Sabtu, 11 Mei 2013

Sosiolinguistik dan Tali-Temalinya Dalam Pengajaran Bahasa Indonesia


     Fenomena kebahasaan yang muncul dalam masyarakat sangat komplek dan beragam. Ditinjau dari fungsinya, bahasa merupakan alat untuk mengkomunikasikan perasaan, pikiran, dan gagasan kepada orang lain dengan style tertentu yang mencerminkan entitas diri penuturnya. Seseorang yang memiliki kepentingan tertentu dapat menyampaikan maksud dan tujuannya kepada orang lain melalui media bahasa. Kridalaksana (1993:21) menyatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Selanjutnya, Abdul Chaer dan Leonie Agustina (2004:11) juga menyebutkan bahwa hakikat bahasa antara lain bahwa bahasa itu sebuah sistem lambang, berupa bunyi yang arbitrer, produktif, dinamis, beragam, dan manusiawi. Berdasarkan pengertian di atas, dapat ditarik benang merah bahwa bahasa merupakan sistem lambang  bunyi yang digunakan manusia dalam berkomunikasi dengan sesama untuk tujuan berkomunikasi.
Dalam kegiatan kemasyarakatan, bahasa merupakan elemen penting karena dengan bahasa manusia dapat menyampaikan maksudnya kepada orang lain. Kegiatan bahasa dapat diwujudkan dalam bentuk berbahasa secara formal maupun non formal. Dalam tataran formal misalnya pengajaran di kelas, bahasa pidato, presentasi produk, presentasi ilmiah, dan lain-lain. Berbahasa dalam bentuk nonformal misalnya ketika bercanda, curhat, ngobrol santai, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa bahasa merupakan suatu kodrat alami yang melekat pada diri manusia untuk berinteraksi dengan sesamanya.
Memiliki kemampuan berbahasa Indonesia adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi masyarakat Indonesia, tidak terkecuali siswa. Dalam bidang pendidikan dan pengajaran di sekolah, bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran pokok. Pelajaran bahasa Indonesia diajarkan berdasarkan kurikulum yang berlaku yang di dalamnya (kurikulum pendidikan) tercantum beberapa tujuan pembelajaran. Salah satu tujuan pokoknya adalah mampu dan terampil berbahasa Indonesia dengan baik dan benar setelah mengalami proses belajar mengajar di sekolah. Seperti yang telah diungkapkan di atas, bahasa sangat erat hubungannya dengan konteks sosial sehingga menjadi wajib hukumnya bagi para praktisi pendidikan untuk mempelajari sosiolinguistik.

Pengertian sosiolinguistik
      Masyarakat Indonesia yang majemuk merupakan bentuk dinamika sosial yang heterogen. Dalam kehidupan sosial masyarakat yang kompleks tersebut wajar jika kemudian muncul bermacam-macam persepsi mengenai sosiolinguistik. Holmes (1992:1) menyatakan bahwa sosiolinguistik mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat, antara penggunaan bahasa dan struktur sosial dimana pengguna bahasa itu tinggal. Ilmu ini menjelaskan mengapa seseorang berbicara berbeda dalam konteks sosial yang berbeda, mengenali fungsi sosial bahasa, dan bagaimana fungsi tersebut digunakan untuk menyampaikan makna sosial yang terkandung di dalamnya. Kridalaksana (1993:201) juga memberikan pengertian sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang mempelajari hubungan dan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. Wijana juga berpendapat bahwa sosiolinguistik merupakan cabang linguistik yang memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa itu di dalam masyarakat (2006:7). Hal senada juga diungkapkan Sumarsono (2007:2) yang mendefinisikan sosiolinguistik sebagai linguistik institusional yang berkaitan dengan pertautan bahasa dengan pemakai bahasa itu. Berdasarkan pengertian di atas, dapat diketahui bahwa sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin (sosiologi dan linguistik) yang mempunyai hubungan sangat erat.
Dalam pandangan sosiolinguistik, bahasa tidak saja dipandang sebagai gejala individual, tetapi merupakan gejala sosial. Sebagai gejala sosial, bahasa dan pemakaiannya ditentukan oleh faktor-faktor linguistik seperti status sosial, tingkat pendidikan, umur, tingkat ekonomi, jenis kelamin, dan faktor-faktor nonlinguistik siapa berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, di mana, dan mengenai masalah apa. Dalam kegiatan pengajaran, bahasa yang digunakanpun harus sesuai konteks tujuan yang ingin dicapai tanpa mengabaikan kaidah-kaidah pokok yang berlaku dalam bahasa yang bersangkutan. Misalnya, seorang guru harus memilih diksi yang tepat dalam pengajaran ketika menerangkan, kapan harus menggunakan kalimat yang bernada perintah, persuasif, permisif, dan sebagainya.

Mengapa sosiolinguistik itu penting?
Berbahasa tampaknya merupakan hal yang lumrah dalam komunikasi sehari-hari sehingga banyak orang menganggap mempelajari sosiolinguistik bukan hal yang penting. Padahal, dengan mengetahui berbagai aspek dalam disiplin ilmu ini akan memberikan banyak manfaat, terutama dalam bidang pengajaran. Tidak dapat dipungkiri bahwa kajian sosiolinguistik sangat luas dan mendalam. Salah satu contohnya adalah kajian mengenai variasi bahasa yang digunakan dalam interaksi pembelajaran di kelas. . Seorang pendidik yang menginginkan proses pembelajarannya berhasil tentunya juga harus memperhatikan konteks pembicaraannya agar materi yang disampaikan dapat dipahami peserta didik dengan baik. Setiap fenomena kebahasaan ini menarik untuk diteliti karena setiap fenomena memiliki nilai sebagai ilmu pengetahuan. Setiap fenomena kebahasaan memiliki implikasi yang penting untuk diteliti dan diketahui oleh manusia dalam hubungannya dengan masyarakat sebagai bagian dari komunikasi sosial untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Apa itu pengajaran bahasa Indonesia?
Pengajaran bahasa Indonesia dalam kaitannya dengan pemahaman sosiolinguistik mempunyai peranan yang penting di dalam dunia pendidikan. Ketika seorang pendidik memberikan pengajaran kepada anak-anak didiknya harus menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Apabila seorang pendidik mengunakan bahasa yang kurang baik, hal itu akan dicontoh oleh anak didiknya. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai bagaimana menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam konteks pembicaraan tertentu sangat penting dari sudut pandang linguistik.
Fungsi pendidikan bahasa dapat dibagi manjadi empat subfungsi. (1) Fungsi integratif, yaitu memberi penekanan pada penggunaan bahasa sebagai alat yang membuat anak didik ingin dan sanggup menjadi anggota suatu masyarakat. (2) Fungsi instrumental, yaitu penggunaan bahasa untuk tujuan mendapat keuntungan material, memperoleh pekerjaan, meraih ilmu, dan sebagainya. (3) Fungsi kultural, yaitu penggunaan bahasa sebagai jalur mengenal dan menghargai suatu sistem nilai dan cara hidup atau kebudayaan suatu masyarakat. (4) Fungsi penalaran, yaitu memberikan lebih banyak tekanan pada penggunaan bahasa sebagai alat berpikir dan mengerti serta menciptakan kosep dengan pendek untuk bernalar. Fungsi penalaran bahasa Indonesia ini didukung pula oleh latihan-latihan bernalar dalam mata pelajaran lain. Berdasarkan uraian di atas, secara singkat dapat dikatakan bahwa arah tujuan pengajaran bahasa Indonesia adalah terampil menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai tujuan yang ingin dicapai.
Secara umum, tujuan pengajaran bahasa Indonesia memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Dengan pembelajaran bahasa memungkinkan untuk saling berkomunikasi dan berbagi pengalaman untuk  meningkatkan  kemampuan intelektual. Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah diharapkan  membantu siswa mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya. Pendidikan bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.

Hubungan sosiolinguistik dengan pengajaran bahasa
Suatu program pengajaran bahasa yang menyeluruh dan terpadu tidak dapat dilepaskan dari pemberian input kebahasaan dan aspek-aspek kebudayaan yang hidup dan melekat pada masyarakat yang bersangkutan. Hal ini perlu dilakukan agar peserta didik dapat mengaplikasikan kecakapan linguistik dan  keterampilan  berbahasa dalam suatu konteks budaya sebagaimana dianut oleh suatu masyarakat.
Dalam bidang pendidikan, seorang guru ketika menyampaikan materi pembelajaran harus memilih diksi yang tepat agar siswa mampu memahami materi yang disampaikan. Selain itu, dalam menyampaikan materi harus inovatif dengan memanfaatkan berbagai style bahasa agar tidak terkesan monoton dan pembelajranpun terkesan lebih hidup dan menyenangkan. Keuntungan lainnya adalah kita menjadi lebih bisa ngemong ketika berkomunikasi dengan berbagai peserta didik dari berbagai latar belakang yang berbeda. Ketika mengajari materi membaca pada kelas yang hiperaktif tentu berbeda gayanya dengan kelas yang pendiam. Pengenalan dasar-dasar sosiolinguistik terutama berkaitan dengan tindak tutur sebaiknya dikenalkan sedini mungkin kepada peserta didik. Pemahaman konteks yang baik dalam pengajaranpun akan berimbas pada siswa. Guru akan menjadi model yang paling aktual dan dekat dengan siswa. Tingkah laku, bahasa yang digunakan, gestures guru tentu sangat diperhatikan siswa dan sedikit banyak akan menjadi salah satu model dalam bersikap. Dengan kata lain, pemahaman ini secara tidak langsung akan membantu guru dalam mendidik siswa bertindak tutur dan pembentukan karakter peserta didik yang baik.
Secara konkrit, peranan sosiolingistik terhadap pengajaran bahasa pada intinya menilai bahasa tidak sekadar alat untuk berkomunikasi atau menyampaikan gagasan, tetapi lebih kompleks dari sekedar hal itu. Sosiolingistik memberikan suatu point of view yang bahwa bahasa itu dinamis, tidak terpaku pada satu ukuran, tetapi harus melihat hal-hal lain yang berhubungan dengan sisi sosialnya. Jadi, dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik menjembatani pemahaman dalam pengajaran bahasa di sekolah sehingga dapat diperoleh suatu pemahaman yang komprehensif tentang mata pelajaran untuk memperluas wawasan, meningkatkan pengetahuan berbahasa berikut kemampuan berbahasa intelektual, serta kematangan emosional dan sosial. Dengan memahami peran penting sosiolinguiatik berarti berkontribusi dalam peningkatan komunikasi sosial dalam interaksi antarsesama yang lebih santun dan berbudaya. Selain itu, harapannya siswa juga mampu menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kompetensi dan skill-nya sehingga terbentuk manusia-manusia Indonesia yang memiliki kemampuan intelektual tinggi, santun, berbudaya, dan  berwawasan Indonesia.

Referensi
Abdul Chaer dan Leonie Agustina. (2004). Sosiolinguistik: perkenalan awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Harimurti Kridalaksana. (1993). Kamus linguistik edisi ke tiga. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Janet Holmes. (1992). An introduction to sosiolinguistics. England: Longman Group UK.
Sumarsono. (2011). Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
I Dewa Putu Wijana. (2006). Sosiolinguistik : kajian teori dan analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar