker). Banyak dari pidgin ini yang kemudian menjadi kreol. Bahasa ini digunakan oleh anak-anak sebagai bahasa pertama mereka dan digunakan dalam jangkauan domain yang luas. Salah satu contohnya adalah Tok Pisin yang telah digunakan sebagai bahasa pertama oleh sejumlah besar penutur dan telah berkembang sesuai dengan kebutuhan linguistik. Selain berkembang sebagai bahasa pertama, kreol juga berbeda dari pidgin dari segi fungsi dan strukturnya. Kreol merupakan pidgin yang telah mengalami perluasan dalam segi struktur dan kosakatanya untuk mengungkapkan makna atau fungsi yang serupa yang diperlukan oleh sebuah bahasa pertama. Kreol  muncul ketika bahasa pidgin menjadi bahasa ibu dari sebuah generaasi baru anak-anak. Misalnya ketika seorang pria dan seorang wanita yang memiliki bahasa yang berbeda menikah, keduanya tahu bahasa pidgin dan belajar bahasa pasangannya.

D.    Diglosia
      Diglosia merupakan istilah yang digunakan untuk mengklasifikasikan situasi komunikasi dalam masyarakat yang membuat penggunaan pelengkap pada pertukaran sehari-hari dari dua kode yang berbeda, baik dua variasi bahasa yang berbeda ataupun dua bahasa. situasi tertentu mengisyaratkan penggunaan salah satu kode tersebut, bahasa A pada pelarangan bahasa yang lain, bahasa B, yang mana hanya dapat digunakan dalam situasi dimana bahasa pertama dilarang.
Perlu ditekankan bahwa penggunaan yang lebih disukai dari istilah ini mengacu pada masyarakat dimana perbedaannya ditandai secara khusus dan sering di sokong dalam penggunaan variasinya (contohnya, bahasa standar/patois, Katharevusa/Demotic di Yunani dan Prancis/kreol di mayoritas area pembicaraan kreol Prancis). Umumnya, situasi diglosia ini merupakan situasi konflik bahasa dimana satu dari bahasa tersebut diistilahkan dengan variasi/ragam ‘tinggi’ bertentangan dengan yang lain yang dianggap ‘rendah’ yang mana yang pertama digunakan dalam situasi komunikasi  yang dianggap ‘ningrat’ (menulis, penggunaan formal, dan lain-lain) dan yang berikutnya digunakan dalam keadaan yang lebih informal (misalnya percakapan dengan keluarga dekat). Faktor-faktor yang mempengaruhi situasi diglosia menurut Sumarsono (2004: 199) antara lain partisipan, suasana, dan topik. (21.52)

Referensi:
Abdul Chaer dan Leoni Agustina. (2010). Sosiolinguistik (perkenalan awal). Jakarta: PT Rineka Cipta.
Sumarsono dan Paina Partana. (2004). Sosiolinguitik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar