Tentang Mustakaweni Maling (Part 2)

 Sentuhan modern terlihat pada penggunaan proyektor untuk menggambarkan latar panggung yang lebih dramatis. Penontonpun dikocok perutnya dengan kehadiran Punakawan yang terdiri dari Gareng, Petruk, Semar, dan Bagong. Kemunculan keempat tokoh ini cukup menyegarkan suasana karena tingkah mereka yang lucu dan tolol.

Animo masyarakat terhadap pementasan wayang wong ternyata cukup tinggi. Hal ini terlihat dari banyaknya pengunjung yang datang dari usia anak-anak hingga dewasa. Pertunjukan yang sudah jarang dipentaskan seperti wayang wong ini merupakan media yang baik guna memperluas wawasan budaya jawa bagi para generasi penerus. Selain itu, petunjukan ini juga dapat difungsikan sebagai sarana penanaman nilai-nilai budi pekerti dan rasa nduweni bagi masyarakat pada umumnya.

Tedapat satu kekurangan dalam pementasan ini menurut saya, yaitu suara para tokoh terutama tokoh perempuan kurang keras sehingga dialog tidak dapat diikuti secara keseluruhan. Adanya mikrofon di atas para pemain belum sepenuhnya membantu. Apalagi jika dialog diiringi dengan musik, suara para pemain hampir tak terdengar. Meskipun begitu, penonton tetap dapat mengikuti pertunjukan dengan panduan leaflet yang dibagikan sebelum masuk ruang pertunjukan.

Secara garis besar, saya bangga menjadi bagian dari saksi sejarah pagelaran budaya ini. Sebagai generasi penerus sudah menjadi kewajiban kita untuk ikut andil dalam pelestarian budaya bangsa. Contoh sederhananya dengan mempelajari warisan budaya yang ada, menonton pertunjukan, memberikan review, dan membagi info berkaitan dengan pementasan budaya supaya semakin banyak masyarakat yang menikmati budaya ini. Terakhir, di tengah kehidupan yang segala sesuatunya berbasis teknologi ini sudah selayaknya para generasi penerus menjadi pengawal kelestarian budaya bangsa yang adi luhung, bukan sekedar mematung ketika melihat kenyataan budaya mulai luntur tergerus umur. (Rd_011215)

Komentar