Senin, 06 Januari 2014

Manfaat Kajian Wacana Dalam Konteks Indonesia


Kajian wacana memiliki manfaat yang besar apabila dikaitkan dengan koteks Indonesia yang beraneka ragam kultur dan budayanya. Manfaat tersebut antara lain sebagai berikut.
 
     1. Membantu masyarakat memahami berbagai permasalahan yang terjadi sekaligus mencari solusinya. Dengan adanya analisis wacana dapat membantu masyarakat untuk berpikir kritis dalam menghadapi berbagai permasalahan yang ada di dalam masyarakat. Misalnya saja, kajian wacana akan membantu dalam mendalami permasalahan berikut mencari solusi atas berbagai masalah misalnya banjir yang selalu melanda ibukota setiap tahun, memahami bursa pencalonan presiden, menangani permasalahan berkaitan dengan pengemis yang menjamur dimana-mana, kemacetan lalu lintas, dan lain sebagainya
e   2. Sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan langkah yang akan diambil setelah melihat fakta yang berkembang di masyarakat. Dalam sebuah analisis wacana pasti di dalamnya terdapat berbagai pandangan yang didukung oleh pemikiran-pemikiran yang logis. Dengan adanya bahan pertimbangan ini akan semakin memudahkan masyarakat dalam menentukan langkah. Contoh sederhana, ketika seorang wanita akan memilih produk kecantikan cocok dengan dirinya tentu terdapat banyak penawaran produk yang bervariasi mulai dari bentuk produk, harga, maupun kualitasnya. Kajian wacana ini akan membantu menganalisis untuk menentukan pilihan tersebut.
   3. Kajian wacana dapat mengungkap berbagai fakta, idealisme yang tersirat dalam sebuah wacana guna mengetahui maksud dan tujuan penulis wacana tersebut. Kajian wacana ini terutama adalah manfaat kajian wacana kritis. Kajian ini akan membantu masyarakat dalam memahami lebih dalam berkaitan dengan dominasi kekuasaan yang ada dalam wacana. Misalnya, dalam iklan di dalamnya pasti ada upaya untuk memengaruhi pemirsa/pembaca untuk menggunakan produk/jasa tertentu. Dengan adanya analisis wacana kritis akan membantu masyarakat untuk berpikir secara lebih kritis disertai berbagai pertimbangan yang matang agar tidak mudah tergoda oleh bujuk rayu iklan yang bernada bombastis tersebut.
    4. Membongkar nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah wacana. Nilai-nilai ini tentu adalah nilai-nilai kebenaran yang sebenarnya, bukan sekedar kamuflase permainan bahasa. Masyarakat akan dituntun untuk memilah mana nilai yang baik dan mana yang tidak  sekaligus mendukung nilai-nilai yang baik tersebut agar tumbuh subur dalam budaya masyarakat, misalnya nilai kerukunan, kebersamaan, toleransi, dan lain sebagainya.
     5. Kajian wacana memberikan  kontribusi bagi perkembangan pendidikan dengan menanamkan sikap skeptic dan critical thingking terhadap segala hal. Penanaman sikap ini akan selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap segala hal. Secara tidak langsung hal ini akan mendorong masyarakat  untuk selalu berlatih berpikir sistematis.
    6. Kajian wacana memungkinkan menganalisis fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar dari berbagai sudut pandang. Hal ini akan membawa dampak pada meningkatkan pemahaman dan pengetahuan dari berbagai sisi sehingga memerkaya pengalaman dan pengetahuan.

Perbedaan Analisis Linguistik Formalistik dan Wacana Kritis



Kajian wacana linguistik formalistik lebih menitikberatkan kajian kebahasaan sebagai objek yang terpisah dan dianalisis secara mandiri. Analisis ini dilakukan melalui pembedahan dan pencermatan secara mendetail terhadap elemen-elemen linguistik seperti kohesi, elipsis, konjungsi, struktur informasi, thema, rhema, dan lain sebagainya. Dapat dikatakan bahwa kajian formalistik ini lebih bertumpu pada analisis tata bahasa/unit-unit kebahasaaan yang digunakan dalam sebuah wacana. Sejauh mampu menggunakan pernyataan yang akurat menurut kaidah sintaksis, semantik, logis, dan didukung data-data empiris maka wacana dianggap baik. Oleh karena itu, kebenaran sebuah wacana didasarkan pada benar tidaknya bahasa secara gramatikal. Apabila wacana tersebut dilihat dari struktur kebahasaannya baik maka wacana tersebut dianggap sebagai wacana yang baik pula.

Kajian wacana kritis lebih menitikberatkan pada upaya pembongkaran terhadap ide-ide yang mendominasi, maksud-maksud, dan makna-makna tertentu dari sebuah wacana. Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada upaya pembongkaran konstelasi kekuatan yang terjadi di dalam proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa tidak dipahami sebagai medium yang netral yang terletak di luar diri pembicara.  Bahasa dalam pandangan kritis dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subjek tertentu, maupun strategi-strategi yang ada di dalamnya yang membentuk kekuasaan/hegemoni tertentu. Dalam penciptaan sebuah wacana pasti tidak terlepas adanya power dan relasi kekuasaan dalam masyarakat yang memengaruhinya. Jadi, dalam menganalisis wacana ini tidak lepas dari struktur sosial yang melingkupinya/konteks (seperti latar, situasi, peristiwa, dan kondisi). Dengan kata lain, analisis wacana ini memusatkan pada pembongkaran ideologi-ideologi tertentu yang tidak tampak dan mengejawantah dalam bahasa.