Usiamu Sudah Tinggi! Kapan Nikah?



Waktu telah menunjukkan dini hari. Namun, mata ini belum juga ingin bersegera melepas penat. Tampaknya dia masih ingin aku kembali mengisi memori-memori yang sekian tahun tertinggal di desa ini. Memang lama rasanya tapi semacam baru kemarin dan tiba-tiba aku sudah hampir berkepala 3. Sebuah pengakuan yang tak mudah bagi wanita manapun tentu saja. Umur masih perkara yang sensitif. Tapi itu tidak berlaku padaku. Aku mensyukuri setiap helai rambut yang rontok, setiap nafas yang berhembus, setiap kedipan mataku yang kadang ditusuk lelah, dan aneka macam lainnya.

Ya, saat ini usiaku hampir 30 dan aku masih lajang. Sesuatu yang mulai dipertanyakan orang hingga kanan-kiri mulai berbisik. Bahkan, orang-orang tua sudah mulai sedikit menekan,”Wes wayahe,Nduk.” Dan aku? masih baik-baik saja dan tidak bergeming pada awalnya. Aku berjalan menikmati hidupku, setiap inchi dan detiknya. Hingga sampai pada saat aku mulai tertarik mengamati bayi yang menyesap jari-jarinya, anak-anak perempuan yang berkucir 2, bayi yang babbling, dan romantisme pasangan muda yang tiap senja mendorong kereta bayi di halaman rumah. Bagiku ini pemandangan yang mulai memantik emotik. Sangat emo sekali!!! Mungkin begini perasaan para Ibu, pikirku. Akan tetapi, yang terjadi selanjutnya aku masih merasa muda, menikmati kegiatan yang tak berujung pangkal, dan menjual kelonggaran waktuku pada dunia. Hehe…

Bagi sebagian besar orang (yang sudah berumur), ngomongin tentang nikah biasanya menimbulkan derita batin tersendiri. Dan lagi-lagi fenomena belum menikah di usia yang sudah dianggap wah inipun menyisakan kemelut yang cukup panjang. Lihat saja dari pihak keluarga yang mulai mendorong, menanyakan, bahkan menjodohkan. Macam salak saja harus dijodohkan agar berbuah wkwk… Sementara di pihak individunyapun tanggapan beragam. Bagi pribadi yang cuek tanggapannya paling juga apatis, ”Nikah? Helow kok kamu ngurusin aku banget sih? Kamu siapa?”. Kamu pernah kena ungkapan semacam ini? Haha… kasihan. Tapi ini ada benarnya juga lho, kadang kekepoan orang itu membuat orang yang berlabel lajang berumur sebel minta ampun. Bagi yang berjiwa santai ya lain lagi jawabannya,”Yaaa... nanti ada waktunya. Tunggu saja. Tak usahlah buru-buru.Tenang saja.” Adem ayem gitu kalo denger jawaban begini tapi bagi penanya tentu semakin menimbulkan sindrom yang dinamakan geregetan. Uhhhhh arghhhhh gitu… iyakan??? Haha…

Bagiku menikah bukan perkara sederhana yang dengan gampang diputuskan ketika hati mulai bertaut. Menikah, bagiku, membutuhkan lebih dari sekedar kata “iya” karena di dalamnya ada serentetan komitmen yang berujung pada hak dan kewajiban yang tidak mudah. Tentu semua orang berharap menikah dengan orang yang tepat dan paling proporsional menurut kadar hatinya. Dan hal itu berlaku pula bagiku. Aku yang penganut monogamipun ingin menikah tanpa berbagi dan memang sudah diniati. Bukan karena dikejar usia dan tuntutan yang itu dan ini. Menikah membutuhkan kesiapan mental, fisik, finansial, dan pengetahuan. Bukan sekedar anut grubyuk. Kalaupun banyak pertanyaan,”Trus mau kapan nikah? Keburu tua!” Senyumin aja. Orang lain tidak akan ikut menanggung jika nanti pernikahan yang diharapkan gagal karena demi meladeni sebuah tuntutan bukan? Semua yang menanggung pada akhirnya adalah individu masing-masing.

“Jadi, kamu belum ingin menikah?” Ah, siapa sih yang tidak ingin menikah? Semua orang tentu ingin menikah. Tapi aku akan menikah jika memang aku sudah menginginkannya, bukan karena siapa-siapa atau apa-apa di belakangnya tapi saat hatiku berkata “iya”. Jadi, kalian memaksakupun jangan salahkan jika harus gigit jari. Maaf banget! Penjamin yang paling pasti adalah Tuhan. Dan akupun menggantungkan doa-doa yang baik pada-Nya. Dan aku yakin bahwa doaku akan terjawab dengan sempurna suatu ketika.
                

Komentar