Fenomena Menjelang Lebaran 2013: Sebuah Cerita




Lebaran memang merupakan hari yang istimewa terlebih bagi umat muslim. Setiap tahun, lebaran selalu identik dengan berkumpul bersama keluarga.  Biasanya, pada hari ini pula anggota keluarga yang merantau akan pulang kampung demi merayakan momen bahagia tersebut bersama keluarga. Selain momen kebersamaan yang ditunggu tersebut ternyata juga menciptakan fenomena baru, yaitu munculnya orang-orang yang meminta sumbangan.  Cara yang ditempuhpun tergolong kreatif mulai dari model mengemis dari rumah ke rumah, mengirim proposal, meminta sumbangan seiklasnya sambil menunjukkan KTP sampai menceritakan derita hidupnya (entah benar atau tidak) sambil menangis. Meskipun meminta sumbangan bukanlah hal yang baru lagi tetapi pada saat-saat seperti sekarang ini dimana semua orang didesak kebutuhan yang beraneka ragam kejadian semacam ini semakin marak.
Menurut hemat saya ini membuat miris. Agama islam itu rahmatan lil ‘alamain, yaitu rahmat bagi semesta alam. Agama ini datang dengan penuh kedamaian dan mengajarkan kebaikan. Dalam tata cara hidup, Islam mengajarkan umatnya untuk hidup sederhana dan berjiwa penderma. Akan tetapi, melihat fenomena sekarang ini tampaknya ajaran ini semakin lama ditinggalkan. Karena digempur berbagai kebutuhan tampaknya orang-orang ini lebih menyukai cara yang instan dengan menjadi peminta belas kasihan. Orang yang memberi uang belum tentu karena kasihan tetapi sangat mungkin karena  tidak enak hati. Belum lagi kenyataan yang ditemui orang-orang yang meminta-minta bukanlah orang yang miskin. Mereka sehat, kuat, tapi malas. Rumah yang ditempati tidak dapat dikategorikan sebagai warga miskin. Banyak pula yang memiliki rumah gedung, punya hewan ternak, dan alat transportasi misalnya motor. Hal ini adalah pengalaman nyata yang saya alami hari ini (040813) dimana ada seorang ibu-ibu yang datang dengan segudang cerita dan menitikkan air mata disertai pujian dan gombalan agar memberikan uang. Setelah memperoleh apa yang dia minta, Si Ibu ini keluar gedung dan berjalan kaki. Ternyata sebenarnya dia membawa motor yang diparkir di pojokan hotel. Melihat hal ini saya hanya bisa menghela nafas. Di sisi lain, orang yang lebih menggantungkan pada meminta belas kasihan pada orang lain sama saja merendahkan harga dirinya di hadapan orang-orang lain. Banyak hal yang sebenarnya dapat dilakukan untuk memperoleh uang daripada menjadi peminta-minta. Demi kepingan maupun lembaran uang, mereka rela menanggalkan rasa malu dan membuang muka. Ya Rabb berilah kekuatan kepada hamba-hamba-Mu yang muslim agar memiliki rasa takut pada-Mu sehingga selalu mampu mensyukuri nikmat yang ada dan memiliki rasa malu sehingga tak akan lagi merendahkan harga diri demi uang. Aamin.

Komentar