Jumat, 31 Mei 2013

Surat Kepada Reorang Teman (Ranty Pri)


Teruntuk wanita yang sedang berjuang demi cita-cita,

Hujanpun menjadi saksi pertemuan malam itu. Tidak tersirat sedikitpun bayangan akan engkau. Engkau yang bergalau dalam rindu dan menanti dalam semu. Owch, sorry… peace (*_^) hahaa… Sebenarnya tidak terlalu sulit bagiku masuk ke dalam lingkaranmu. Karena banyak ruang yang memberikan kesempatan kepada kita untuk bercanda. Kamu sedikit gila ya mungkin, iya gak sih? Anggap saja iya. Jadi, aku akan bercerita dalam bingkai kegilaan yang terjadi malam itu.
Kita bertemu dalam pertemuan yang bisa dibilang cukup sempurna. Maksudku sempurna dalam derita. Bayangkan saja sejak bertemu denganmu aku disuguhi pemandangan yang luar biasa… HANCUR dan semua itu memaksaku melebur di dalamnya. Baik, mari kita awali dari saat pertama jumpa. Pertama mencarimu aku sudah tersesat di jalan. Kedua, begitu ketemu denganmu, aku langsung syok. Tahu kenapa? kamarmu tidak lebih parah dari korban gempa Jogja!!! Huekkkhuekkkkzzz… Aku tidak habis pikir “bagaimana kamu_Si Larvah_ bisa berdamai dengan acak adut kamarmu. Ketiga, kerja bakti tengah malam… hoammmm… memang sesuatu banget ya.
Tapi ada satu hal yang membuatku kaget ketika bangun pagi harinya. Bagaimana mungkin aku bisa tidur nyaman dengan selimut di tangan? Padahal, setahuku saat itu aku tidur tanpa selimut. Hikshiks… so swettt tingkyuh yah… Di sisi  lain, ngobrol denganmu kayak emak-emak. Apalagi kalo belum makan. Galak banget kaya harder hahahaha… Peace yak (emang mirip asline wkwk). Tapi sebentar, ini serius… Banyak hal yang dapat kita bagi, banyak hal yang dapat kita lakukan, dan terlalu banyak hal yang dapat kita rencanakan. Anyway, ketemu denganmu cukup menyenangkan ya, meskipun sedikit salah arah dan salah kaprah dengan semua jungkir balik hidupmu tapi tampaknya cerita-cerita tentang kebersamaan ini akan menjadi episode indah dalam rangkaian perjalanan hidup kita.
                                                                                                                  Salam hangat,
                                                                                                                  Ridhan

Vicky Nitinegoro di nDalem Ngadinegaran Yogyakarta



Tidak ada yang istimewa hari ini karena hari ahad tetap saja saya harus menjalani rutinitas sebagai karyawan. Pulang  jam 15.00 WIB sudah cukup membuatku merasa lelah dan lemas. Pukul 18.30 WIB teman kosku koar-koar ada Vicky. “Hemm…” kataku saat itu antara lemas dan malas.  Karena kosku sudah terbiasa dijadikan lokasi syuting, aku tidak terlalu tertarik untuk ketemu artis lagi. Lagi pula faktor kejiwaanku akibat tugas kuliah yang menumpuk tampaknya membuatku berpikir ratusan kali buat ketemu artis. Akan tetapi, ternyata temanku yang neneknya dari Portugal sampai-sampai datang ke kos buat ketemu Vicky Nitinegoro. Mau gak mau aku harus bergegas mandi dan menemani Si Cewek ini. Alhasil, kami bertiga sudah masuk ke lokasi syuting dan berkumpul di ruang tengah. Berhubung kami anak kos yang cukup spesial maka sangat mudah bagi kami bertemu Vicky dengan bantuan kru film.
Saya sering melihat tayangan FTV dan menurut saya jenis film seperti ini cukup menghibur dan tidak membuat penasaran karena sekali tayang langsung selesai. Selintas saya mengamati prosesi syuting model FTV ini. Ternyata cukup rumit juga ya. Buat muncul di satu scene dalam 1 menit aja dapat menghabiskan 2 jam buat make up. Belum lagi adegan yang kurang perfect harus diulang berkali-kali. Kesanku: cukup melelahkan. Jadi, wajar saja kalo artis mendapatkan honor yang lumayan besar buat kerja yang dilakukannya.
Pukul 21.00 WIB akhirnya kami bisa bertemu Vicky Nitinegoro. Sekilas mungkin tampak sangar karena tato di tangan kirinya yang begitu penuh dan colourfull (*_^). Setelah ngobrol beberapa saat ternyata Vicky itu ramah. Meski terlihat guratan-guratan kelelahan di wajahnya tapi dia tetep asik diajak berfoto. Thanks ya, sukses buat kamu. Setelah hari ini aku mau bilang “jadi artis itu enak-enak susah” (Nb: ssttt… bbm ma fb banjir komentar).

UMK Yogyakarta Terbaru 2013



Dalam pernyataan terbaru mengenai UMK (Upah Minimum Kabupaten) atau UMR (Upah Minimum Regional) yang disahkan beberapa waktu yang lalu dinilai sudah di atas KHL (Kebutuhan Hidup Layak) di wilayah yogyakarta. Bagi para pekerja, adanya kenaikan upah ini merupakan angin segar. Hal ini dikarenakan para karyawan dapat lebih leluasa dalam menyusun estimasi pengeluaran guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Berikut data mengenai UMK dan KHL di willayah Yogyakarta.
1. Kota Yogyakarta : 
  • UMK : Rp. 1.065.247,-
  • KHL  : Rp. 1.046.514,-
2. Sleman :
  • UMK : Rp. 1.026.181,-
  • KHL  : Rp. 1.024.439,-
3. Bantul :
  • UMK : Rp.   993.484,-
  • KHL  : Rp.   965.391,-
4. Kulon Progo
  • UMK : Rp.   954.339,-
  • KHL  : Rp.   925.734,-
5. Gunung Kidul :
  • UMK : Rp.   947.114,-
  • KHL  : Rp.   924.248,-
Harapannya ke depan, kenaikan upah ini dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan yang telah berjuang demi kemmajuan perusahaan. Bagi pengusaha, harapannya dapat mematuhi keputusan yang telah ditetapkan pemerintah. Sepantasnya pengusaha sadar bahwa kebesaran usahanya merupakan salah satu bentuk sumbang sih dari para karyawan. Oleh karena itu, sudah selayaknya karyawan mendapatkan apa yang menjadi haknya karena saat ini masih banyak perusahaan yang membayar gaji karyawan di bawah UMK.

Hubungan Aksiologi dengan Linguistik Terapan



Aksiologi sangat erat hubungannya dengan linguistik terapan. Hal ini dapat dipahami bahwa pemanfaatan linguistik terapan dalam kehidupan masyarakat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan menyelesaikan tugas-tugas praktis yang menggunakan bahasa sebagai komponen inti. Munculnya plagiasi-plagiasi dalam linguistik seperti dalam penulisan karangan atau penelitian ilmiah merupakan bukti adanya penyalahgunaan dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan yang jauh dari moralitas.
Pada bahasan ontologi dan epistemologi sudah dibahas mengenai bagaimana dan seperti apa hakikat linguistik terapan (ontologi), bagaimana pemerolehannya (epistemologi), dan dalam ranah linguistik terapan fungsi aksiologis adalah sebagai landasan yang mengarahkan kepada tujuan dari kebaikan-kebaikan ilmu pengetahuan yang telah ditemukan. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita menemukan masalah anak yang terlambat berbicara atau anak yang tidak dapat berbicara layaknya anak pada umumnya. Kehadiran psikolinguistik diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut dengan mencari penyebab munculnya masalah tersebut. Selanjutnya, langkah yang dapat dilakukan adalah mencari terapi yang sesuai untuk mengatasi hal tersebut.
Dalam bidang sosiolinguistik, munculnya persoalan persaingan antarkelompok masyarakat juga dapat diselesaikan dengan adanya ilmu linguistik terapan. Penggunaan ilmu tersebut  dapat digunakan untuk mendalami permasalahan yang timbul antara dua kelompok dan menemukan solusi guna mendamaikan dua kelompok tersebut, misalnya dengan berdialog dengan masyarakat tersebut. Contohnya pada kasus suku Madura dan suku asli Kalimantan yang bertikai dalam perebutan wilayah. Penggunaan linguistik terapan dalam bidang sosioliguistik yang tidak berlandaskan asas moral dapat kita lihat pada kasus pecahnya perang Paderi di Sumatra Utara. Pada awalnya kaum adat dan kaum agama hidup berdampingan secara damai tetapi diadu domba (devide et empera) oleh Belanda. Kejadian ini bermula setelah masuknya tokoh sosiolog dalam masyarakat tersebut. Dengan kepandaiannya sebagai seorang sosiolog yang memiliki tingkat keilmuan lebih, sosiolog tersebut mendekati kaum adat dan kaum agama. Kedua belah pihak diprovokatori hingga akhirnya pecah perang saudara. Perang ini melemahkan kekuatan kedua kaum sehingga wilayah tersebut lebih mudah dikuasai Belanda.

Apakah Ilmu Bebas Nilai?



Josep Situmorang (dalam Surajiyo, 2005:84) menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu pengetahuan itu sendiri.
      Surajiyo menjelaskan ada tiga faktor yang dapat digunakan sebagai indikator bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai, yaitu:
a.       Ilmu harus bebas dari pengandaian, yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti faktor politis, ideologi, agama, budaya, dan unsur kemasyarakatan lainnya.
b.      Perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin.
c.       Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering dituding menghambat kemajuan ilmu, karena nilai etis itu sendiri bersifat universal.

Pembahasan aksiologi menyangkut masalah kegunaan ilmu secara transparan. Berkaitan dengan masalah moral dan ekses ilmu dan teknologi menurut Suriasumantri (2009:235), ilmuwan terbagi dalam dua golongan, yaitu:
a.       Golongan yang menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral  terhadap nilai-nilai baik itu secara ontologis maupun aksiologis. Dalam hal ini tugas ilmuwan adalah menemukan ilmu pengetahuan dan terserah kepada orang lain yang mempergunakannya: apakah akan digunakan untuk tujuan yang baik atau tujuan yang buruk. Golongan ini ingin melanjutkan tradisi kenetralan ilmu secara total seperti pada waktu era Galileo.
b.      Golongan yang kedua berpendapat bahwa netralitas ilmu hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan pada penggunaannya, bahkan pada pemilihan obyek penelitian, maka kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. Ilmu tidak bebas nilai, artinya pada tahap-tahap tertentu ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai moral dan budaya masyarakat sehingga nilai kegunaan ilmu itu dapat dirasakan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, bukannya bencana. Golongan ini berdasarkan beberapa hal, yaitu (a) ilmu secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya dua perang dunia yang menggunakan teknologi keilmuan, (b) ilmu telah berkembang dengan pesat dan semakin esoterik sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui tentang ekses-ekses ilmu yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan, (c) ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi genetika dan teknik perubahan sosial (sosial engineering).

      Penerapan dari ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan. Tanggung jawab etis merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tentu saja penggunaan ilmu-ilmu tersebut harus berlandaskan moral. Penggunaan ilmu harus positif yaitu untuk meningkatkan derajat kehidupan manusia. Seperti kita ketahui sekarang ini banyak ilmu yang digunakan  untuk kepentingan politik tertentu seperti pembuatan bom atom. Berita yang sedang hangat dibicarakan baik di jejaring sosial maupun media massa adalah kekacauan di Israel dan Palestina. Banyak korban terus berjatuhan, kerugian material dan non-material yang tidak sedikit membuktikan bahwa pemahaman terhadap asas pemanfaatan ilmu pengetahuan (aksiologi) sangat diperlukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Referensi
Surajiyo. (2005). Ilmu filsafat suatu pengantar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Jujun S. Suriasumantri. (2009). Filsafat ilmu: sebuah pengantar populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

LANDASAN AKSIOLOGI DALAM PENGEMBANGAN ILMU




Pengkajian terhadap suatu bidang ilmu pengetahuan harus dibangun dari landasan filsafat yang kuat, jelas, terarah, sistematis, berdasarkan norma-norma keilmuan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Filsafat ilmu merupakan kajian yang dilakukan secara mendalam mengenai dasar-dasar ilmu. Menurut Muhadjir (2011:63) filsafat ilmu dibagi menjadi tiga, yaitu: ontologi,  epistemologi, dan aksiologi.
1.    Ontologi
Ontologi membahas tentang hakikat ilmu pengetahuan yaitu membicarakan masalah ada (being) secara komprehensif. Apa yang ingin diketahui oleh ilmu? atau dengan perkataan lain, apakah yang menjadi bidang telaah ilmu tersebut.
2.    Epistemologi
Epistemologi berupaya mencari kebenaran (truth) berdasarkan fakta. Kebenaran dibangun dengan logika dan didahului oleh uji konfirmasi tentang data yang dihimpun. Epistemologi membicarakan tentang bagaimana ilmu pengetahuan itu diperoleh. Landasan epistemologi tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara memperoleh dan menyusun kerangka ilmu pengetahuan.
3.    Aksiologi
Kebenaran aksiologi adalah adalah kebenaran the right dan membangun kebenaran dalam makna the right or wrong. Landasan ini berkaitan dengan bagaimana pemanfaatan ilmu pengetahuan dalam kehidupan. Pada dasarnya ilmu harus digunakan untuk kemaslahatan umat manusia. Ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan dengan menitikberatkan pada kodrat dan martabat manusia. Untuk kepentingan tersebut, pengetahuan ilmiah yang diperoleh disusun dan dipergunakan secara komunal dan universal.
      
A.    Landasan Aksiologi
1.      Pengertian Aksiologi
            Aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti teori (ilmu). Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu axios yang berarti sesuatu yang wajar dan logos yang berarti ilmu. Jadi, dapat dipahami bahwa aksiologi adalah “teori tentang nilai”.  Menurut John sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau sebuah sistem seperti politik, sosial dan agama. Sistem memiliki rancangan  sebagaimana tatanan, rancangan, dan aturan sebagai satu bentuk pengendalian terhadap satu institusi dapat terwujud (Endraswara, 2012:146).
Aksiologi ialah bidang ilmu yang menyelidiki nilai-nilai. Brameld (dalam Endraswara, 2012:148) membagi aksiologi menjadi tiga, yaitu: 1) moral conduct, yaitu tindakan moral yang membentuk disiplin ilmu khusus yaitu etika; 2) esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan yang memformulasikan disiplin ilmu estetika; 3) socio-political life, kehidupan sosio-politik yang melahirkan filsafat sosio-politik. Nilai hasil perenungan aksiologis tersebut selanjutnya diuji dan diintegrasikan dalam kehidupan bermasyarakat.


Daftar Pustaka
Suwardi Endraswara. (2012). Filsafat ilmu: konsep, sejarah, dan pengembangan metode ilmiah. Jakarta: PT. Buku Seru.
Noeng Muhadjir. (2011). Filsafat ilmu: ontologi, epistemologi, aksiologi first order, second order & third order of logics dan mixing paradigms implementasi methodologik. Yogyakarta: Rake Sarasin.

Cara Ampuh Hindari Batu Ginjal (Part 2)




Seperti yang sudah saya ungkapkan sebelumnya bahwa batu ginjal itu sangat menyakitkan. Oleh karena itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya batu ginjal seperti di bawah ini.
1.      Hindari protein hewani yang berlebih.
2.      Banyak minum air putih.
3.      Olah raga secara teratur.
4.      Ganti makanan karbohidrat sederhana dengan karbohidrat komplek misalnya nasi putih diganti dengan nasi merah. Kurangi pula konsumsi makanan karbohidrat sederhana dan makanan yang mengandung banyak purin, seperti dalam daging, ayam, ikan, dan terutama jeroan seperti juga sosis.
5.      Bagi yang memiliki berat badan berlebih harus diturunkan.
6.      Makanan yang kaya akan magnesium dan vitamin B6 (Pyridoxin) sangat dianjurkan untuk dikonsumsi karena dapat meningkatkan pelarutan kalsium oksalat (magnesium banyak terdapat pada kacang-kacangan dan biji-bijian.
7.      Vitamin K dapat membantu pembentukan glycoprotein yang akan menghambat pembentukan kristal oksalat. Vitamin K terdapat di sayuran berwarna hijau, yaitu pada klorofil yang larut dalam lemak.
8.      Orang yang banyak minum susu dan makan obat antacid untuk menurunkan keasaman lambung dalam jangka panjang dapat mengakibatkan terbentuknya batu.
9.      Toksin yang berasal dari logam berat meningkatkan insiden batu ginjal, seperti merkuri, aluminium, dan terutama cadmium.
10.  Hindari konsumsi garam secara berlebihan.
11.  Lidah buaya dalam jumlah yang tidak menyebabkan mencret sangat baik untuk mencegah dan mengecilkan ukuran batu.

TIPS SEHAT TERHINDAR DARI BATU GINJAL ALA RIDAN (1)



Sebagai orang yang pernah menderita batu ginjal, saya merasakan betapa menyiksanya menderita penyakit ini. Perasaan perih, sakit, panas, nyeri dan segala macam rasa yang tak bisa disebutkan satu persatu. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui segala hal yang berkaitan dengan batu ginjal. Sebenarnya, penyakit batu ginjal timbul karena kesalahan gaya hidup kita terutama dalam hal makanan. Dengan kata lain, penyakit ini dapat dicegah.

Apa itu batu ginjal itu?
Secara singkat dapat digambarkan bahwa batu ginjal adalah batu yang terbentuk dari mineral/sampah yang tidak diperlukan tubuh.

Apa penyebab terbentuknya batu?
Untuk memahami itu, kita lihat dahulu sekilas tentang ginjal. Ginjal berfungsi untuk membersihkan darah. Ginjal mempunyai dua fungsi dasar:
1.      Membersihkan racun-racun dalam darah.
2.      Pada saat pembersihan, ginjal akan menyimpan unsur-unsur yang tubuh perlukan dalam jumlah yang seimbang, contohnya garam, garam yang diperlukan tubuh akan ditahan oleh ginjal dan sisanya yang tidak diperlukan akan dibuang.
Problem akan timbul ketika sampah yang harus dibuang terlalu banyak, sementara air untuk membersihkannya kurang. Jadi secara sederhana, ada dua hal penting yang harus kita lakukan untuk mencegah terbentuknya batu ginjal:
1.      Minum air. Kita harus minum sebanyak air yang dikeluarkan tubuh plus tambahan untuk melarutkan/ mengencerkan urin.Batu mudah terbentuk di urin yang terlalu pekat.
2.      Kurangi/ hindari kelebihan sampah yang harus dibuang oleh ginjal dengan memakan makanan secukupnya dan memilih makanan yang tidak banyak menyisakan sampah yang dapat membentuk batu seperti sayuran dan buah-buahan.

Honorifik (Politeness)



Kata ‘politeness’ dapat diartikan ‘kesopanan’. Meski sering disejajarkan dan dipasangkan, kata sopan dan kata santun memiliki arti yang berbeda. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata sopan sebagai sifat hormat dan takzim serta tertib menurut adat yang baik. Sementara itu, kata santun berarti sifat halus dan baik budi bahasanya serta tingkah lakunya. Dengan demikian, sopan santun dapat diartikan sebagai sifat hormat, tertib pada norma yang berlaku, halus dan baik budi bahasa, serta baik perilakunya. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki sopan santun adalah seseorang yang hormat, tertib pada norma yang berlaku, halus dan baik budi bahasa, serta baik perilakunya.
Yatim (1983:10) menjelaskan bahwa honorifik merupakan bentuk-bentuk kebahasaan yang digunakan untuk menyatakan rasa hormat dalam aturan-aturan yang bersifat psikologis dan kultural. Kridalaksana (2008:85) mendefinisikan honorik sebagai suatu bentuk lingual yang dipakai untuk menyatakan penghormatan, yang dalam bahasa tertentu digunakan untuk menyapa orang lain. Bentuk lingual yang dimaksud bisa berupa aturan gramatikal yang kompleks seperti dalam bahasa Jepang yang ditandai adanya afiksasi. Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, honorifik berkenaan dengan penggunaan ungkapan penghormatan dalam bahasa untuk menyapa orang tertentu. Berdasarkan beberapa definisi di atas, bentuk honorifik dapat dikatakan sebagai bentuk untuk menyatakan sikap kesopanan dengan tujuan untuk menghormati lawan bicara. Berikut ini beberapa contoh honorik berbagai bahasa.

1.        Honorifik  dalam Bahasa Inggris:
Yule (1996: 60) mencontohkan honorifik dalam Bahasa Inggris sebagai berikut.
(a) Excuse me, Mr. Buckingham, but can I talk to you for a minute?
(b) Hey, Bucky, got a minute?
Kalimat (a) dianggap lebih sopan dan lebih memiliki rasa hormat yang tinggi dibandingkan kalimat (b) meski maksud dari kedua kalimat tanya tersebut sama.

2.        Contoh Honorifik dalam Bahasa Jawa:
[ko[warepMev=qenDi             Kowe arep lunga menyang ngendhi? (a)
sm[PynHje=[kshdte=punDi    Sampeyan ajeng kesah dhateng pundhi? (b)
pnJeneqnB[dtindkDte=punDi                        Panjenengan badhe tindhak dhateng pundhi? (c)
Ketiga kalimat tanya tersebut memilik arti yang sama yaitu Kamu/Anda mau pergi ke mana?. Namun, berdasarkan tataran bahasa jawa tingkat kesopanan ketiga kalimat tersebut berbeda. Kalimat (c) dianggap paling sopan apabila dibandingkan dengan kalimat (b) dan (a). Sementara itu, kalimat (b) dianggap lebih sopan dibandingkan dengan kalimat (a). Dalam hal ini, honorifik dalam Bahasa Jawa sangat jelas bisa dilihat karena Bahasa Jawa mengenal aturan kebahasaan yang disebut  unda usuking basa. Aturan tersebut berupa tataran tingkatan kesopanan dan bentuk penghormatan yang bertumpu pada lawan bicara. Ngadiman (2011) menjelaskan bahwa secara garis besar, ada empat tataran Bahasa Jawa yaitu kasar, ngoko, madya, dan krama.

a.      Kasar
Basa jawa kasar adalah bahasa yang tingkat kesopanannya paling rendah. Bahasa ini biasanya dipergunakan oleh orang yang tidak berpendidikan, tidak punya sopan santun, sedang marah, atau meremehkan orang lain. Biasanya kosa kata bahasa ini cenderung kasar dan tabu. Nada bicara pemakai basa Jawa kasar dengan suara tinggi dan dibarengi ada hentakan (bentakan). Posisi tubuh pembicara tidak menunjukkan rasa simpatik dan terlihat sombong.

b.      Ngoko
Tingkat tutur ngoko mencerminkan rasa akrab (solider) antara pembicara dan mitra bicara. Artinya, pembicara tidak memiliki rasa segan, hormat, atau rasa pakewoh (sungkan) terhadap mitra bicara. Orang yang ingin menyatakan keakraban terhadap mitra bicara, atau sesamanya, tingkat ngoko inilah yang tepat untuk dipakai.

c.       Madya
Tingkat tutur madya adalah tingkat tutur menengah antara ngoko dan krama. Tingkat tutur ini menceminkan rasa sopan. Tingkat tutur ini semula adalah tingkat tutur krama tetapi sudah mengalami penurunan atau perkembangan yang lebih rendah statusnya, yang sebut kolokialisasi (menjadi bahasa sehari-hari yang tidak formal, atau perubahan dari formal menjadi tidak formal). Oleh karena itu, bagi kebanyakan orang tingkat madya ini disebut setengah sopan. Orang yang disapa dengan tingkat tutur ini biasanya orang yang tidak begitu disegani atau tidak sangat dihormati. Sebagai contoh, Sampeyan ajeng kesah dhateng pundhi?

d.      Krama
Tingkat tutur krama ialah tingkat tutur yang mencerminkan sikap sopan santun. Tingkat tutur ini menandakan adanya tingkat segan, sangat menghormati, bahkan takut. Seorang pembicara yang menganggap bahwa mitra bicaranya orang yang berpangkat, berwibawa, belum dikenal, akan menggunakan tingkat tutur ini. Murid terhadap guru, seorang bawahan kepada atasan.

3.        Contoh Honorifik dalam Bahasa Indonesia:
(a) Apakah ada yang ingin kamu tanyakan?
(b) Apakah ada yang ingin Anda tanyakan?
(c) Apakah ada yang ingin Saudara tanyakan?
Dari ketiga kalimat tanya di atas, dapat dilihat penggunaan kata ganti orang kedua yang berbeda memberikan tingkat kesopanan dan rasa hormat yang berbeda pula. Contoh lain sebagai berikut.
(a) Dia pergi lima menit yang lalu.
(b) Beliau pergi lima menit yang lalau.
Dari kedua kalimat di atas, dapat dilihat penggunaan kata ganti orang ketiga yang berbeda memberikan tingkat kesopanan dan rasa hormat yang berbeda pula. Contoh lain sebagai berikut.
(a) Maaf Pak, mohon izin ke belakang.
(b) Maaf Pak, mohon izin ke kamar kecil.
(c) Maaf Pak, mohon izin ke toilet.
(d) Maaf Pak, mohon izin ke WC.
Keempat kalimat di atas memiliki maksud yang sama tetapi kalimat (a) dianggap paling sopan dibandingkan ketiga kalimat yang lain.


Referensi:

George Yule. 1996. Pragmatics. Oxford: Oxford University Press.

Harimurti Kridalaksana. (2008). Kamus linguistik (ed. ke-4). Jakarta: Gramedia.


Yatim, Nurdin. 1983. Subsistem honorifik bahasa makasar: sebuah analisis sosiolinguistik. Ujung Pandang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian.