Jumat, 10 Maret 2017

Fungsi Iman Dalam Hak Asasi Manusia (Bagian 4)

Pada zaman dahulu pelanggaran hak-hak kemanusiaan dilakukan berkisar pada perbudakan atau diskriminasi rasial sedangkan saat ini pelanggaran hak asasi manusia lebih bersifat sistemik dan terstruktur.Banyaknya kasus pelanggaran ini mengindikasikan terdapat sistem yang tersumbat yang mengakibatkan sistem tersebut tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya dalam pelaksanaan kewajiban kepada masyarakat.Oleh karena itu, setiap eleman bangsa wajib memiliki kesadaran diri dan benteng iman yang kuat guna mengatasi berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan hak hidup yang paling hakiki tersebut.

Pergolakan berkaitan dengan hak asasi manusia hanya dapat diatasi apabila terdapat sinergi yang jelas dan berkesinambungan dari berbagai sektor baik itu dari pihak pemerintah, masyarakat secara umum, dan kesadaran individu sendiri secara khusus.Meskipun begitu, perlu diingat bahwa terlaksananya pengakuan hak-hak kemanusiaan (kebebasan) yang baik harus diimbangi dengan pelaksanaan kewajiban yang termaktub dalam ketaatan terhadap peraturan yang berlaku. Hal ini nantinya akan melahirkan sebuah komitmen yang dinamakan tanggung jawab. Oleh karena itu, penting adanya sebuah wadah atau jaringan yang luas dan dikoordinasikan sebaik mungkin agar perwujudan cita-cita hak asasi manusia di muka bumi ini memiliki pijakan dan arah yang jelas.

Pengoptimalan peran tokoh intelektual seperti kalangan akademisi baik dosen maupun mahasiswa menjadi tonggak penting bagi lahirnya penyadaran hak asasi manusia yang mantap di lingkungan kampus.Hal ini didasari kenyataan bahwa kampus merupakan salah satu wadah yang representatif dalam menyemaikan nilai-nilai kebaikan dan perspektif yang luas berkaitan dengan hak-hak kemanusiaan.Oleh karena itu, sudah selayaknya kampus-kampus baik negeri maupun swasta dapat menjadi agen of change bagi perubahan peradaban bangsa yang lebih memanusiakan manusia.Langit universitas bukan sekedar sarana untuk menyemai teori-teori tanpa aplikasi.

Implikasinya, universitas harus menjadi laboratorium kemanusiaan yang nantinya akan membidani lahirnya generasi-generasi yang lebih menyadari makna pentingnya hak asasi. Seluruh komponen civitas akademika harus dapat mendorong dan mengakomodasi kepentingan hak asasi manusia sebagai jembatan untuk menuju masyarakat Indonesia pada khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya menjadi komunitas yang berkeadilan secara utuh dan menyeluruh.

Langkah solutif pertama yang dapat dilakukan guna mendukung pengoptimalan peran tersebut adalah penyadaran akan arti penting hak asasi yang dapat dilakukan secara intern maupun ekstern. Penyadaran secara intern dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas iman dan memperkaya pengetahuan tentang hak asasi manusia.Tindakan ekstern dapat dilakukan dengan mendukung upaya pihak-pihak yang berwenang dalam penegakan hak asasi manusia dalam lingkup skala kecil maupun skala yang lebih luas.

Selain itu, basis-basis kekuatan yang bersumber dari agama, seni, kebudayaan, dan sosial dapat digunakan sebagai sarana untuk merekatkan sekaligus meningkatkan penghargaan terhadap hak asasi manusia.Selain beberapa langkah di atas, saya kira sangat perlu adanya pengawasan pihak-pihak yang memiliki kewenangan untuk mengatur sirkulasi tentang paham kemanusiaan.Dalam hal ini, setiap warga negara harus mendukung upaya pemerintah yang disokong oleh kekuatan pertahanan dan ketahanan (polisi dan TNI) negara demi bergulirnya tindakan advokasi yang positif dan konstruktif.Upaya-upaya responsif ini tentu harus disertai juga oleh tegaknyapayung lembaga negara yang bersih dan berkuatan hukum tetap dalam membela hak-hak masyarakat. Berkaitan dengan kewenangan negara, dapat ditarik sebuah benang merah bahwa hak asasi manusia harus dijamin oleh negara.Dalam pelaksanaannya, iman menjadi modal terkuat dan terpenting bagi penghargaan atas hak-hak kemanusiaan.

Dengan menyublimnya iman yang kuat pada diri manusia maka hubungan vertikal akan berjalan dengan baik. Hubungan ini juga akan mendukung pada upaya penjaminan hubungan horizontal yang pada akhirnya berkenaan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga fungsi kemanusiaan berjalan dengan baik pula. Berbagai hal tersebut dilakukan agar segala upaya dalam berbagai aspek yang berkenaan dengan hak asasi manusia tidak hilang dari panggung sejarah bangsa-bangsa di dunia.

Kemudian, apabila timbul pertanyaan: apakah hak asasi manusia sudah terjamin di abad yang ke-21 ini? Tampaknya pertanyaan ini hanya akan menjadi angin lalu tanpa adanya sinergi yang nyata dari berbagai pihak untuk mewujudkannya. Lalu siapa yang wajib menggawangi pelaksanaan hak asasi manusia tersebut? Siapa yang harus memulai untuk mendukung upaya penegakan hak asasi manusia di bumi ini? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah kita sendiri! Sebuah generasi yang kelak akan menggenggam tongkat estafet kepemimpinan dunia. Kitalah yang nantinya akanmengarahkan dan memanifestasikan penghargaan terhadap hak dasar kemanusiaan tersebutmelalui peletakan pondasi iman yang kuat sehingga dapat membangun sebuah dermaga humanistik yang lebih beriman, lebih bernurani, dan lebih memanusiakan manusia. Semoga.

Legitimasi Iman Dalam Hak Asasi Manusia (Bagian 1)

Legitimasi Iman Dalam Hak Asasi Manusia
Hak asasi manusia atau yang sering disingkat HAM sampai saat ini masih merupakan isu yang serius dan hangat di berbagai media. Bahkan, konsep hak asasi manusia yang menyentil sisi paling dasar kemanusiaan yang sering digembor-gemborkan seakan terlupakan esensinya oleh zaman. Sejarah telah mencatat berbagai kasus pelanggaran hak asasi dalam skala negara maupun tingkat dunia yang hampir tidak memiliki penyelesaian yang memuaskan. Hal ini dilatarbelakangi oleh kepentingan atau motif banyak pihak yang bercokol di dalamnya. Maraknya berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia memunculkan pertanyaan: Sampai dimana sebenarnya batas hak asasi manusia? Apakah hak asasi manusia masih dianggap penting untuk diperjuangkan?

Pengertian Hak Asasi Manusia
Berkaitan dengan pengertian hak asasi manusia, para ahli memiliki banyak penafsiran. John Locke mengungkapkan bahwa hak asasi manusia adalah hak-hak yang langsung diberikan Tuhan kepada manusia sebagai hak yang kodrati dan tidak ada kekuatan apapun di dunia yang dapat mencabutnya. Hak asasi manusia bersifat fundamental bagi kehidupan manusia dan pada hakikatnya sangatsuci. Senada dengan pendapat di atas, dapat ditarik pernyataan bahwa hak dapat disebut sebagai kekuasaan untuk melakukan sesuatu atau kepunyaan (milik) dan asasi adalah hal yang utama, dasar atau pokok. Oleh karena itu, hak asasi manusia dapat ditafsirkan sebagai seperangkat kepunyaan atau milik yang sifatnya pokok dan melekat pada diri setiap manusia sebagai anugerah yang diberikan olehTuhan sejak lahir ke dunia.

Pengertian hak asasi manusia di atas merujuk pada keyakinan bahwa manusia memiliki harkat, derajat, dan martabat yang wajib dijunjung tinggi. Persamaan ini memunculkan konsekuensi bahwa manusia harus diperlakukan dengan adil dan beradab tanpa memandang atribut yang melekat pada jenis kelamin, suku, budaya, agama, dan lain sebagainya. Akan tetapi, dalam praktik pelaksanaannya tidak sedikit yang mengatasnamakan kepentingan golongan dengan menginvasi hak-hak orang lain. Hal ini tentu menimbulkan adanya kesenjangan yang berakibat pada adanya pelanggaran hak asasi manusia. Meskipun hak-hak tersebut dapat dilanggar tetapi tidak akan pernah dapat dihapuskan. Hak asasi manusia tersebut bersifat abadi dan universal yang harus dijunjung tinggi, dilindungi, dan dihormati oleh setiap orang, negara, pemerintah, maupun hukum yang berlaku.

Jenis-Jenis Hak Asasi Manusia
Secara garis besar, hak asasi manusia dibedakan dalam enam kategori. Hak-hak tersebut antara lain:
1) hak asasi pribadi (personal rights) yang di dalamnya termasuk kebebasan beragama, mengeluarkan pendapat, dan kebebasan untuk bergerak.
2) hak asasi berpolitik (political rights) yaitu hak untuk ikut serta dalam pemerintahan baik dipilih dan memilih dalam pemilu maupun hak untuk mendirikan partai politik.
3) hak asasi ekonomi (property rights) yang terdiri dari hak untuk memiliki, memanfaatkan, dan menjual sesuatu.
4) hak asasi di bidang sosial dan kebudayaan (social and culture rights) yang di dalamnya mencakup kegiatan memilih pendidikan dan mengembangkan kebudayaan.
5) hak dalam kesetaraan di depan hukum dan pemerintahan (rights of legal equality).
6) hak asasi dalam tata cara peradilan dan perlindungan (procedural rights) bagi seluruh warga negara.

Rasionalitas Hak-Hak Kemanusiaan (Bagian 3)


Toleransi termasuk dalam ranah sensitif yang hanya dapat diperoleh dengan cara mencintai pengetahuan. Dengan pengetahuan yang mendalam seseorang tidak akan mudah menghakimi benar salah pada orang lain. Terlebih, toleransi yang merupakan salah satu sendi kemanusiaan tidak dapat dipisahkan dari iman. Wujud dari iman ini salah satunya adalah agama yang berbicara tentang cara yang dirumuskan dan dipikirkan. Pada dasarnya, semua agama mengajarkan kebaikan dan kasih sayang yang dalam penerapannya membutuhkan konteks dan tidak dapat dibaca secara harfiah.

Kepekaan berkaitan dengan dimensi waktu sangat diperlukan agar pengakuan terhadap hak-hak kemanusiaan menemui masa yang sebenarnya. Pembantaian, pembredelan agama, atau atas nama apapun demi sebuah kepentingan yang bermuatan pelanggengan kekuasaan sangat tidak dibenarkan. Terlebih propaganda berkaitan isu-isu teroris sehingga menghalalkan cara kekerasan merupakan salah satu bentuk pengerdilan terhadap hak-hak kemanusiaan. Oleh karena itu, setiap manusia harus memiliki penilaian objektif dan simultan agar isu-isu yang berkaitan dengan kemanusiaan segera mendapatkan titik terang.

Hubungan Iman dan Hak Asasi Manusia
Di tengah derasnya arus globalisasi sekarang ini, iman menjadi barang mewah yang tidak mudah ditemui di sembarang tempat. Iman adalah sumber dari segala aspek penghargaan terhadap hak hidup dan kemanusiaan. Sudah selayaknya pokok bahasan tentang kemanusiaan diprioritaskan oleh banyak pihak. Dapat dikatakan bahwa iman juga dapat difungsikan sebagai filter bagi berbagai penetapan langkah di masa depan. Hal ini berarti bahwa imanlah yang dapat menghitamputihkan masalah kemanusiaan. Pendek kata, iman merupakan landasan idiil yang paling utama bagi setiap individu agar dapat menghargai manusia lainnya.

Selain akal pikiran, iman juga dapat menjadi salah satu media untukmenyaring tindakan yang benar atau yang salah, yang destruktif atau konstruktif. Dalam penjabarannya, segala bentuk penilaian manusia tidak boleh bertumpu pada akal semata. Inilah yang sangat berbahaya karena dapat melahirkan tindakan-tindak anomi yang pada akhirnya menimbulkan dekadensi moral. Di sisi lain, apabila iman terpupuk dengan baik maka setiap orang akan lebih mudah menjalankan fungsi-fungsi vertikalnya kepada Tuhan. Selanjutnya, apabila fungsi vertikal berjalan dengan baik maka fungsi horizontal kepada sesama manusia dan lingkungan akan tercipta dengan baik secara berkesinambungan. Upaya ini pada akhirnya akan berdampak pada semakin kokohnya kesadaran terhadap hak asasi kemanusiaan. Oleh karena itu, iman setiap manusia harus dibina dengan baik melalui upaya peningkatan pengetahuan di bangku pendidikan maupun sosialisasi di dalam kehidupan bermasyarakat.


Pelanggaran Hak Asasi Manusia (Bagian 2)

                                                             
Setiap tanggal 10 Desember diperingati sebagai hari hak asasi manusia. Hal ini dapat kita runut dari sejarah dengan ditandatanganinya piagam hak asasi manusia di kota New York pada tahun 1948. Hal ini mengindikasikan sebuah pijakan yang kuat bahwa hak asasi manusia telah diakui legitimasinya di dunia internasional. Akan tetapi, pergolakan berbagai kepentingan di ranah publik telah melahirkan babak baru yang dikenal dengan pelanggaran hak asasi manusia. Pelanggaran ini terjadi akibat kelalaian terhadap kewajiban asasi yang dilakukan seseorang terhadap orang lain.

Di Indonesia, pengakuan hak asasi manusia bersumber dan bermuara pada dasar negara, yaitu pancasila. Hal ini berarti bahwa hak asasi manusia mendapat jaminan kuat dari falsafah bangsa tersebut. Selain itu, hak asasi manusia juga telah diatur dalam ketetapan MPR nomor XVII/MPR/1998 tentang hak asasi manusia serta Undang – Undang Nomor 39 Tahun 1999 yang berbunyi: "Pelanggaran HAM adalah segala tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang termasuk aparat negara baik di sengaja maupun tidak disengaja yang dapat mengurangi, membatasi, mencabut, atau menghilangkan hak asasi orang lain yang dilindungi oleh undang-undang dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak mendapatkan penyelesaian hukum yang benar dan adil sesuai mekanis mehukum yang berlaku. "Pelanggaran hak asasi manusia di bagi dalam dua kelompok, yaitu a) deskriminasi berupa pembatasan, pelecehan, dan pengucilan yang dilakukan langsung atau tidak langsung yang didasarkan perbedaan manusia atas suku, ras, etnis, dan agama dan b) penyiksaan, yaitu perbuatan yang menimbulkan rasa sakit atau penderitaan baik jasmani maupun rohani.

                                                           Contoh Pelanggaran Hak Asasi Manusia
Seperti yang kita ketahui, kasus-kasus yang diberitakan media berkaitan dengan pelanggaran hak asasi manusia dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan. Sebut saja kasus penembakan pada para mahasiswaTrisakti ketika sedang berdemonstrasi yang dilakukan oleh anggota ABRI yang dikenal dengan TragediTrisakti. Pembunuhan terhadap aktivis HAM, Munir Said Thalib yang diracun arsenikpada 7 September 2004 di dalam pesawat Garuda Indonesia yang hingga kini belum menemukan titik terang. Peristiwa Tanjung Priok tanggal12 September 1984 akibat bentroknya warga dengan anggota ABRI yang mengakibatkan sejumlah warga tewas dan luka-luka. Selain itu, tentu masih segar di ingatan kita tentang peristiwa 1965 yang memakan korban di Lubang Buaya. Daerah Aceh yang dijadikan daerah operasimiliter (DOM) tahun 1989-1998 yang memakan korban baik di pihak aparat maupun penduduk sipil yang tidak berdosa. Di tingkat dunia, semua orang dapat menyaksikan dengan jelas kasus pelanggaran hak asasi manusia di Timur Tengah, pengeboman di gereja-gereja dan pusat perbelanjaan, pembantaian terhadap ribuan rakyat ketika Hitler berkuasa, dan lain sebagainya.

Jumlah korban pelanggaran hak asasi manusia ini juga bukan persentase yang sedikit. Ribuan masyarakat Indonesia dicekam ketakutan ketika era pemerintahan Soeharto yang terkenal dengan jargon ganyang PKI menimbulkan imbas yang cukup menyakitkan bagi sebagian besar warga Jawa Tengah dan JawaTimur. Kegiatan pembersihan Gestapu menyasar desa-desa tanpa ampun. Semua orang yang dicurigai sebagai simpatisan PKI dibunuh secara keji atau dipenjara tanpa pernah diadili. Mengapa hal ini dapat terjadi? Apakah pendidikan di negeri ini begitu timpang sehingga pelanggaran semacam ini sangat mudah terjadi? Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pelanggaran hak asasi manusia terjadi karena tipisnya iman yang berakibat pada kegagalan fungsi-fungsi kemanusiaan.