Selasa, 25 November 2014

Pertunjukan Ramayana Gratis? (Aku Punya Ceritanya)




Pengalaman ini terjadi sekitar empat tahun yang lalu, tepatnya tahun 2010. Awal mula kejadian ini ketika aku mengulang sebuah mata kuliah yang judulnya cukup menarik, Apresiasi Seni. Berhubung beberapa teman sudah mengulang lebih dahulu maka di tahun itu aku adalah satu-satunya mahasiswa tua yang  harus mengekor adik angkatan. Dari sinilah semuanya berawal.

Sebagai mahasiswa yang sudah tak lagi muda dan sok sibuk, aku sedikit kurang rajin mengikuti kuliah ini. Apalagi aku sedikit kurang cocok dengan gaya mengajar Bu Dosen (tentu hal ini tidak boleh kalian tiru hehe…) Pada tengah semester Bu Dosen meminta semua mahasiswa melihat pertunjukan Ramayana di Candi Prambanan. Singkat cerita, ketua kelas lupa menghubungiku dan akhirnya aku tidak ikut dalam kebersamaan tersebut. Dan tentu ketidakhadiranku ini mudah tercium oleh Bu Dosen.

Setelah kuliah, aku dipanggil dan bahasa kerennya diintrogasi macam-macam tentang ketidakhadiranku. Mulai dari penghakiman sebagai mahasiswa tua yang kurang bersosialisasi, bersikap pasif, dan sok pinter. Sebagai mahasiswa yang baik tentu aku tidak perlu menjawab berbagai tuduhan dosen tersebut. Bahkan, beliau menegaskan kerugianku tidak menonton bersama mereka karena harga tiket akan jauh lebih mahal padahal kalau rombongan selembar tiket bisa ditebus sebesar Rp 20.000. Bu Dosenpun tidak mau berkompromi dan aku harus berdamai dengan tiket 75.000 kalau ingin nilaiku keluar.

Pertama, memang kuakui aku salah karena kurang aktif dalam mencari informasi berkaitan dengan kegiatan kelas. Kedua, bukan murni salahku ketua bisa sampai lupa anak buahnya yang tidak nongol saat acara. Ketiga, Bu Dosen tampak sedikit arogan dengan menegaskan jumlah nominal yang harus aku bayar jika menonton pertunjukan sendiri seolah aku tak mampu membayar. Sangat mengenaskan! Ketika dosen itu mengomel akupun sibuk mencari jalan keluar dalam diam. Beliau bercerewet ria, saya manggut-manggut saja (hehe…) Akhirnya, skenario terbentuk dan aku tersenyum simpul ketika keluar dari ruang penghakiman terserbut.

Hari H-pun tiba untuk menonton cerita yang tersohor tersebut. Dengan berbekal kenekatan dan sentuhan ide kreatif, aku datanglah ke lokasi pertunjukan. Ketika sampai pos satpam, pertanyaan pertama adalah, “Pak, ruang make-up  dimana, ya?”. Bapak yang berseragam hitam menunjukkan lokasi yang harus kutuju. Langsung saja kutancap gas menuju parkiran ruang make-up. Dengan berbekal ke-PDan yang tinggi aku masuk ruangan yang tidak dapat disebut besar tersebut. Tentu banyak orang melihatku sebagai orang asing tetapi aku cuek bebek. Orang yang pertama aku cari adalah penari yang sudah selesai make-up. Aku sangat membutuhkannya. Kulihat sosok wanita cantik sudah selesai bedandan, akupun mengajak foto bersama. Setelah jepret-jepret dengan penarinya, aku menunggu pementasan dimulai di lokasi yang digunakan untuk keluar para penari.

Begitu acara dimulai aku membidikkan kamera ke lokasi pertunjukan mencari angle yang terbaik. Tak dapat dipungkiri pertunjukan Ramayana adalah pertunjukan yang memukau. Selain cerita yang menarik, tata panggung yang apik, kostum yang digunakan juga tak kalah indah. Hal inilah yang membius penonton asik dengan pertunjukan yang berdurasi kurang lebih 1,5 jam ini. Meskipun begitu, sangat disayangkan karena aku tidak dapat menonton pertunjukan hingga terakhir. Dan kalian tahu? Aku menonton pertunjukan ini tanpa uang sepeserpun alias gratis!!! Bahkan, aku dapat berinteraksi secara intens dengan para pemainnya.

Setelah menonton pertunjukan yang kurang kupahami detailnya, akupun mengerjakan tugas menulis berkaitan dengan pertunjukan tersebut dengan men-download cerita dari internet. Lengkap sudah sekitar 20-an halaman siap dikumpulkan ke Bu Dosen. Semua tugas kulakukan hanya dengan modal kenekatan. Ujian akhir juga tidak terlalu sulit untuk dijabarkan. Dan nilai yang dikeluarkan Bu Dosenpun di luar dugaan. Dari sekitar 40an mahasiswa, aku salah satu mahasiswa yang berhak mengantongi nilai A- karena rata-rata nilai yang beredar hanya B-, B+, dan B. Bisa dikatakan aku termasuk mahasiswa tua yang beruntung ^_^ Yeyeyeyeyye….

Beberapa hal aku pelajari dari kejadian ini: (1) kadang kala kita perlu nekat dalam memutuskan suatu hal di luar kebiasaan, (2) keberanian bertindak dan sikap hidup yang kreatif sangat diperlukan untuk memecahkan berbagai persoalan, (3) Jadilah orang yang aktif dalam mencari informasi jangan sampai ketinggalan kereta sepertiku (dulu). (251114)


Sabtu, 22 November 2014

Fenomena Menjelang Lebaran 2013: Sebuah Cerita




Lebaran memang merupakan hari yang istimewa terlebih bagi umat muslim. Setiap tahun, lebaran selalu identik dengan berkumpul bersama keluarga.  Biasanya, pada hari ini pula anggota keluarga yang merantau akan pulang kampung demi merayakan momen bahagia tersebut bersama keluarga. Selain momen kebersamaan yang ditunggu tersebut ternyata juga menciptakan fenomena baru, yaitu munculnya orang-orang yang meminta sumbangan.  Cara yang ditempuhpun tergolong kreatif mulai dari model mengemis dari rumah ke rumah, mengirim proposal, meminta sumbangan seiklasnya sambil menunjukkan KTP sampai menceritakan derita hidupnya (entah benar atau tidak) sambil menangis. Meskipun meminta sumbangan bukanlah hal yang baru lagi tetapi pada saat-saat seperti sekarang ini dimana semua orang didesak kebutuhan yang beraneka ragam kejadian semacam ini semakin marak.
Menurut hemat saya ini membuat miris. Agama islam itu rahmatan lil ‘alamain, yaitu rahmat bagi semesta alam. Agama ini datang dengan penuh kedamaian dan mengajarkan kebaikan. Dalam tata cara hidup, Islam mengajarkan umatnya untuk hidup sederhana dan berjiwa penderma. Akan tetapi, melihat fenomena sekarang ini tampaknya ajaran ini semakin lama ditinggalkan. Karena digempur berbagai kebutuhan tampaknya orang-orang ini lebih menyukai cara yang instan dengan menjadi peminta belas kasihan. Orang yang memberi uang belum tentu karena kasihan tetapi sangat mungkin karena  tidak enak hati. Belum lagi kenyataan yang ditemui orang-orang yang meminta-minta bukanlah orang yang miskin. Mereka sehat, kuat, tapi malas. Rumah yang ditempati tidak dapat dikategorikan sebagai warga miskin. Banyak pula yang memiliki rumah gedung, punya hewan ternak, dan alat transportasi misalnya motor. Hal ini adalah pengalaman nyata yang saya alami hari ini (040813) dimana ada seorang ibu-ibu yang datang dengan segudang cerita dan menitikkan air mata disertai pujian dan gombalan agar memberikan uang. Setelah memperoleh apa yang dia minta, Si Ibu ini keluar gedung dan berjalan kaki. Ternyata sebenarnya dia membawa motor yang diparkir di pojokan hotel. Melihat hal ini saya hanya bisa menghela nafas. Di sisi lain, orang yang lebih menggantungkan pada meminta belas kasihan pada orang lain sama saja merendahkan harga dirinya di hadapan orang-orang lain. Banyak hal yang sebenarnya dapat dilakukan untuk memperoleh uang daripada menjadi peminta-minta. Demi kepingan maupun lembaran uang, mereka rela menanggalkan rasa malu dan membuang muka. Ya Rabb berilah kekuatan kepada hamba-hamba-Mu yang muslim agar memiliki rasa takut pada-Mu sehingga selalu mampu mensyukuri nikmat yang ada dan memiliki rasa malu sehingga tak akan lagi merendahkan harga diri demi uang. Aamin.

SURAT PEMBACA: KEDAULATAN RAKYAT



Berikut pengalaman dua tahun yang lalu tapi sampai 2014 tidak terlalu banyak berubah.

Tanggal 15 Desember 2012 kemarin saya pulang ke Wonosari. Ketika sampai di  daerah Bunder (Hutan Wanagama), saya jadi merinding. Bukan karena hutan tersebut terkenal angker atau banyaknya kecelakaan yang pernah terjadi (mengingat jalanan berkelok dan bergelombang) tetapi karena pamflet-pamflet yang terpasang. Pamflet tersebut berisi peringatan untuk berhati-hati dengan beberapa kalimat peringatan. Mirisnya, dalam pamflet tersebut juga disertai gambar-gambar yang mengerikan seperti pengendara motor yang  akan bertabrakan dengan mobil dan wanita yang tergeletak di jalan berlumuran darah setelah kecelakaan (terkesan sangat mengerikan dan ekstrim).  Pada bagian bawah pamflet juga disebutkan instansi yang mengeluarkan pamflet tersebut.  Jujur saya sangat mengapresiasi upaya-upaya yang telah dilakukan pihak kepolisian untuk mengingatkan masyarakat agar behati-hati dan terhindar dari bahaya kecelakaan lalu lintas. Pemilihan media sebenarnya sudah cukup bagus, hanya saja perlu kiranya pertimbangan etis dalam menampilkan foto rujukan yang tepat.  Harapannya selain pesan tersampaikan, pengguna yang melewati jalan tersebut juga tidak lagi merasa ngeri. Terima Kasih.

Pemerkosaan dan Pembunuhan Sadis Siswi YPKK Kalasan Sleman




Berita heboh berkaitan dengan pembakaran siswi smk YPKK di Sleman (Kedaulatan Rakyat, 17 April 2013) menggegerkan publik Yogya. Pasalnya, kota pelajar yang terkenal adem ayem ini tiba-tiba saja muncul kasus pembunuhan sadis  yang sangat tidak berperikemanusiaan. Bayangkan saja seorang siswi yang masih remaja diperkosa beramai-ramai, dibunuh dan mayatnya dibakar. Sungguh ini menyentil hati nurani kita. Bahkan, kita sebagai warga Yogya rasanya sangat sulit menerima kenyataan ini. Bagaimana mungkin kejadian ini bisa terjadi di kota yang mendapatkan julukan kota pelajar? Kota tercinta yang menjadi tujuan belajar dari berbagai provinsi? Mengapa hal ini dapat terjadi? Sungguh sangat disayangkan.
Apapun alasan yang diungkapkan oleh para pelaku pembunuhan ini, tetap tidak dapat dibenarkan. Penghilangan nyawa seseorang dengan motif apapun termasuk tindakan kriminal yang melanggar hukum. Para pelaku bahkan dapat dikenai pasal berlapis terhadap tindakan yang dilakukan, yaitu pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran jenazah. Seperti yang diberitakan di media massa bahwa pelaku masih berusia 17 tahun. Usia remaja yang masih sangat labil dan penuh emosi. Remaja seusia ini apabila tidak mendapatkan bimbingan yang baik sekaligus kurang memiliki ruang berkreasi biasanya cenderung melampiaskan ke hal-hal negatif. Salah satu tindakan yang dilakukan oleh para pelaku ini adalah mengkonsumsi miras. Miras ini menyebabkan adrenalin dalam darahn meningkat sehingga terpacu untuk melakukan hal-hal di luar batas kendali dan di luar batas kewajaran.
Selain kejadian tersebut, ada satu hal yang menarik dalam kasus ini. Tindakan yang dilakukan oleh dua tersangka remaja ini diotaki oleh ayah salah satu tersangka sendiri. Berdasarkan pengakuan tersangka (Kedaulatan Rakyat, 23 April 2013) tindakan kejahatan ini sudah direncanakan sebelumnya oleh sang ayah yang terkenal sebagai orang pandai. Bahkan, sang ayah ikut beramai-ramai memperkosa sang korban. Gila!!! Hal ini mencerminkan betapa bobroknya nilai-nilai moral yang ada di masyarakat. Seorang ayah yang seharusnya memberikan suri tauladan kepada anaknya, membimbing, mengayomi, memberikan arahan ternyata malah mendukung bahkan meminta sang anak melakukan tindakan kriminal. Ini sungguh di luar norma-norma yang berlaku.
Tentu masyarakat akan terus mengawal kasus ini hingga selesai. Masyarakat pada umumnya mengharapkan penyidik kepolisian dapat segera bertindak tegas dan mengambil tindakan nyata guna menyelesaikan konflik yang membakar emosi ini. Dukungan dari berbgai pihak baik dari keluarga korban, sekolah, kepolisian, dan masyarakat pada umumnya sangat diperlukan guna menuntaskan kasus ini. Tidak lain, kasus ini bisa menjadi bahan renungan kita bersama. Apa sekiranya yang perlu diperbaiki dalam tatanan kemasyarakatan kita? Apakah pendidikan karakter perlu kembali ditekankan dalam pembelajaran? Apa yang salah dalam sistem pengajaran moral di sekolah dan di rumah? Tampaknya hati nurani kita sendiri yang harus menjawab semua pertanyaan ini (00.47)


Contoh Puisi Anak SD



 Puisi ini ditulis oleh adikku: Nur Antika Umi Wijayanti sewaktu kelas 6 SD. Dan kini dia sudah kelas 8 SMP. Rasanya waktu cepat berlalu (pernah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat)

BUKU  JABATAN  ILMU
Buku engkaulah jendela duniaku
Karena engkau aku dapat belajar
Engkau mampu menampung ilmu
Engkau membuat belajar lebih mudah 
Tanpamu mungkin aku tidak akan pandai
Aku tidak akan menyia-nyiakanmu apalagi merusakmu
Sungguh kau begitu berharga bagiku
                                                Sahabat Sejatiku
Engkaulah sahabatku
Selalu menemani dalam suka dan duka
Menjadi tempat curhat dan berbagi cerita
Dan selalu memberiku saran dalam menghadapi masalah
Sahabatku....
Engkaulah sahabat yg paling berharga bagiku
Dan selama ini kau yg selalu bersamaku
Sungguh hanya kau sahabat sejatiku
PANTUN
Bunga mawar mekar di taman
Tak ketinggalan di batang penuh duri
Jangan kau musuhi semua teman
Supaya kau tak merasa sendiri

Pagi-pagi merasakan hawa
Tapi janganlah kau berteriak
Apakah kau tak tertawa
Melihat sapi di gendong katak

JALAN COLOMBO DEPAN UNY BANJIR HEBAT




23 APRIL 2013
Pengalaman yang cukup menggelikan dan sekaligus menjengkelkan. Pulang kuliah sore, basah-basahan pula, eh di depan kampus ada banjir melanda. Banjir tingginya sampai sedengkul orang dewasa, udah gitu alirannya deres pula. Ini hal pertama sejak aku kuliah di UNY enam tahun silam. Tentu saja banjir kiriman (yang ternyata berasal dari luapan got) ini membuatku kaget sekaligus ngeri. Tidak hanya itu, karena jalanan tertutup banjir maka para pengendara tidak bisa melihat kondisi fisik jalan secara jelas. Alhasil, motor saya masuk got!!! Untunglah suasana yang ramai sehingga pertolonganpun datang dengan cepat (Thx mas…).
Setelah kejadian itu, aku berpikir bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Mengapa ada banjir yang begitu hebatnya di jalan utama yang notabene ada saluran got dan pohon-pohon tumbuh rindang? Ironisnya lagi, kejadian ini bukan yang pertama. Menurut informasi yang aku terima, hampIr setiap hujan lebat lokasi tersebut banjir. Bahkan, jika keadaan darurat pernah ditutup juga. Woww!!! (Aku geleng-geleng kepala selaku korban).
Ketika peristiwa ini aku ceritakan kepada beberapa orang yang beberapa kali mengalami kejadian serupa mengatakan bahwa banjir tersebut wajar. Wajar? Sekarang keningku lebih berkenyit lagi. Bagaimana bisa? Menurut informasi yang beredar, got-got yang mengarah ke daerah Samirono banyak yang buntet karena sampah-sampah sehingga air tidak bisa melewati got. Oleh karena itu, air yang cerdik inipun memilih meluap dan menggenangi jalanan sehingga arus transportasipun terganggu. Kalau sudah begini, salah siapa? Siapa yang wajib bertanggung jawab? Siapa yang merasakan dampaknya? Apakah masyarkat dan pihak-pihak yang terkait akan tetap diam menlihat kenyataan semacam ini? Sungguh miris.  Tahun ini (2014) gorong-gorong sudah diperbaharui, semoga gak aka nada lagi banjir semacam ini terjadi.
Inilah sebenarnya potret perilaku masyarakat kita. Tampaknya kesadaran untuk membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya belum membudaya. Ketika musibah menimpa tak banyak yang bisa dilakukan kecuali pasrah. Menurutku, sudah saatnya kita selaku masyarakat lebih menyadari arti kebersihan lingkungan. Selain itu, kita sudah selayaknya saling bekerja sama dan saling mengingatkan, tansah eling lan waspada dalam menjaga lingkungan kita. Harapannya kedepan, kejadian seperti ini dan yang menimpa tidak terulang lagi (crissaniyaridhan@gmail.com).